LUPA tanggal berapa sampai di Ranai kepulauan Natuna, namun yang jelas di tahun 2007 tiba di pelabuhan laut Pelni Selat lampah yang jarak tempuh dari kota Ranai kurang lebih 70 Km dan di jemput oleh pak M. Hutajulu, suami dari Diaken Ibu Nenny Hutajulu menuju ke pastori di kompleks TNI AU Ranai.
Saat itu, pastori yang kami tempati hanya berupa satu kamar dan ruang tamu kecil yang juga sebagai ruang konsistori. Hal tersebut dikarenakan gereja masih satu badan dengan pastori dengan dapur yang juga berukuran sangat kecil dengan kondisi yang sebenarnya sangat memprihatinkan.
Saat tiba di lingkungan gereja dan pastori, kami disambut Ibu Diaken Nenny Hutajulu dan Bapak Pnt. P. Purba dengan ramah dan penuh kehangatan, berikut sajian makan siang mie instan, serta lauk seadanya yang terasa sangat nikmat karena pengaruh perut yang memang harus diisi.
Pemandangan yang menarik adalah suasana sekitar gedung gereja “OIKUMENE” yang dijadikan sebagai GPIB “BUKIT KASIH” di Kompleks TNI AU adalah posisi sekitar gereja berada di pinggir pantai dengan pasir putih yang sangat indah dan memukau.
Tentu memberi hasrat untuk mandi dan berendam pada saat air laut sedang pasang.Penugasan kami di GPIB ‘BUKIT KASIH” Ranai Natuna sesuai SK Majelis Sinode GPIB adalah untuk mengisi kekosongan dan melanjutkan pelayanan, karena Pendeta sebelumnya, yaitu Pdt. Meisilo Mewengkeng, S.Th yang telah meninggalkan pelayanan.
Jadi ada tenggang waktu yang cukup lama terjadi kekosongan, sehingga Majelis Sinode GPIB mengirim tenaga kosulen Pendeta untuk mengisi pelayanan beberapa waktu, yaitu; Pdt. Gerson Sihanenia bersama istri yang akan memasuki masa Emeritus dan akhirnya kami yang mengisi kekosongan pelayanan tersebut.
Saat berada di tempat pelayanan, sangat terasa mengenai kondisi pelayanan yang sepertinya butuh perhatian dan penataan. Artinya, bahwa di antara para Presbiter tampak adanya gesekan atau sedang mengalami konflik batin, sehingga diperlukan rekonsiliasi dengan harapan, agar pelayanan ke depan dapat di tata dan berjalan dengan baik. Presbiter yang bertugas di periode 2003 s/d 2007 adalah sebagai berikut;
Bukit Kasih Ranai: Dkn. Edward Bangun, Dkn. Poller Sirait, Dkn. Ny. Nenny Mariana Sinaga, Dkn. Raharjo Bismo Praseno, Pnt. Sihar Simamora, Pnt. Djameli Purba, Pnt. Stefanus Usupar. Tapau: Dkn. Ny. Sriyati, Dkn. Solihin, Dkn. Kasir Siburian, Pnt. Sabam Simaremare, Pnt. Ny. Muliati, Pnt. Ny. Indakah. Batubi: Dkn. Ny. Mianna Simbolon, Dkn. Nalom Sitorus, Pnt. Paiman Sianipar, Pnt. Riel Abdul Tahir Nainggolan.
Setelah rekonsiliasi dilakukan, mulailah dilakukan penataan pelayanan yang lebih baik. Jadwal pelayanan disusun di jemaat induk, baik untuk ibadah Minggu, ibadah keluarga yang kemudian dibentuk menjadi 2 (dua) sektor, yaitu sektor 1 dan Sektor 2. Kemudian ibadah Pelkat, antara lain IHMPA, IHMPT, Pelkat Gerakan Pemuda (GP), Pelkat Persekutun Kaum perempuan (PKP) dan Pelkat Persekutuan Kaum Bapak (PKB), sedangkan Pelkat Persekutuan Kaum Lanjut Usia (PKLU) tidak terbentuk, karena tidak anda anggotanya.
Saat itu, jumlah jemaat di GPIB “BUKIT KASIH” Ranai Natuna + 60 Kepala keluarga, di jemaat Tapau + 17 Kepala Keluarga, koordinator jemaat Pent. Bapak Sabam Simaremare yang kemudian digantikan oleh Diaken Bapak Solihin, sedangkan di jemaat Batubi + 19 Kepala Keluarga dan koordinator jemaat adalah Pent. Bapak Paiman Sianipar.
