Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / Dari Mimbar ke Kalkulator: Tuhan Memanggil, Rekening Berunding — Panggilan Ilahi atau Panggilan Doi?

Dari Mimbar ke Kalkulator: Tuhan Memanggil, Rekening Berunding — Panggilan Ilahi atau Panggilan Doi?

Ukuran apa yang ada di benak mereka sampai takut mutasi? Apa jemaat besar dan jemaat kecil? Lantas ada apa dengan besar dan kecil? Doi? Beta mau bilang selama melayani justru di jemaat kecil beta dapat ketulusan kasih, baik sikap maupun materi. Jadi kenapa banyak alasan? Pdt. John Wadu, masa emeritus (Facebook, 2026)

Jakarta, gpibwatch.id —Menarik menyimak pernyataan beliau yang dapat menjadi bahan perenungan bagi para pendeta yang sering kali merasa berat ketika menghadapi mutasi atau alih tugas pelayanan.

Pesona Griya Krida Sekesalam, Dulu “Fifty-Fifty” Sekarang O.k Punya

Tentu banyak pertimbangan yang muncul dalam benak seorang pendeta maupun Ketua Majelis Jemaat. Sebagian mungkin bersifat manusiawi, berkaitan dengan penyesuaian hidup dan keluarga. Namun pertanyaannya, apakah pertimbangan itu masih berada dalam koridor panggilan iman, atau justru lebih banyak digerakkan oleh kenyamanan dan kepentingan pribadi?

Di titik inilah panggilan pelayanan sering diuji. Mimbar yang seharusnya menjadi ruang ketaatan kepada kehendak Tuhan dapat bergeser menjadi kalkulator yang sibuk menghitung untung-rugi, nyaman-tidak nyaman, cukup-tidak cukup.

Persoalan mutasi pendeta memang tidak sesederhana memindahkan seseorang dari satu jemaat ke jemaat lain. Ketika perpindahan terjadi dari jemaat besar ke jemaat kecil, sering kali muncul berbagai perhitungan: apakah kesejahteraan akan berkurang, apakah kebutuhan keluarga akan tercukupi, dan berbagai kalkulasi lainnya.

Jangan Takut Berbeda Pendapat dengan Ketua Majelis Jemaat, Takutlah kepada Tuhan

Padahal, dalam panggilan pelayanan, yang utama bukanlah hitungan untung dan rugi, melainkan ketaatan kepada Dia yang mengutus. Jika Tuhan yang mengutus, maka Tuhan pula yang mencukupkan.

Sebaliknya, perpindahan dari jemaat kecil ke jemaat besar kerap menghadirkan euforia tersendiri. Ada rasa bangga, ada kenyamanan yang lebih besar, bahkan ada kesempatan menikmati fasilitas yang sebelumnya tidak tersedia. Terlebih bagi mereka yang telah lama melayani di daerah Pos Pelkes dengan segala keterbatasannya, di mana kreativitas, ketekunan, dan pengorbanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Liberté, Égalité, Fraternité dan Ruang Perbedaan

Tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan materi sering menjadi momok bagi mereka yang telah terbiasa berada di jemaat besar. Fasilitas tersedia, berbagai kebutuhan terjamin, dan banyak hal terasa lebih mudah.

Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah pelayanan dijalankan dengan ketulusan hati karena panggilan Kristus, atau karena kenyamanan yang menyertainya? Apakah yang menjadi pertimbangan utama adalah kehendak Tuhan atau angka-angka yang ada di atas kertas? Jawaban atas pertanyaan itu tentu hanya dapat diberikan oleh mereka yang menjalaninya.

Bagaimana dengan para pendeta GPIB? Pertanyaan reflektif ini tentu layak diajukan. Adakah yang tanpa sadar larut dalam kenyamanan, fasilitas, bahkan “dinina-bobokan” oleh kelimpahan materi?

Ataukah sebaliknya, tetap memilih melayani dengan sepenuh hati, meskipun harus berada dalam keterbatasan? Sosok seperti ini tentu masih ada, walaupun di era modern yang penuh tantangan, ketika keinginan untuk memiliki dan mempunyai sering kali menjadi ukuran keberhasilan hidup.

Mari merenungi sejenak, sudah sejauh mana kita melayani. Apakah kita tergolong dalam kelompok sosialita atau berorientasi pada the have, tanpa kepekaan, simpati, dan empati terhadap mereka yang dilayani? Jawabannya ada pada hati nurani setiap hamba Tuhan.

Apa yang disampaikan Ama Jo Wadu menjadi pengingat yang patut direnungkan. Pengakuannya bahwa ia memperoleh ketulusan kasih, baik dalam sikap maupun materi, saat melayani di jemaat kecil merupakan sebuah kesaksian yang berbicara lebih keras daripada berbagai argumentasi.

Kasih dan penghargaan jemaat ternyata tidak selalu ditentukan oleh besar kecilnya jumlah anggota ataupun kekuatan finansial sebuah jemaat.

Pada akhirnya, istilah jemaat besar dan jemaat kecil seharusnya tidak menjadi ukuran utama dalam pelayanan. Jika seorang pendeta ditempatkan sesuai aturan dan keputusan sinodal yang telah disepakati bersama, maka yang dituntut adalah kesiapan untuk menjawab panggilan Tuhan dengan setia.

Sebab pelayanan sejatinya adalah tentang ketaatan kepada Sang Pengutus, bukan tentang mencari tempat yang paling nyaman, paling aman, atau paling menguntungkan.

Sebelum menunjuk mimbar orang lain, penulis pun harus berani memeriksa kalkulatornya sendiri.

Ketika panggilan Ilahi mulai dikalahkan oleh panggilan materi, maka yang berpindah bukan hanya tempat pelayanan, tetapi juga arah hati pelayanan itu sendiri.

JP