Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / YANG BERTAHAN BUKAN SOLUSI, MELAINKAN GARIS POLISI: DI MANA GERAK LANGKAH MAJELIS SINODE GPIB XXII?

YANG BERTAHAN BUKAN SOLUSI, MELAINKAN GARIS POLISI: DI MANA GERAK LANGKAH MAJELIS SINODE GPIB XXII?

Jakarta, gpibwatch.id – Mengenang dua tahun yang telah berlalu, gedung gereja masih belum dapat dipergunakan karena tetap berada dalam garis polisi (police line).

Namun, kami tetap mengucap syukur. Tuhan terus menjaga semuanya dengan kuasa-Nya yang besar dan melindungi dengan cara-Nya yang ajaib. Tuhan pernah membawa Jemaat GPIB Taman Harapan kembali beribadah di Gedung Gereja Maranatha. Karena itu, kami percaya Tuhan sanggup melakukannya sekali lagi, agar jemaat dapat kembali beribadah di tempat yang telah menjadi rumah iman mereka.

Kuatkan hati. Teguhkan iman. Terus saling menguatkan dan menopang dalam kasih yang tak pernah pudar. “Ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging,” ungkap Pdt. Ruth Susana Kamau di Singaraja, 6 Juli 2026, melalui akun Facebook pribadinya.

Sebagai sesama warga jemaat GPIB, rasa simpati dan empati tidak pernah terputus terhadap persoalan yang berkepanjangan ini. Sebuah persoalan yang semestinya dapat diselesaikan dengan semangat iman, kebijaksanaan, dan kedewasaan. Lalu, di manakah letak persoalannya?

Agama-Agama Akan Bubar. Benarkah?

Di mana peran, fungsi, dan tanggung jawab Majelis Sinode GPIB XXII dalam mengupayakan penyelesaian masalah yang begitu rumit dan tak kunjung berakhir ini? Sudah sejauh mana langkah penyelesaiannya? Bagaimana perkembangan upaya yang ditempuh, baik melalui pendekatan internal maupun jalur hukum yang berlaku?

Tangisan, air mata, dan luka hati seakan belum menemukan ujungnya. Kerinduan untuk kembali berpijak di rumah Tuhan, memuji dan memuliakan nama-Nya, masih tertahan oleh kenyataan bahwa garis polisi tetap berdiri di depan mata. Itulah kerinduan yang juga disampaikan Pdt. Ruth, yang pernah melayani sebagai KMJ GPIB Jemaat Taman Harapan, Jakarta Timur.

Setiap kali kami melewati tempat yang penuh kenangan iman itu, hanya bisikan lirih yang mampu terucap, “Kapan kami dapat kembali beribadah?”

Kini saatnya Majelis Sinode GPIB XXII menunjukkan aksi nyata: memberi perhatian yang lebih serius, terus bergerak, dan menghadirkan solusi yang tepat. Jemaat GPIB Taman Harapan masih menanti. Mampukah Sinode menjawab harapan itu, ataukah semuanya akan terus tertahan dalam ketidakpastian?

 

AKU MULAI TUA: Refleksi Menjelang HUT ke-16 PKLU GPIB

Tidak ada persoalan yang mustahil diselesaikan, dan tidak ada kasus yang tidak dapat ditangani. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melangkah, keberanian untuk bertindak, tangan yang terbuka untuk melayani, serta pikiran yang jernih untuk menuntaskan persoalan.

Tuhan pasti membuka jalan. Kapan waktunya, kita memang tidak mengetahuinya. Namun selama ada kemauan untuk berusaha dan mengerjakannya, selalu ada harapan.

Where there is a will, there is a way. /JP