Di tahun 2007 jemaat-jemaat GPIB melaksakan Pemilihan Presbiter untuk masa bakti 2007 s/d 2012, begitu pula proses pemilihan Presbier yang dilakukan GPIB ‘BUKIT KASIH” Ranai Natuna. Adapun nama-nama yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Majelis Sinode GPIB, antara lain :
Bukit Kasih Ranai: Dkn. Rostauli Hutagaol, Dkn. Ny. Rodia Silalahi, Jhonson Panjaitan, Vikom Wowor, Tonis Limbong, Pnt. Poller Sirait, Pnt. Sapta Nugraha, Pnt. Stafanus Usupar, Pnt. Sihar Simamora. Tapau: Dkn. Kasir Siburian, Irawan Lukito, Pnt. Sabam Simaremare, Pnt Ny. Mulyati, Ny. Indakah. Batubi: Dkn. Mianna Simbolon, Dkn. Nalom Sitorus, Pnt. Paiman Sianipar, Pnt. Riel Abdul Tahir Nainggolan.
Seusai peneguhan Perbiter untuk masa tugas 2007 s/d 2012 terlaksana, maka di tahun 2008, kami membentuk kepanitiaan yang bertugas untuk merehab pastori di belakang gereja di Lanud Ranai. Hal tersebut harus dibenahi, dikarenakan bangunannya bersifat seadanya, terlalu kecil kamarnya, termaksud ruang tamu yang sangat tidak nyaman untuk ditempati sebuah keluarga. Apalagi saat ibadah Minggu, Majelis bertugas harus berdesak-desakan di ruang tamu yang juga dijadikan sebagai ruang konsistori.
Demikian juga dengan dapur pastori yang terlalu sempit, seadanya, banyak tikus, kelabang, kepiting tanah dan sangat tidak hiegenis. Kondisi tersebut sangat menggangu aktivitas masak-memasak ketika berada di dapur.
Karena itu, bersama PHMJ, kami mencoba bersepakat untuk mempercayakan proses renovasi kepada anggota Lanud Ranai, antara lain Bapak Fanny Hahijari, Bapak Limbong Radar dan Bapak Tonnis Limbong dengan alasan, bahwa harus meminta izin dari pihak Lanud, yaitu Komandan Lanud Ranai Letkol Penerbang Bapak Bambang Sumantri.
Setelah mendapatkan izin untuk merenovasi bangunan yang dimasud, maka pekerjaan tersebut mulai dikerjakan, yaitu menambah satu kamar keluarga, sehingga pastori memiliki dua kamar. Menambah ruang konsistori, sekaligus untuk mengelolah administrasi kantor, membuat tempat masak atau dapur yang layak dan mengerjakan kamar mandi. Pekerjaan renovasi pastori tidak terlalu lama pengerjaannya dan selesai tepat pada waktunya, serta sesuai harapan.
Kondisi pastori yang semakin lebih baik, serta ruang konsistori yang semakin nyaman bagi majelis yang bertugas dalam ibadah Minggu, juga ruang untuk persiapan dan rapatrapat, tentu membuat semangat melayani semakin meningkat.

Batik merah Danlanud Ranai Letkol P. Bambang Sumatri, Jas Hitam Bisara Manurung Ketua Panitia Pembangunan.
Selanjutnya, supaya kegiatan administrasi gereja dapat dikelola dengan profesional, maka berdasarkan keputusan PHMJ, direkrutlah salah seorang pemuda untuk dijadikan pegawai, yaitu saudari Yuli. Seorang anak dari Kalimantan Barat yang mencoba mengadu nasib di Natuna, yang juga masih saudara kandung Ferry yang dulu tinggal bersama Pdt. Meisilo Mewengkang dan tetap bertahan di Ranai untuk terus menyelesaikan pendidikannya.
Yuli inilah yang dipercayakan untuk menangani Warta Jemaat, surat-surat Gereja dan sekaligus merangkap mengerjakan kebersihan gereja dan lingkungannya. Tugasnya menjadi ringan, karena ia juga menempati salah satu kamar di Pastori, sehingga tidak mengurangi upah yang diterimanya, karena tidak mengeluarkan biaya tranportasi.
