Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / DIAM BUKAN BERARTI LEMAH: Belajar Kepemimpinan dari Bung Nitis

DIAM BUKAN BERARTI LEMAH: Belajar Kepemimpinan dari Bung Nitis

Kepemimpinan yang berkualitas bukan diukur dari seberapa keras suara yang terdengar, melainkan dari seberapa besar keberanian mengambil keputusan yang benar demi menjaga martabat gereja dan kesaksian pelayanan….

JAKARTA, gpibwatch.id – Pemimpin yang diam, tenang, dan tidak banyak bicara sering kali disangka lemah. Padahal, gaya ini dikenal sebagai silent leadership atau quiet leadership, yaitu cara memimpin yang efektif melalui pengendalian diri, ketajaman dalam mengamati, serta kemampuan berbicara seperlunya namun berdampak besar. Pemimpin seperti ini mampu menganalisis berbagai persoalan dengan tenang dan berwibawa, tanpa perlu menonjolkan diri seolah-olah dialah yang paling berkuasa.

Pemimpin gereja boleh tenang dan diam dalam hal personal, namun tidak boleh diam terhadap ketidakadilan atau dosa. Diam yang salah adalah diam karena takut mengambil risiko atau mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran, yang pada akhirnya membuat gereja kehilangan relevansi moralnya.

Di sinilah tantangan kepemimpinan gereja saat ini. Tatkala muncul persoalan di dalam gereja, di situlah kita bisa melihat kualitas kepemimpinan yang diam, yakni kepemimpinan yang mampu mengelola berbagai persoalan atau kejadian berat yang menyangkut martabat dan harkat suatu lembaga.

Setiap orang, setiap jemaat, tentu memiliki cara pandang terhadap seseorang dalam memimpin suatu lembaga sinodal yang besar. Perbedaan persepsi adalah hal yang wajar dan tidak ada larangan untuk memiliki penilaian masing-masing, sepanjang disampaikan dalam koridor yang santun, objektif, dan membangun. Tulisan ini merupakan refleksi serta pengamatan pribadi penulis, yang tentu terbuka untuk diperkaya oleh sudut pandang pembaca lainnya.

Edisi Agustus 2026

Dalam kesederhanaan, penulis berkesempatan bertemu dengan Ketua Umum Majelis Sinode GPIB XXII, Pdt. Nitis Putrasana Harsono, pada 5 Agustus 2026, menggunakan KRL Commuter Line jurusan Manggarai–Gondangdia. Tentunya kami tidak berdiskusi terlalu panjang. Percakapan hanya menyentuh persoalan kelembagaan yang cukup sensitif, di samping beberapa hal lain di luar konteks kelembagaan.

Dalam pertemuan tersebut, penulis memperoleh pelajaran dari seorang pemimpin yang tenang, tidak terlalu banyak bicara, dan berbicara apa adanya. Walaupun dalam konteks pertemuan tersebut beliau tetap lebih berhati-hati dalam berbicara, namun sejujurnya begitulah karakter Bung Nitis yang selama ini penulis amati, baik melalui pertemuan langsung maupun komunikasi melalui WhatsApp.

Yang patut diapresiasi, menurut penulis, adalah kesederhanaan serta karakter kepemimpinannya yang kuat. Beliau mampu membuat keputusan yang tegas dan bertanggung jawab. Tentunya beliau tidak sendiri, melainkan bersama-sama secara kolektif-kolegial dalam sistem presbiterial-sinodal. Apabila selama ini masih ada keraguan terhadap kemampuan kepemimpinan dalam mengambil keputusan yang elegan, kini setidaknya mulai terlihat dalam praktik dan realitasnya.

Dalam perspektif pelayanan bergereja dan teologi Kristen, para pakar menyebut gaya memimpin yang diam, tenang, dan tidak banyak bicara ini sebagai Servant Leadership (Kepemimpinan Hamba) atau Intentional Pastoral Leadership (Kepemimpinan Pastoral yang Intensional). Model kepemimpinan seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan pelayanan, baik di lingkup jemaat maupun lingkup sinodal.

Majelis Sinode GPIB XXII telah memiliki karakter kepemimpinan seperti itu. Tinggal bagaimana dukungan seluruh rekan pelayanan dalam kepemimpinan kolektif-kolegial sehingga setiap keputusan dapat diambil secara matang, bijaksana, penuh musyawarah, adil, transparan, serta bertanggung jawab.

AMORAL SEX: Rayuan Maut di Balik Relasi

Yang lemah, yang diam, yang tenang bukan berarti tidak mampu memimpin. Justru dalam ketenangannya, seorang pemimpin mampu menganalisis persoalan, mengelola keadaan, serta mengendalikan dirinya sendiri.

Ia tidak mengandalkan retorika atau sekadar berandai-andai, tetapi menghadirkan keputusan yang nyata dan bertanggung jawab, walaupun suara-suara bising terus merajalela.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang berkualitas bukan diukur dari seberapa keras suara yang terdengar, melainkan dari seberapa besar keberanian mengambil keputusan yang benar demi menjaga martabat gereja dan kesaksian pelayanan. – JP