PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / PELKES: Melayani Tuhan atau Melayani Kenyamanan?

PELKES: Melayani Tuhan atau Melayani Kenyamanan?

Seorang Kristen yang taat adalah seorang yang memelihara imannya. Kualifikasinya bukan hanya percaya kepada Tuhan, tetapi membaca, mendengar, dan melakukan firman-Nya…….

Sibolga, gpibwatch.id – Demikian disampaikan Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB XXII, Pdt. Ebser M. Lalenoh, dalam Ibadah Minggu II Sesudah Pentakosta sekaligus Pembukaan Bulan PELKES Tahun 2026, Minggu, 7 Juni 2026, di GPIB Jemaat “SILOAM” Sibolga, Sumatra Utara, dengan dasar pemberitaan Firman Tuhan dari Titus 1:5-16.

Budaya Hormat atau Budaya Bungkam? Ketika Koreksi Berhadapan dengan Hierarki

Menurutnya, kualitas hidup beriman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui kehidupan sehari-hari. Iman harus diuji kelayakannya, kebenarannya, dan aktualisasinya dalam tindakan nyata. Di tengah dunia yang penuh tantangan, setiap pelanggaran terhadap kehendak Tuhan, sekecil apa pun, menjadi tanda bahwa kehidupan iman masih memerlukan pembaruan dan pemurnian.

Karena itu, hati dan pikiran orang percaya harus tetap dijaga dalam kekudusan. Tanpa kekudusan, manusia tidak dapat melihat Allah. Kekudusan bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan karakter hidup yang tercermin dalam sikap, perkataan, dan perbuatan.

Mengacu pada pelayanan Rasul Paulus dan Titus di Pulau Kreta, Pdt. Lalenoh menegaskan bahwa kehidupan beriman tidak boleh berhenti pada pengalaman personal. Penginjilan dan pelayanan tidak boleh dibatasi oleh zona nyaman. Orang percaya dipanggil bukan untuk mencari kenyamanan bagi dirinya sendiri, melainkan menghadirkan berkat bagi sesama.

Kepemimpinan Sinodal: Maju Mundur dalam Pengambilan Keputusan?

Dalam kaitannya dengan kehidupan bergereja, Rasul Paulus mengingatkan pentingnya ketertiban sebagai wujud ketaatan kepada Firman Tuhan. Orang percaya dipanggil menjadi saksi yang peduli, bukan hanya bagi komunitas internal gereja, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Gereja memiliki panggilan untuk menyatakan kebenaran. Melalui perbuatan yang benar, kehidupan banyak orang dapat diperbaiki dan diarahkan kepada kehendak Tuhan. Namun tugas memperbaiki yang salah tidak dapat dilakukan oleh kehidupan yang cemar, melainkan oleh mereka yang menjaga kesucian hati dan pikirannya, memiliki komitmen yang teguh, kasih yang tulus, serta kesediaan untuk berbagi dan melayani sesama.

Info Terkini, Pdt. Adrian Mamahit Dikabarkan Alih Tugas ke GPIB Paulus Binjai

Dalam konteks itu, GPIB diingatkan untuk terus mengonstruksikan kembali kehidupan pelayanan dan kesaksiannya. Gereja tidak boleh berpuas diri dengan keberhasilannya sendiri, tetapi harus menjadi alat Tuhan yang menghadirkan terang melalui tindakan-tindakan nyata di tengah dunia.

Lebih jauh ditegaskan bahwa hanya melalui iman, kebenaran, dan kepercayaan yang sungguh kepada Tuhan, gereja dapat membangun kerja sama yang sehat dengan pemerintah demi menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kita harus menjadi perabot yang baik bagi dunia ini. Bila masih ada niat buruk, sesuatu yang najis, atau yang menajiskan, sekecil apa pun, Tuhan tidak berkenan….

Dari Siloam, Sibolga, Sumatra Utara, GPIB kembali menyerukan pentingnya menghadirkan keadilan, kebenaran, dan kasih sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tugas Marturia, yakni kesaksian gereja di tengah dunia./JP