GIAT LAYAN Inspirasi
Home / Inspirasi / Pendeta Juga Manusia, Kegagalan Moral Dapat Dialami Siapa Saja

Pendeta Juga Manusia, Kegagalan Moral Dapat Dialami Siapa Saja

Gereja dipanggil bukan hanya menuntut para pendeta menggembalakan jemaat, tetapi juga menyediakan ruang agar mereka sendiri digembalakan, ditegur dengan kasih, dipulihkan, dan dikuatkan.

PERTAMA-tama saya teringat dalam suatu persidangan, kebetulan ketua Komisinya Mantan Majelis Sinode GPIB periode yang lalu, Pdt. Samuel Kaihatu, M.Th dan saya sebagai Sekretaris Komisi Bidang Teologi.

Saya ingat betul ada dua point yang sempat kami bicarakan yaitu Hari Doa GPIB dan Pastor Pastorum. Yang pada akhirnya setelah melalui proses percakapan yang panjang dua point ini akhirnya disepakati dilakukan dalam persekutuan, pelayanan dan kesaksian GPIB.

Istilah Pastor Pastorum bukanlah istilah yang secara eksplisit terdapat di dalam Alkitab, melainkan istilah teologis dan gerejawi yang berasal dari bahasa Latin.

Arti Pastor Pastorum. Pastor berarti “gembala.” Pastorum adalah bentuk genetif jamak dari pastor, yang berarti “para gembala.”  Jadi, Pastor Pastorum berarti: “Gembala bagi para gembala” (Shepherd of the shepherds).

Tak Kalah, Lembaga Pelayanan Sinodal Alergi dengan Kritik

Istilah ini menunjuk pada seseorang atau suatu pelayanan yang bertugas memperhatikan, membina, menasihati, memulihkan, dan mengawasi para pelayan Tuhan, khususnya pendeta.

Dasar Teologis dalam Alkitab

Walaupun istilahnya tidak muncul dalam Alkitab, konsepnya sangat jelas.

  1. Kristus adalah Gembala Agung. Yesus adalah Pastor Pastorum yang sejati. “Apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.” (1 Petrus 5:4) Semua pendeta hanyalah gembala yang melayani di bawah kepemimpinan Kristus.
  2. Para gembala juga membutuhkan penggembalaan. Paulus mengingatkan para penatua: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan…” (Kisah Para Rasul 20:28) Menariknya, Paulus lebih dahulu berkata “Jagalah dirimu”, baru kemudian “jagalah kawanan.” Artinya, seorang pelayan Tuhan pun membutuhkan perhatian rohani agar hidup dan pelayanannya tetap setia.
  3. Penatua saling menggembalakan. Dalam 1 Petrus 5:1–3, Petrus, sebagai sesama penatua, menasihati para penatua untuk menggembalakan jemaat dengan rendah hati dan menjadi teladan. Ini menunjukkan adanya tanggung jawab saling membina di antara para pemimpin gereja.
  4. Pemulihan bagi pelayan Tuhan. Galatia 6:1 mengajarkan: “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut…”. Prinsip ini berlaku bagi seluruh umat percaya, termasuk para pendeta. Pemulihan harus dilakukan dengan kasih, bukan semata-mata penghukuman.

Makna Pastor Pastorum di GPIB

Dalam konteks GPIB, bidang Pastor Pastorum merupakan pelayanan gerejawi yang bertujuan mendampingi para pendeta. Fungsinya bukan hanya menangani pendeta yang menghadapi persoalan disiplin atau etik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan rohani, moral, emosional, dan pastoral mereka.

Bincang Warga dan Presbiter: “Diam Tak Selamanya Emas”

Pelayanan ini mencakup pendampingan, pembinaan, konseling, mediasi bila diperlukan, serta upaya pemulihan agar para pendeta dapat kembali melayani dengan integritas sesuai tata gereja yang berlaku.

Dengan demikian, Pastor Pastorum tidak dipahami sebagai “atasan rohani” yang memiliki kuasa menggantikan Kristus, melainkan sebagai wujud tanggung jawab gereja untuk saling menggembalakan para pelayannya di bawah otoritas Kristus, Sang Gembala Agung.

