
Adakah Suara Keadilan? Masih Adilkah? Masih Adakah Kepercayaan yang Sesungguhnya?
Jakarta, gpibwatch.id – Jeritan tangis, jeritan hati, menyaksikan suasana bangsaku yang penuh dengan lika-liku persoalan korupsi. Adakah kejujuran? Masih adakah rasa malu? Malu memperkaya diri dengan hasil korupsi!
Dunia yang penuh sandiwara, dunia yang dipenuhi dramaturgi yang tak pernah berakhir selama masih ada orang-orang yang memiliki kredibilitas moral nungging, terpuruk, dan bertopeng; menggunakan akal sehat dengan cara maling. Ketika moral runtuh, kepercayaan publik pun ikut roboh.
Sajian berita memenuhi berbagai media sosial. Hiruk-pikuk persepsi dan pendapat bermunculan mengenai para tersangka korupsi yang merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah.
Di sisi lain, proses hukum tetap harus menghormati asas praduga tak bersalah. Namun, masyarakat tetap berhak berharap agar keadilan ditegakkan secara jujur, transparan, dan tanpa pandang bulu.
Sebagai anak bangsa yang menginginkan Indonesia sejahtera, sentosa, makmur, damai, dan berkecukupan secara ekonomi, harapan itu terasa semakin jauh ketika begitu banyak kekayaan hanya mengalir kepada segelintir orang—kaum oligarki.
Pupus sudah harapan masyarakat kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan. Yang miskin tetap bergumul dengan segala keterbatasannya, sementara yang kaya terus menumpuk kekayaan melalui berbagai penyimpangan.
Gerak langkah memberantas korupsi harus menjadi pilihan utama bagi Indonesia yang kita cintai. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tidak ada kata menyerah untuk menghadirkan keadilan, sebab setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum.
Para pemimpin bangsa harus terus didorong dan didukung agar setiap elemen pemerintahan dan birokrasi benar-benar bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Masyarakat kecil hanya bisa meratapi kenyataan dengan menu bernama “Sakit Hati”. Mereka bersyukur jika hari ini masih dapat makan. Mereka mungkin tidak larut dalam hiruk-pikuk politik, tetapi mereka memiliki harapan yang sederhana: Indonesia yang bersih dari korupsi, sehingga setiap warga dapat menikmati kehidupan yang lebih layak.
Adakah keadilan?
Kopi pahit, dalam kepahitannya, tetap menghadirkan rasa dan aroma yang membangkitkan semangat. Namun, kopi tidak pernah menipu dengan warna dan keharumannya. Ia tetap menjaga karakter, kejujuran, etika, dan martabatnya.
Bagaimana dengan kita? Masih adakah kejujuran? Masih adakah rasa malu? Ataukah kita mulai menganggap korupsi sebagai sesuatu yang biasa? Pahitkah?
/ JP
