Kopi pahit habis di dasar cangkir. Pelayanan pahit sering kali menetap di dalam relasi…
Jakarta, gpibwatch.id – Kopi boleh pahit. Bahkan bagi sebagian orang, justru di situlah letak kenikmatannya. Namun pelayanan jangan pahit. Sebab kepahitan dalam pelayanan ibarat pohon mahoni yang akarnya menjalar diam-diam, tetapi perlahan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya. Dampaknya tidak baik bagi persekutuan yang tujuan utamanya adalah mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan Allah.
Kopi pahit dan pelayanan yang pahit tentu tidak muncul begitu saja. Selalu ada sebab dan akibat, selalu ada benang merah, selalu ada pemicu. Tidak jarang pula terdapat ruang pemahaman yang berbeda dalam menangkap dan memahami persoalan yang timbul. Persoalan itu dapat muncul dalam ranah pelayanan, tetapi dapat pula berasal dari luar pelayanan yang kemudian ikut menyenggol kemampuan seseorang dalam memimpin organisasi sinodal maupun lingkup jemaat.
Pelayanan yang pahit bisa saja timbul, dan sering kali memang timbul. Bahkan tidak jarang persoalan yang muncul tidak pernah benar-benar selesai, melainkan berubah menjadi akar pahit di antara relasi personal. Hal ini sangat mungkin terjadi, baik di dalam lingkaran Presbiter, antar pelayan, maupun antara Ketua Majelis Jemaat dan jemaat yang dilayaninya.
Ketersinggungan dan kemarahan dalam pelayanan sering kali terjadi. Namun tidak sedikit yang kemudian bertopeng di balik alasan “pekerjaan Tuhan”, sehingga ekspresi dapat dikendalikan. Akan tetapi, tindakan yang lahir dari rasa kecewa atau kemarahan belum tentu berhenti. Rasa hormat tetap diperlihatkan di permukaan, tetapi tindakan tertentu dapat saja terus berlangsung sebagai bentuk pelampiasan atau pembalasan yang terselubung.
Kopi pahit dan pelayanan pahit tetap ada dan berlaku secara sinodal maupun jemaat, serta dapat terus berlanjut ketika para stakeholder tidak mampu mengendalikan diri, memahami persoalan secara utuh, dan sangat alergi terhadap masukan yang satir. Tidak jarang pula muncul sikap narsistik yang membuat seseorang merasa seolah-olah setiap kritik dan masukan selalu tertuju kepada dirinya.
Tidak semua kritik melahirkan kepahitan, tetapi hampir setiap kepahitan selalu menolak kritik…
JP