Namun di sekitar tahun 2010 saudari Yuli memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga administrasi, kemudian ia melamar menjadi tenaga magang di kantor Kementrian Perhubungan dan mungkin sekarang telah menjadi pegawai tetap, serta sudah berumah tangga. Kekosongan tenaga administrasi gereja yang ditinggalkan Yuli, membuat PHMJ kemudian menawarkan kepada anak-anak jemaat untuk direkrut menjadi pegawai gereja.
Akhirnya salah satu warga jemaat yaitu Ibu Yuningsih anak dari Pak Jumat dan Ibu Mulyati jemaat Pos Pelayan GPIB “BETLEHEM” Tapau yang kemudian dipercayakan untuk menjadi pegawai gereja. Namun akhirnya memutuskan untuk berhenti setelah beberapa bulan kami meninggalkan kota Ranai.
Pembangunan Gereja dan Tantangannya
Pada tahun yang sama, yaitu tahun 2008 bersama PHMJ dan beberapa anggota presbiter, membicarakan mengenai lahan di daerah Senubing yang telah dibeli pada masa Pdt. Meisilo Mewengkang. Sebenarnya posisi tanah di Senubing yang berbukit menurut pandangan saya (Pdt. Samuel Natar) adalah tempat yang sangat strategis untuk mendirikan bangunan gereja.
Lokasinya sangat baik dengan hamparan laut Cina Selatan/ laut Natuna Utara yang sangat elok untuk di pandang. Itulah sebabnya keinginan yang besar untuk mendirikan bangunan gedung gereja, mulai tergagas. Namun yang menjadi kendala adalah, lokasi di tanah tersebut tidak sepenuhnya adalah milik gereja.
Ada beberapa jemaat dan warga simpatisan yang ternyata memiliki bidang-bidang tanah yang bervariasi ukurannya dan harganya. Keluaga-keluarga tersebut, antara lain: Keluarga Bapak Poller Sirait, keluarga Bapak Sabam Simaremare, keluarga Bapak M. Hutajulu, keluarga Pdt. Meisilo Mewengkang, keluarga Stefanus Usupar, keluarga Bapak Siagian (PLN), Toko HP Romy Jakarta dan keluarga Aliong (seorang penginjil).
Agar lahan di daerah Senubing dapat dikuasai pihak gereja GPIB secara menyeluruh, maka dibentuklah Tim Kerja Penguasaan Tanah Gereja Senubing yang nama-namanya adalah sebagai berikut :
Ketua : Pnt. Bapak Sihar Simamora.
Sekretaris : DR. Viktor Nababan
Bendahara : Bapak Jhonson Panjaitan
Tugas Tim kerja adalah melakukan pendekatan kepada para pemilik lahan, bernegosiasi sehingga pihak gereja dapat membeli dan menguasai lahan tersebut secara utuh. Dengan Pertolongan Tuhan, semua pemilik lahan akhirnya mau menjual, kecuali keluarga Bapak M. Hutajulu yang tidak mau melepaskan tanahnya, bahkan sempat mendirikan rumah di atas tanahnya dan tinggal menetap sana.
Setelah sebagian besar lahan sudah terbayar lunas oleh bendahara bpk Jhonson Panjaitan, pengerjaan selanjutnya adalah penimbunan dan perataan tanah dilakukan. Saat itu Bapak L. Manik yang kebetulan memiliki akses dengan sebuah perusahan yang bergerak di bidang kontraktor, yang kantor pusatnya berada di kota Pontianak kalimantan Barat, dimohon untuk dapat membantu.
Kebetulan bos dari cabang perusahan di Ranai dan tinggal dekat dengan lokasi lahan, terbilang cukup dekat dengan kami yang adalah KMJ saat itu, sehingga semakin memudahkan penimbunan dan perataan pekerjaan yang dimaksud dengan alat beratnya.
Demikian juga keberadaan bpk Sihar Simamora sebagai Ketua Tim Kerja yang adalah pegawai di Dinas PU saat itu, yang dapat dengan mudah berkoordinasi dengan pemilik alat berat, karena hal tersebut tidak terlepas dengan proyek-proyek pemerintahan yang berhubungan dengan mereka.
Namun untuk melakukan penimbunan secara menyeluruh dengan area tanah yang sangat curam, tentu membutuhkan biaya yang sangat banyak, sehingga tidak secara keseluruhan lokasi tanah di Senubing tertimbun, sesuai harapan.
