Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / Tantrum Rohani: Ketika Kritik Membuat Emosi Memimpin

Tantrum Rohani: Ketika Kritik Membuat Emosi Memimpin

Adakah tantrum di pelayanan kita di GPIB? Adakah emosi yang tak terkendali ketika disentuh atau disenggol mengenai pelayanannya? Adakah kedewasaan dalam bertindak walaupun jam terbang pelayanan sudah begitu lama? Adakah faktor-faktor tertentu yang turut memengaruhinya?…

Bekasi, gpibwatch.id – Tantrum adalah ledakan emosi yang muncul saat keinginan seseorang tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat dikenali dengan munculnya gejala berupa raut wajah tegang, berbicara dengan nada tinggi dan suara keras, gelisah, frustrasi, marah, serta gerakan tubuh yang menunjukkan ketidakstabilan emosi.

Refleksi Kontekstual: Adilkah? Setarakah? Bersihkah?

Tantrum kebanyakan ditemukan pada anak-anak, namun dapat juga terjadi pada orang dewasa. Tantrum pada orang dewasa bukan sekadar masalah emosi biasa, tetapi dalam beberapa kasus dapat menjadi tanda adanya gangguan psikologis tertentu. Bahkan, tidak jarang tantrum diwujudkan dalam bentuk perilaku agresif, baik melalui kata-kata maupun tindakan yang dapat melukai orang lain dan merusak hubungan.

Tantrum pada orang dewasa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pola asuh yang kurang tepat pada masa kanak-kanak, pengalaman kekerasan fisik maupun verbal, gangguan mental tertentu, tekanan hidup yang berat, maupun penyalahgunaan obat-obatan.

Karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi hal yang sangat penting agar kemarahan tidak berkembang menjadi sesuatu yang destruktif.

Perjuangkanlah Keadilan dan Kesetaraan: Jangan Diam!

Di sisi lain, dalam dunia pelayanan, khususnya bagi kita yang melayani sebagai pendeta, ketua majelis jemaat, majelis jemaat, maupun jemaat, pernahkah kita mengalami atau menemukan gejala yang menyerupai keadaan tersebut?

Sebab tidak semua tantrum muncul dalam bentuk kemarahan yang terlihat. Ada kalanya ia hadir dalam bentuk sulit menerima kritik, mudah tersinggung, atau kecenderungan membiarkan emosi memimpin respons dan keputusan pelayanan.

Ketika Kopi Toraja Menembus Dunia: Antara Komoditas dan Identitas Budaya

Tak kala kita sebagai pendeta atau ketua majelis jemaat yang memiliki peranan penting dalam memimpin jemaat, tentunya kondisi psikologis yang sehat menjadi sesuatu yang perlu dijaga.

Tidak ada salahnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, bukan hanya yang bersifat fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan psikologis secara menyeluruh dan bertahap.

Hal ini sangat berpengaruh terhadap seorang stakeholder atau pemimpin jemaat yang dalam pelayanannya dituntut memiliki pendekatan yang alkitabiah dan pastoral. Seorang pemimpin jemaat idealnya memiliki sikap yang tenang, tidak mudah meledak-ledak dalam mengambil atau memutuskan suatu persoalan, serta mampu menerima kritik dan koreksi terhadap keputusan yang diambil, baik secara pribadi maupun secara kolektif.

Diperlukan seorang pemimpin jemaat, pendeta, maupun ketua majelis jemaat yang memiliki kepribadian yang baik dan tidak tebang pilih dalam menerapkan kebijakan. Seorang pemimpin juga perlu memiliki kemampuan untuk melihat kritik dan koreksi sebagai sesuatu yang membangun, bukan sesuatu yang merusak atau mengancam dirinya.

Dengan demikian, ketika menerima kritik, tidak muncul reaksi yang menyerupai tantrum sehingga kehilangan kemampuan untuk membedakan antara masukan yang membangun dan serangan yang memang bertujuan merusak.

Pertanyaannya, adakah tantrum di pelayanan kita di GPIB? Adakah emosi yang tak terkendali ketika disentuh atau disenggol mengenai pelayanannya? Adakah kedewasaan dalam bertindak walaupun jam terbang pelayanan sudah begitu lama? Adakah faktor-faktor tertentu yang turut memengaruhinya?

Jawabannya ada pada masing-masing kita.

Yang pasti, tantrum tetap dapat hadir di sekitar pelayanan kita. Namun jangan sampai tantrum merusak harmonisasi, kesucian, dan sukacita persekutuan. Jadikan setiap gejolak emosi sebagai kesempatan untuk melakukan evaluasi diri dan evaluasi kinerja kepemimpinan, agar tantrum tidak berkembang dan dapat dicegah sejak dini.

Dengan demikian, tata layan gereja tetap terjaga, baik dalam hubungan personal secara private, hubungan kelembagaan dalam lingkup jemaat, lingkup sinodal, maupun dalam relasi yang lebih luas dengan masyarakat dan sesama lintas iman.

Pelayanan yang dewasa bukan ditandai oleh tidak adanya kritik, melainkan oleh kemampuan menerima kritik tanpa kehilangan hikmat, kasih, dan pengendalian diri.

JP