Kenapa harus hidup kudus? ”Karena kita telah dibeli dengan harga yang sangat mahal.”
BOGOR, gpibwatch.id – Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) melakukan utus sambut pendetanya di Jemaat GPIB Sola Gratia Bogor Minggu 12 Juli 2026. Ibadah alih tugas tersebut dilayani oleh Ketua IV Majelis Sinode Penatua Luwy Lenufna.
Pendeta yang dialihtugaskan tersebut Adalah Pendeta Ivan Dynamika mutasi ke GPIB Horeb Jakarta Selatan dan Pendeta Megiawati M. Gantare menempati GPIB Sola Gratia Bogor yang sebelumnya adalah Ketua Majelis Jemaat di GPIB Ebenhaezer Palangkaraya Kalteng.

Penatua Luwy dalam renungannya mengajak untuk hidup kudus dihadapan Tuhan. “Kita Harus hidup Kudus,” tandas Luwy.
Seperti dilansir dalam laman youtube GPIB Sola Gratia Bogor, Luwy mengatakan, kekudusan itu bukan pilihan, bukan sesuatu yang voluntary. Kekudusan itu adalah panggilan bagi setiap orang percaya yang telah diselamatkan oleh Kristus untuk terus menerus sepanjang hidup.
“Kekudusan mesti diawali dengan cara pikir kita yang benar, akal budi yang tertuju kepada Kristus sang Maha Kudus itu, tanpa itu mustahil,” kata Luwy menunjuk teori psikologi yang dikenal dengan cognitive behavior.
Dikatakan, cognitive behavior apa yang dipikirkan akan terjadi proses internalisasi menjadi sesuatu yang dirasakan kemudian berlaku di perilaku.
”Proses berpikir seperti itu sangat alamiah dan itulah yang terjadi yang Kita pikirkan sulit, yang kita pikirkan kita tidak mampu maka jadinya pasti rasa kita perilaku kita tidak mempu mewujdkan itu. Kekudusan, mustahi bagi saya maka kita akan sulit menjalani proses pengudusan itu bersama Allah karena segala sesuatu berawal dari cara pikir kita,” tutur Luwy.
Warga Jemaat GPIB Petra ini mengatakan, kenapa harus hidup kudus? ”Karena kita telah dibeli dengan hargs yang sangat mahal. Kita tidak ditebus dengan barang yang fana seperti perak atau emas melainkan dengan darah Kristus.”
Dikatakan, sesorang yang terjatuh kedalam dosa telah tertawan oleh dosa dan butuh sosok lain untuk membebaskan.
”Sejak kita jatuh ke dalam dosa maka kita sudah tertawan oleh dosa dan sejak saat itu kita semua ini seperti Budak yang berada di pasar dosa dan dalam status seperti itu tidak ada cara lain kita butuh orang lain yang punya kuasa yang bisa membayar kita.” /fsp