Saat jemaat begitu sangat antusias merencanakan pembangun gereja di Senubing, kami mendengar bahwa adanya sekelompok masyarakat yang tidak menginginkan gereja didirikan di lokasi yang dimaksud. Namun apapun kendala yang dihadapi saat itu, yaitu adanya reaksi sekelompok masyarakat yang ingin menghambat rencana pembangunan gereja, tetapi tidak menyulutkan semangat kami untuk mewujudkan.
Apalagi Panitia Pelaksana Pembangunan Gedung Gereja telah terbentuk dan surat permohonan SK Kepanitiaan yang dilayangkan ke kantor Sinode GPIB, telah direspon dengan diterbitkkan SK Majelis Sinode GPIB dengan No : 3089/I-08/MS.XVIII/Kpts, tentang Panitian Pembangunan Gedung gereja Masa Tugas 2008 –2009, dengan nama-nama sebagai berikut :
Penanggung Jawab : Majelis Jemaat GPIB “BUKIT KASIH” Ranai Natuna
Penasehat : Bapak Fanny Hahijari
Ketua : Bapak Bisara Manurung
Wakil Ketua : Bapak Nelson Manik
Sekretaris : Sdr. Kriston Sidabutar
Wakil Sekretaris : Bapak Jimmy Sandri
Bendahara : Ibu Panjaitan
Bendahara II : Ibu Simamora
Seksi – Seksi
Seksi Dana Seksi Pembangunan
Bpk Acai 1. Bpk Nurdin Tampubolon
Ibu Sapta Nugraha 2. Bpk Palmer Sianturi
Ibu Mimi Sirait 3. Bpk Sobur Andika
Ibu Bangun 4. Ibu T. Limbong
Ibu Fanny hahijari
Sdr. Viktor Nababan
Seksi Humas Seksi keamanan
Bpk Epori Waruwu 1. Bpk Randy Wanatore
Bpk r. Taampubolon 2. Sdr. Javonlin Nainggolan
Bpk S. Sihombing 3. Sdr. Benyamin Luluporo
Bpk Manalu 4. Sdr. Multono Paliling
Sdr. Napitulupu
Panitia Pembangunan tersebut, Ketua Panitia Bapak Bisara Manurung seorang anggota TNI AU aktif berpangkat Kapten, kemudian melakukan berbagai cara agar rencana pembangunan gedung gereja yang menjadi impian jemaat GPIB “BUKIT KASIH” Ranai Natuna dapat terwujud. Berbagai upaya dilakukan sebagai bagian dari proses dari tahap-tahapan yang diperlukan, antara lain; melakukan mendekatan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah.
Selain itu, panitia berusaha mengumpulkan KTP warga jemaat sebagai penguna tempat ibadah, serta mengumpulkan KTP masyarakat sekitar dan tandatangan mereka, sebagai bentuk dukungan bahwa mereka menyetujui pembangunan gedung gereja.
Untuk mengumpukan KTP masyarakat sekitar dan dukungan tandatangan, panitia mempercayakan bpk Palmer Sianturi. Selain yang bersangkutan anggota panitia, beliau juga adalah anggota Babinsa TNI AD yang bertugas di wilayah lokasi pembangunan yang dimaksud.
Patut kita syukuri, bahwa dukungan masyarakat sekitar sangat membantu, sebab KTP dan dukungan tandatangan masyarakat tidak begitu sulit didapatkan, apalagi bpk Palmer Sianturi di kenal mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat. Padahal saat itu, terlintas kekuatiran apakah masyarakat dapat membantu dengan memberikan kebutuhan yang diharapkan. Semuanya karena perkenaan Tuhan, jika Ia berkehendak, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, karena semua pesyaratan satupersatu mulai terkumpul.
Teringat Ibu Elsye Natar (istri saya) dibebani tugas mengatur, mensortir KTP warga jemaat yang telah terkumpul sebagai penguna tempat ibadah, untuk di tata menjadi sebuah berkas yang akan menjadi satu bundel, demikian juga KTP serta tandatangan dari masyarakat yang perlu disusun dengan rapi, agar juga dapat menjadi satu bundel berkas yang dikerjakan sampai tengah malam dan dibutuhkan beberapa hari mengerjakannya.
