Demokrasi sejati dimulai dari keberanian untuk bercermin….
Jakarta, gpibwatch.id — Demokrasi Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius berupa regresi demokrasi yang ditandai dengan menyempitnya ruang sipil (shrinking civic space), menguatnya politik identitas, serta pragmatisme politik yang kerap mengabaikan etika. Proses deliberasi publik sering kali kalah oleh kekuatan oligarki dan polarisasi di akar rumput.
Di sisi lain, kemajuan teknologi informasi membawa residu berupa penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang mengancam kohesi sosial. Demikian diungkapkan Pdt. Margie Dewanna dalam Rumambi Memorial Lecture, 7 April 2026, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Ds. W.J. Rumambi.
Momentum ini dipilih bukan sekadar seremoni, melainkan sebagai upaya recall—memanggil kembali pemikiran dan sikap etis beliau di tengah situasi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, Rumambi Memorial Lecture bukan ajang nostalgia, melainkan ikhtiar intelektual untuk menghidupkan kembali pemikiran sang negarawan gereja dalam merespons tantangan demokrasi hari ini.
Di tahun 2026, Indonesia berada di persimpangan jalan demokrasi yang semakin kompleks. Agama—termasuk Gereja—sering kali terjebak dalam ambiguitas peran. Lalu, apa sumbangan agama-agama dalam merawat demokrasi Indonesia?
Pertanyaan itu kemudian menggugah refleksi pribadi saya.
Kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki dinamika yang terus bergerak. Demokrasi mengajarkan transparansi dan inklusivitas; menghadirkan toleransi dalam moderasi beragama; membuka diri terhadap perbedaan; serta memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam konteks kebangsaan.
Di era disrupsi teknologi yang berkembang pesat, kita tidak boleh mundur dalam cara berpikir. Kita dituntut beradaptasi agar nalar dan logika tidak menyempit, melainkan mampu merangkul mereka yang berbeda. Sebab perbedaan adalah ciptaan Ilahi, dan dari sanalah demokrasi sejati dalam kebhinekaan menemukan maknanya.
Namun pada akhirnya saya bertanya dalam keheningan batin: Sudahkah demokrasi sungguh hidup di dalam agama-agama itu sendiri? Sudahkah ia hadir di dalam gereja? Mungkin ya. Mungkin belum.
Refleksi ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengintrospeksi diri—agar iman tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi etos hidup dalam merawat demokrasi. /JP
