BANDUNG, gpibwatch.id – Satu kata untuk ibu tiga anak ini adalah ”Keren”. Perjuangannya menata karir bukan asal-asalan. Ada giat layan yang sulit dilaluinya untuk mencapai apa yang diidam-idamkan. Ia pernah berpikir bagaimana meraih cita menjadi Pegawai Negeri, ia pun pernah bercita-cita untuk kerja kantoran.
Tapi apa daya lingkungan sekitar mengajaknya untuk tidak lagi berangan-angan kerja kantoran dan jadi PNS. Rumah tempat tinggalnya seakan berkata untuk tidak lagi merancang esok memikirkan duduk dibalik meja menghadapi PC atau Laptop.
Potensi lingkungan sekitar menyapanya untuk berkutat diranah bisnis, diranah kuliner. Peluang itu tak disia-siakan Jumariah Magdalena dengan membuat aneka menu untuk dijajakan. Gayung bersambut, rezeki anak soleh berpihak kepadanya.
Perlahan tapi pasti, jerih payah Jumariah yang akrab disapa Maria ini tidak sia-sia. Diakuinya, semangatnya membangun bisnis kuliner yang saat ini bersinar terang tidak seperti membalikkan telapak tangah. Ada jerih yang tak henti dialaminya.

Yang pasti, kata Maria, proses yang ia lalui membentuknya menjadikan ia bisa seperti sekarang.
”Saya, sebelumnya mengikuti macam-macam kursus,” tutur Maria menjawab pertanyaan GPIB Watch. Melalui aneka pengalaman dan kursus ia pun berjibaku menata bisnisnya.
Tak sia-sia pesanan pun seakan tak henti yang harus dijawab dengan kemampuan menyediakan menu yang terkadang tidak sedikit jumlah pesanan yang harus disiapkan untuk pelanggan.
”Saya pernah dapat order untuk menyiapkan makanan hampir mencapai 1000 orang, melayani orang Buddha di Istana Bunga Lembang,” kata Maria bersemangat sembari meceritakan kisah-kisah perjalanan hidupnya merengkuh sukses menggeluti bisnis cathering di Bandung.
Warga jemaat GPIB Maranatha Bandung ini mengakui bahwa ia dengan suami, Yohanes Salim saat itu tinggal di Jalan Pasang Bandung memulai usaha dengan mendirikan gerai yang dinamakan Kantin Ria.
”Dari mulut ke mulut, tanpa ada promosi, soal masakan saya, ternyata kepakailah baik itu cathering pernikahan, cathering kantor, dan rumahan,” ungkap Maria.
Kepiawaian menata bisnis kuliner menghantar Maria semakin O.k. Dari Jalan Pasang Bandung, tahun 2009 ia melebarkan sayap bisnis. Kantin Ria mendapatkan order di Griya Krida Sekesalam (GKS) untuk menyediakan menu kepada tamu atau peserta yang melakukan rapat-rapat atau pun seminar termasuk Persidangan Sinode yang pernah digelar di properti milik GPIB tersebut.
Kini di GKS ia terus berkutat menyiapkan makanan kepada peserta pelatihan calon tenaga kerja untuk pengiriman ke Jepang yang jumlahnya ratusan orang.
Rona bahagia sangat dirasakan Maria menggeluti bisnis kuliner. Panen order yang dialami itu karena penyerahan total kepada Tuhannya. ”Ini juga pelayanan, untuk gereja. Kalau mencari untung diluar. Kalau di gereja itu pelayanan. Puji Tuhan saya selalu diberkati,” tandas Maria.
”Saya diuji kesabaran dalam menghadapi orang banyak, banyak protes sana sini,” kata Maria yang terkadang harus 24 jam mengurus usahanya untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Talenta masak yang diberikan Tuhannya, dilakoninya dengan baik. Apa yang dikerjakannya menghasilkan buah manis kehiidupan. Soal harga, dari menu yang diolahnya, Maria mengakui harga yang dibandrol sangat murah. “Karenana banyak senang,” katanya.

