NASIONAL
Home / NASIONAL / Gereja sebagai Perekat atau Pemecah di Tengah Masyarakat Majemuk?

Gereja sebagai Perekat atau Pemecah di Tengah Masyarakat Majemuk?

Gereja tidak boleh berhenti pada aktivitas internal yang hanya dirasakan oleh warganya sendiri. Gereja dipanggil menjadi bagian dari solusi bagi kehidupan bersama….

Makassar, gpibwatch.id – Indonesia adalah rumah bagi keberagaman. Berbagai suku, agama, budaya, bahasa, dan adat hidup berdampingan dalam satu bangsa. Sosiolog Clifford Geertz menyebut masyarakat seperti ini sebagai masyarakat majemuk (plural society), yaitu masyarakat yang terdiri atas beragam identitas yang hidup dalam satu sistem politik bersama. 

Giat Layan Marga Mulya Yogyakarta Di Bulan Pelkes

Dalam realitas seperti ini, gereja tidak dapat memandang dirinya hanya sebagai ruang ibadah atau tempat memenuhi kebutuhan spiritual umat. Gereja adalah bagian dari kehidupan sosial. Ia hidup, bergerak, dan berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda latar belakang, keyakinan, dan budaya.

Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi, apakah gereja hadir di tengah masyarakat? Pertanyaan yang lebih penting adalah, bagaimana kehadiran gereja memengaruhi kehidupan bersama?

Apakah gereja menjadi perekat yang memperkuat persaudaraan, atau justru tanpa disadari menciptakan sekat-sekat baru yang menjauhkan dirinya dari masyarakat?

Tantrum Rohani: Ketika Kritik Membuat Emosi Memimpin

Inilah tantangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, gereja dipanggil untuk tetap setia pada identitas dan ajaran imannya. Namun di sisi lain, gereja juga dipanggil untuk membangun relasi yang sehat dengan masyarakat luas. Kesetiaan pada iman tidak pernah bertentangan dengan keterbukaan terhadap sesama.

Masyarakat hari ini tidak hanya mendengar khotbah dari mimbar. Mereka juga membaca “khotbah” melalui sikap gereja. Cara gereja merespons persoalan kemiskinan, ketidakadilan, bencana, konflik sosial, hingga bagaimana ia memperlakukan mereka yang berbeda, sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Refleksi Kontekstual: Adilkah? Setarakah? Bersihkah?

Karena itu, kehadiran gereja tidak boleh berhenti pada aktivitas internal yang hanya dirasakan oleh warganya sendiri. Gereja dipanggil menjadi bagian dari solusi bagi kehidupan bersama.

Kasih, keadilan, kepedulian, dan perdamaian harus tampak dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan masyarakat tanpa memandang agama, suku, ataupun status sosial.

Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas dan kepentingan, gereja memiliki kesempatan besar untuk menjadi ruang yang menghadirkan harapan. Kehadirannya semestinya memperkuat kohesi sosial, membangun kepercayaan, dan menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan.

Maka, ukuran keberhasilan gereja bukan hanya bertambahnya jumlah kegiatan atau banyaknya program yang dijalankan. Yang lebih penting adalah apakah kehadiran gereja membuat masyarakat di sekitarnya menjadi lebih damai, lebih adil, dan lebih manusiawi.

Di situlah gereja sungguh menjalankan panggilannya: bukan sekadar hadir, tetapi menghadirkan.  Charles J. Manuputty (Sosiolog)  –  JP

Bersambung…

Pada tulisan berikutnya, kita akan melihat bagaimana Émile Durkheim memandang gereja sebagai moral community (komunitas moral) yang memiliki kekuatan besar untuk membangun solidaritas sosial, sekaligus memahami mengapa gereja dapat kehilangan fungsi itu apabila terjebak dalam sikap eksklusif.