Opini
Home / Opini / Refleksi Kontekstual: Adilkah? Setarakah? Bersihkah?

Refleksi Kontekstual: Adilkah? Setarakah? Bersihkah?

Pelayanan yang dibangun dengan hasil penyimpangan tidak pernah menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan….

Bekasi, gpibwatch.id — Di luar konteks Bilangan 27, pertanyaan yang sama patut kita ajukan kepada diri sendiri.

Perjuangkanlah Keadilan dan Kesetaraan: Jangan Diam!

Sudahkah pelayanan kita—baik di tingkat jemaat, klasis, sinodal, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara—benar-benar mencerminkan keadilan dan kesetaraan? Sudahkah setiap keputusan dijalankan berdasarkan tata gereja, aturan, dan mekanisme yang berlaku, atau masih diwarnai oleh pilih kasih, kedekatan pribadi, kepentingan kelompok, serta praktik yang mengabaikan objektivitas?

Berbicara tentang keadilan dan kesetaraan tidak boleh berhenti sebagai tema khotbah atau diskusi. Nilai-nilai itu harus terus digaungkan, sekalipun jalan menuju perubahan sering kali tidak mudah.

Suara kenabian tidak boleh dibungkam hanya karena mengusik kenyamanan. Justru suara itulah yang diperlukan agar kehidupan pelayanan, kehidupan bergereja, dan kehidupan berbangsa terus berani melakukan introspeksi.

Ketika Kopi Toraja Menembus Dunia: Antara Komoditas dan Identitas Budaya

Adil dan setara bukan sekadar slogan. Keduanya harus tampak dalam tindakan nyata. Artinya, tidak melakukan penyimpangan, tidak menyalahgunakan jabatan dan kepercayaan, tidak melakukan korupsi, tidak memperkaya diri maupun kelompok, tidak membangun budaya nepotisme, serta tidak memamerkan kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Pelayanan yang dibangun dengan hasil penyimpangan tidak pernah menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan.

Penolakan Gereja, Mungkin Kita Sedang Membangun Menara Babel, Unifikasi Bisa Jadi Solusi

Pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Demikian pula, secanggih apa pun manusia menyembunyikan penyimpangan, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya, dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat.

Karena itu, jangan pernah memberi makan keluarga dengan hasil korupsi atau penyalahgunaan kepercayaan. Jangan membawa hasil penyimpangan untuk membangun pelayanan atau lembaga. Tuhan tidak membutuhkan persembahan yang berasal dari ketidakjujuran. Yang dikehendaki-Nya adalah hati yang bersih, tangan yang jujur, dan kehidupan yang berintegritas.

Maka pertanyaan itu kembali menggema kepada setiap kita: Adilkah? Setarakah? Bersihkah?

Jawabannya bukan untuk orang lain. Jawabannya ada pada hati nurani kita masing-masing di hadapan Tuhan.

Sebab pada akhirnya, bukan jabatan, kekuasaan, kedekatan, ataupun popularitas yang akan dinilai Allah, melainkan integritas, kejujuran, keadilan, dan kesetiaan dalam menjalankan amanat yang dipercayakan-Nya.

Jangan diam ketika keadilan dilukai. Jangan diam ketika kesetaraan diabaikan. Jangan diam ketika korupsi merusak sendi-sendi pelayanan, kehidupan bermasyarakat, dan kehidupan berbangsa. Sebab Tuhan berpihak kepada mereka yang memperjuangkan kebenaran dengan kasih, hikmat, dan keberanian.

Anda yang berbuat, Anda pula yang akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.

Catatan Reflektif – JP