Kemudian berkas yang telah menjadi bundelan itu diperbanyak, karena akan diteruskan ke kantor Lurah dan Kantor Camat untuk dibubuhi tandatangan, menandakan bahwa pemerintah telah memeriksa seluruh berkas dan dinggap telah layak untuk menjadi kelengkapan yang dibutuhkan sebagai persyaratan untuk pembangunan gedung gereja sesuai SKB 2 Menteri.
Menyangkut pendekatan dengan perbagai pihak, saya teringat saat kami bertiga, Bapak Bisara Manurung sebagai Ketua panitia pembangun, Bapak Kolonel M. Simorangkir sebagai Danlanal Ranai dengan seragam militernya dan saya Pdt. Samuel Natar selaku KMJ, berjumpa dengan Bapak Wan Jawali sebagai ketua FKUB untuk meminta Surat Rekomendasi dari FKUB, setelah memberikan 2 (dua) bundel berkas Pengguna Rumah Ibadah dan Dukungan Masyarakat sebagai persyaratan mendapatkan rekomendasi.
Bapak Wan Jawali berdiplomasi dengan gaya pantunnya yang sudah menjadi ciri khas, namun ujung-ujungnya surat izin yang diharapkan tidak kunjung diberikan sampai kami pulang dengan tangan hampa. Padahal selembar amplop coklat telah dipegangnya dengan senyum yang terindah, memberi tanda bahwa segalanya tidak ada yang gratis, akan tetapi tetap tanpa hasil.
Demikian juga ketika kami mendatangi Kantor Departemen Agama dengan menyertakan beberapa perkas, antara lain; 1 (satu) bundel mengenai dukungan masyarakat sekitar dan satu bundel lagi berkas penguna tempat ibadah, sebagai persyaratan untuk memperoleh Surat Rekomendasi.
Walaupun berkas sebagai persyaratan untuk meperoleh Surat Rekomendasi sudah lengkap sesuai SKB 2 Menteri, namun kembali lagi selembar amplop Coklatlah yang kemudian memudahkan untuk mendapatkannya. Berbagai usaha kami lakukan, walaupun saat itu belum jelas apakah tanah di Senubing masih menjadi prioritas utama untuk pembangunan gedung gereja, karena kendala yang sedang dihadapi.

Bupati Natuna Drs. Daeng Rusnadi Pada awal tahun 2009, kami (Pdt. Samuel Natar) bersama ketua Panitia Pembangunan Bapak Bisara Manurung dan Ibu Tonnis Limbong menjumpai Bapak Bupati Natuna Drs. Daeng Rusnadi di ruang kerjanya. Bapak Bupati menyambut dan menyapa kami dengan penuh rasa hormat, apalagi ketika saya menyapa beliau dengan sebutan “KARAENG” (sebutan yang diperuntukkan untuk para bangsawan/ raja-raja orang Makassar) dengan kepala dan badan agak menunduk sebagai penghormatan.
Ketika saya sebagai Pendeta menyebutkan kalimat “selamat siang Karaeng” Bapak Bupati melihat saya dengan penuh semangat, serta berkata : “apakah pak pendeta orang Makassar? Saya pun menyambut tangan beliau dan mengatakan: “Iye Karaeng” (logat Makassar) saya lahir dan besar di Makassar. Pertemuan dan sambutan yang sangat hangat memberikan sebuah harapan, bahwa Tuhan sedang membuka jalan untuk terwujudnya impian jemaat atas pembangunan gereja.
Dalam percakapan dengan Bapak bupati, beliau langsung menyampaikan kepada kami apa yang dapat dibantu? Spontan saya langsung mengatakan bahwa kami terkendala mengenai pembangunan gedung gereja di lokasi Senubing, sebab masyarakat keberatan. Ketua Panitia, Bapak Bisara Manurung juga melengkapi perkataan saya, bahwa tanah di Senubing sudah diratakan dan siap untuk dibangun, namun terhenti karena adanya penolakan warga masyarakat.
Setelah mendengarkan penjelasan kami, Bapak Daeng Rusnadi kemudian mengajak kami untuk melihat lokasi tanah di Senubing dengan mengunakan kendaraan dinasnya. Saya masih ingin, saat melihat lokasi tanah tersebut, beliau mengatakan lokasi ini sebenarnya bagus, namun lebih baik menghindari gesekan dengan masyarakat, agar semuanya aman. Setelah melihat lokasi tanah di Senubing, pak Daeng sapaan akrap beliau, kemudian mengajak kami ke suatu tempat yang ternyata tidak jauh dari lokasi tanah sebelumnya.