Refleksi Teologis

Pelayanan Pastor Pastorum mengingatkan bahwa pendeta juga manusia. Mereka dapat mengalami kelelahan, pergumulan keluarga, tekanan pelayanan, bahkan jatuh dalam dosa. Karena itu, gereja dipanggil bukan hanya menuntut para pendeta menggembalakan jemaat, tetapi juga menyediakan ruang agar mereka sendiri digembalakan, ditegur dengan kasih, dipulihkan, dan dikuatkan.

Akhirnya, Pastor Pastorum yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus. Semua bentuk pendampingan terhadap para pendeta hanyalah partisipasi gereja dalam karya Kristus, Sang Gembala Agung, yang terus memelihara para gembala-Nya agar mereka tetap setia menggembalakan umat Allah (Yohanes 10:11; Ibrani 13:20; 1 Petrus 5:4).

Ketika Konflik Kepemimpinan Gereja Menjadi Ujian Rekonsiliasi: Refleksi atas Polemik Pelengseran Pendeta Ebser M. Lalenoh

Apa relevansi Pastor Pastorum bagi Para Pendeta di Era Saat Ini?

Di tengah perubahan zaman yang sangat cepat, pelayanan pendeta menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pelayanan Pastor Pastorum menjadi semakin penting sebagai wujud penggembalaan terhadap para gembala, agar mereka tetap setia kepada Kristus, Sang Gembala Agung (1 Ptr. 5:4).

  1. Menjaga Kesehatan Rohani Pendeta.

Kesibukan pelayanan dapat membuat pendeta sibuk melayani orang lain tetapi mengabaikan kehidupan rohaninya sendiri. Pastor Pastorum mengingatkan bahwa seorang pendeta harus terlebih dahulu hidup dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan (Kis. 20:28a).

  1. Menjadi Ruang Pendampingan dan Pemulihan.

Tekanan pelayanan, konflik jemaat, persoalan keluarga, kelelahan emosional (burnout), bahkan kegagalan moral dapat dialami oleh siapa saja. Pastor Pastorum hadir bukan pertama-tama untuk menghukum, melainkan mendampingi, menegur dengan kasih, dan memulihkan (Gal. 6:1).

  1. Menjaga Integritas dan Kredibilitas Pelayanan.

Di era digital, kehidupan pendeta menjadi semakin terbuka dan mudah disorot. Setiap perkataan, sikap, maupun tindakan dapat memengaruhi kesaksian gereja. Karena itu, Pastor Pastorum membantu para pendeta memelihara integritas, etika pelayanan, dan kesetiaan terhadap Firman Tuhan.

  1. Membangun Akuntabilitas Dalam Pelayanan.

Tidak ada pendeta yang kebal terhadap kelemahan. Melalui Pastor Pastorum, para pendeta memiliki komunitas yang saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling mendoakan, sehingga pelayanan dijalankan dalam semangat kerendahan hati, bukan berjalan sendiri (Pkh. 4:9–10).

  1. Memelihara Kualitas Penggembalaan Jemaat.

Pendeta yang digembalakan dengan baik akan lebih mampu menggembalakan jemaat dengan kasih, hikmat, dan keteladanan. Dengan demikian, Pastor Pastorum tidak hanya memperhatikan kesejahteraan pendeta, tetapi juga berdampak langsung pada pertumbuhan gereja.

Jadi, Pastor Pastorum mengingatkan bahwa pendeta tetaplah domba milik Kristus sebelum ia menjadi gembala bagi jemaat. Oleh sebab itu, setiap pendeta memerlukan penggembalaan, pembinaan, teguran, dan pemulihan agar tetap hidup dalam kehendak Allah.

“Pendeta yang digembalakan dengan baik akan menggembalakan jemaat dengan baik dan benar. (bdk. Yoh. 21:15–17; Kis. 20:28; 1 Ptr. 5:2–4) Karena itu, Pastor Pastorum bukan sekadar sebuah bidang pelayanan, melainkan wujud kasih Kristus, Sang Gembala Agung, yang terus memelihara para gembala-Nya demi kemuliaan Allah dan pertumbuhan gereja.”.

Semoga Percikan Perenungan tentang Pastor Pastorum ini bermanfaat bagi kita. Do the best for God, Soli Deo Gloria. ***

Oleh: Pdt. Dra. Yvonne D. Taroreh – Loupatty M.Min 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *