Jika gereja menutup diri, gereja mungkin mampu mempertahankan identitasnya, tetapi berisiko kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Jika gereja terlalu mengikuti perubahan zaman tanpa pijakan yang jelas, gereja dapat kehilangan jati dirinya sebagai komunitas yang berakar pada Injil…
Makassar,gpibwatch.id – Di tengah masyarakat yang semakin plural, gereja menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa lalu. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, dan perjumpaan dengan berbagai budaya serta keyakinan membuat kehidupan manusia semakin terbuka.
Dalam situasi seperti ini, bagaimana gereja tetap setia pada imannya tanpa kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan dunia di sekitarnya?
Sosiolog Peter L. Berger menggambarkan agama sebagai The Sacred Canopy atau “kanopi suci”, yaitu sebuah bangunan makna yang memberi arah, ketertiban, dan kepastian bagi kehidupan manusia.
Namun, dalam masyarakat modern, “kanopi” itu tidak lagi tunggal. Berbagai agama, ideologi, dan pandangan hidup hadir berdampingan, sehingga setiap institusi keagamaan dituntut untuk menemukan cara baru dalam menjalankan misinya.
Di sinilah gereja menghadapi sebuah dilema. Jika terlalu menutup diri, gereja mungkin mampu mempertahankan identitasnya, tetapi berisiko kehilangan relevansi di tengah masyarakat. Sebaliknya, jika terlalu mengikuti perubahan zaman tanpa pijakan yang jelas, gereja dapat kehilangan jati dirinya sebagai komunitas yang berakar pada Injil.
Peter Berger menunjukkan bahwa respons terhadap pluralitas umumnya bergerak ke dua arah. Ada gereja yang mempertegas batas-batas identitas agar tidak terpengaruh oleh dunia luar. Ada pula yang memilih menyesuaikan diri dengan nilai-nilai masyarakat demi mempertahankan penerimaan publik. Namun, kedua pendekatan tersebut dapat menjadi masalah apabila dilakukan secara berlebihan.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, gereja justru dipanggil menempuh jalan yang lebih arif. Gereja tidak harus kehilangan identitas untuk membangun persahabatan. Sebaliknya, identitas yang kokoh justru menjadi dasar untuk berdialog secara dewasa dengan siapa pun.
Keterbukaan bukan berarti mengurangi iman, melainkan menghadirkan iman melalui sikap yang menghormati sesama. Gereja tetap memberitakan Injil, tetapi juga bersedia bekerja sama dalam bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan, dan upaya membangun kehidupan bersama yang damai.
Masyarakat lebih mudah mempercayai gereja yang hadir melalui tindakan daripada sekadar pernyataan. Ketika gereja ikut merasakan penderitaan masyarakat, menolong tanpa membedakan latar belakang, serta membangun dialog yang tulus, gereja sedang memperlihatkan bahwa kasih Kristus mampu menjembatani berbagai perbedaan.
Pada akhirnya, identitas Kristen bukan dibangun oleh tembok yang semakin tinggi, melainkan oleh kasih yang semakin luas. Gereja tetap setia pada keyakinannya, tetapi tidak menutup pintu bagi dialog. Gereja memegang teguh imannya, sekaligus menghormati martabat setiap manusia sebagai ciptaan Allah.
Di tengah kemajemukan, gereja tidak dipanggil untuk menjadi komunitas yang terasing, melainkan menjadi sahabat bagi masyarakat. Justru ketika identitas dan keterbukaan berjalan berdampingan, gereja akan semakin relevan sebagai pembawa damai dan pengharapan.
Bersambung…
Pada artikel berikutnya, kita akan melihat bagaimana Max Weber memandang gereja bukan hanya sebagai komunitas iman, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk etos kerja, pelayanan, dan perubahan sosial di tengah masyarakat majemuk.
Charles J. Manuputty (Sosiolog) – JP

