Ugahari lebih menyangkut gaya hidup dan sikap hidup..,sedangkan efisiensi berkaitan dengan penggunaan anggaran sesuai prioritas pelayanan…
Jakarta, gpibwatch.id – Enam bulan masa tugas Majelis Sinode GPIB XXII telah berjalan. Sebuah waktu yang masih sangat singkat untuk mengharapkan perubahan besar terjadi secara signifikan, terlebih banyak tanggung jawab dari periode sebelumnya masih berada dalam situasi outstanding dan membutuhkan penyelesaian bertahap.
Padahal, tanggung jawab MS GPIB XXII sangat krusial dan strategis. GPIB sedang berada dalam perjalanan memasuki 20 tahun ketiga, bahkan menyongsong 100 tahun GPIB pada 2048.
Dalam konteks itu, ada tugas-tugas fundamental yang harus dipenuhi oleh Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) GPIB XXII, meski dijalankan di tengah situasi dan kondisi yang belum ideal.
Dengan memahami realitas tersebut, apa yang dikerjakan FMS GPIB XXII dalam enam bulan pertama ini patut diapresiasi sebagai upaya maksimal untuk memenuhi panggilan dan pengutusan gereja. Walaupun demikian, di sana-sini masih ditemukan berbagai hal yang belum memenuhi harapan banyak pihak.
Namun, rasanya terlalu dini untuk terburu-buru mengambil kesimpulan terhadap kerja Majelis Sinode. Masih ada waktu dan ruang untuk melihat arah kebijakan dan langkah yang lebih nyata ke depan.
Harapannya, dalam enam bulan berikutnya, FMS GPIB XXII semakin jelas dan tegas dalam komitmennya menjalankan panggilan dan pengutusan gereja, mengemban serta melaksanakan Misi Allah melalui GPIB.
FMS GPIB XXII juga menghadapi banyak “pekerjaan rumah” yang diwariskan dari periode sebelumnya, mulai dari tata kelola organisasi, kebijakan, keuangan, hingga perbendaharaan.
Dalam situasi demikian, diperlukan kehati-hatian dan kecermatan untuk menentukan prioritas—first things first—yakni mendahulukan hal-hal yang mendesak dan fundamental, tanpa keluar dari rel pelayanan (on the track).
Karena itu, hal yang perlu dilakukan seluruh warga gereja melalui berbagai akses dan kapasitas masing-masing ialah memberikan kontribusi secara konstruktif: menyampaikan informasi, saran, maupun kritik yang membangun kepada FMS GPIB XXII, sehingga policies dan actions yang diambil benar-benar tepat sasaran dan tidak kehabisan waktu.
Mengenai penggunaan dana, semangat Ugahari dan Efisiensi tidak dapat dimaknai sekadar sebagai penghematan atau pemotongan anggaran. Ugahari lebih menyangkut gaya hidup dan sikap hidup yang sederhana, sedangkan efisiensi berkaitan dengan ketepatan dan kejelasan penggunaan anggaran sesuai prioritas pelayanan.
Dari informasi yang disampaikan dalam forum PSR XXII dan PST Tahun 2026, FMS GPIB XXII mewarisi kondisi keuangan dan perbendaharaan yang tidak ideal bagi sebuah organisasi sinodal di aras nasional.
Namun demikian, dalam enam bulan ini terlihat adanya upaya menerapkan pola Ugahari dan Efisiensi. Hal itu tampak dari beberapa kegiatan yang sebelumnya memerlukan biaya akomodasi dan logistik besar, kini mulai memaksimalkan fasilitas akomodasi dan logistik yang tersedia di jemaat. /ARP/JP
