Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / Ketika Kritik Berkulit Duri Duren – Menusuk Siapa Saja, Termasuk Fungsionaris

Ketika Kritik Berkulit Duri Duren – Menusuk Siapa Saja, Termasuk Fungsionaris

Adakah Duren yang tajam dalam pelayanan GPIB? Silakan Anda menjawabnya sendiri….

Jakarta, gpibwatch.id – Secara etimologi, nama durian berasal dari kata Melayu duri, yang merujuk pada banyaknya duri tajam pada kulitnya, dikombinasikan dengan akhiran pembentuk kata benda – an.

Dari Mimbar ke Kalkulator: Tuhan Memanggil, Rekening Berunding — Panggilan Ilahi atau Panggilan Doi?

Makan durian secara berlebihan harus diwaspadai, terutama bagi pengidap diabetes karena kandungan gulanya yang tinggi, penderita penyakit ginjal karena kadar kaliumnya, serta mereka yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung. Selain itu, durian juga mengandung gas yang dapat memicu masalah asam lambung dan perut kembung.

Tentunya, berbagai efek yang timbul setelah mengonsumsi durian memerlukan perhatian khusus bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.Dalam konteks pelayanan, durian dengan duri tajam pada kulitnya seakan menyampaikan bahwa ia bisa setajam silet dalam mengungkapkan sesuatu yang membuat telinga panas, terutama ketika menyampaikan kritik dan koreksi.

Para pelayan pun perlu siap sedia, semanis isi dan setajam kulit durian, untuk menerima berbagai pandangan dan persoalan yang berbeda.

Pesona Griya Krida Sekesalam, Dulu “Fifty-Fifty” Sekarang O.k Punya

Tak jarang para pelayan maupun fungsionaris, dengan senyum, tawa, dan semangat kebersamaan, memperlihatkan serta menikmati durian bersama. Betapa lekker rasanya, seakan ketajaman dinamika pelayanan menghilang sejenak, tertutup oleh manisnya kebersamaan.

Namun duren tetaplah duren. Dengan ketajaman kulitnya, buah ini tidak tebang pilih. Ia tidak memilih orang, tidak memilih jabatan, dan tidak memilih kedudukan. Duri-durinya mampu menusuk jauh ke dalam melalui narasi yang disampaikannya, tanpa tedeng aling-aling, hingga terkadang membuat pelayan maupun fungsionaris merasa tergores. Bahkan, jika tidak dikelola dengan bijaksana, luka itu dapat bertahan lebih lama daripada yang diduga.

Jangan Takut Berbeda Pendapat dengan Ketua Majelis Jemaat, Takutlah kepada Tuhan

Duren akan terus memberikan saran dan mencermati berbagai dinamika pelayanan, baik yang diperoleh secara langsung melalui media maupun secara tidak langsung melalui berbagai peristiwa yang dapat dilihat dan diamati. Ketika ada hal-hal yang dianggap tidak sejalan dengan tata kelola gereja maupun aturan yang berlaku, kritik dan pertanyaan akan tetap muncul.

Selagi musimnya, mari menikmati duren dengan segala manfaat dan konsekuensinya. Mari menikmati manisnya buah ini sambil belajar mengendalikan diri dalam menyikapi kritik dan perbedaan pandangan.

Sebab jalan pelayanan tidak selalu mulus. Ada jalan yang hanya berisi pasir dan batu, ada yang penuh kerikil, bahkan ada pula yang bergelombang.

Duren akan terus mengingatkan bahwa perbedaan gagasan dan persepsi akan selalu ada. Karena itu, integritas dalam pelayanan harus dijunjung tinggi, bukan hanya ketika keadaan nyaman, tetapi juga ketika menghadapi kritik yang tajam.

Pelayanan bukan sekadar mencari keuntungan sesaat atau ketenaran semata, melainkan menghadirkan tanggung jawab dan keteladanan.

Pada waktunya, duren akan tetap berkiprah, melangkah, dan bekerja dengan ketajaman visinya ketika menemukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan kaidah, melanggar aturan, atau bertentangan dengan asas yang seharusnya dijunjung bersama.

Adakah Duren yang tajam dalam pelayanan GPIB? Silakan Anda menjawabnya sendiri.

Sementara itu, duren akan kami santap bersama lewat selfie dan wefie. Sebab di balik manisnya isi durian, selalu ada duri yang mengingatkan bahwa pelayanan yang sehat bukanlah pelayanan yang bebas kritik, melainkan pelayanan yang tetap setia menjaga integritas, meski sesekali harus menerima tusukan dari duri yang mengoreksi.

JP