Tempat yang kami datangi oleh pak Daeng disebut Puak, ketika saya (Pdt. Samuel Natar) duduk berdampingan di dalam mobil dinas bupati. Sesampainya di lokasi tanah yang dimaksud, kami turun dan pak Daeng mengatakan kepada saya; “Pak Pendeta tanah ini akan saya berikan untuk didirikan gereja di sini, ukurannya + 1 (satu) hektar”.
Mendengar maksud baik Bapak Bupati, hati saya terhenyu, sedih rasanya. Di saat tanah yang telah diperjuangkan dengan susah payah, namun terkendala untuk membangun, ternyata Tuhan malah mempersiapkan lahan yang lokasinya juga tidak kalah indahnya. Kalau tanah di Senubing hamparan laut Cina Selatan menjadi fokus keindahan, sedang lahan yang diberikan Bapak bupati hamparan bukit dan gunung yang hijau juga terlihat begitu indah di pandang.

Setelah bersama Bapak Bupati di Puak, beliau mengajak kami kembali ke Kantor Bupati, kemudian pak Daeng menganggil bendahara, Asisten 1 juga Sekda untuk menindaklaanjuti percakapan tentang pembangunan gedung gereja. Saya menyanpaikan kepada bpk bupati bahwa kami terkendala dengan rekomendasi dari FKUB, karena telah bercakap dengan ketua FKBU bpk Wan Jawali, rekomendasi sebagai salah satu persyaratan belum juga diberikan. Mendengar penjelasan kami, Bapak bupati Daeng Rusnadi langsung memberi komentar : “Saya ini penguasa di Ranai”, kapan kalian mau membangun dan berapa biaya yang diperlukan?”.
Jawaban Seorang pemimpin yang luar biasa, tentu mengagetkan kami saat itu. “Kapan Kalian akan membangun dan berapa biaya yang kalian butuhkan, kalimat ini tidak pernah terbayangkan namun kami mendengarkan langsung dari penguasa tunggal di kota Ranai.
Akhirnya saat itu, kami mencari waktu yang baik dan kemudian di putuskan untuk melaksanakan peletakan batu pertama pada hari Kamis, tanggal 21 Mei 2009, setelah Bapak bupati bertanya kepada Sekda mengenai angenda kegiatan beliau pada tanggal yang dimaksud. Mengapa dipilih tanggal 21 Mei 2009, karena pada tanggal tersebut umat kristen merayakan hari Kenaikkan Tuhan Yesus ke sorga dan juga adalah hari libur nasional.

Setelah menetapkan hari dan tanggal acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja, membali Bapak bupati bertanya kepada kami, berapa biaya yang dIbutuhkan untuk membangun. Mana proposal pembangunannya, kembali beliau bertanya kepada kami. Saat itu, kami saling berpandang, saya Pdt. Samuel Natar dan Ketua Panitia bpk Bisara manurung, dikarenakan saya sudah meminta kepadanya untuk membawa proposal, namun beliau bersikeras untuk tidak perlu membawanya.
Ketua panitia menganggap bahwa menjumpai bpk bupati hanya meminta saran mengenai proses membangunan yang diharapkan, namun sedang ada kendalanya. Sedangkan proposal yang telah saya buat, tertuang biaya yang dIbutuhkan untuk pembangunan adalah Rp. 1.125.000.000,- Rupiah. Persoalanya adalah pertanyaan bpk Bupati tentu harus di jawab dan saat itu ketua panitia langsung menjawab dengan mengatakan :
“Dana yang kami butuhkan sebesar Rp. 700.000.000 Rupiah dan dana yang ada pada kami sebesar Rp. 100.000.000 Rupiah. Saya kaget saat itu mendengar sebutan Rp. 700.000.000 rupiah yang dIbutuhkan, mengapa tidak menyebut 1 Milyar atau 2 Milyar? Karena banyak pembiayaan yang dIbutuhkan. Kalimat tersebut saya sampaikan kepada ketua Panitia, setelah kami keluar dari kantor bupati. Namun akhirnya saya memahami dan menyadari bahwa dana yang lain akan Tuhan sediakan.
Mendengar penjelasan tentang biaya yang dIbutuhkan untuk pembangunan, pak Daeng merespon dengan mengatakan: “ Oh jadi biaya yang kalian butuhkan sebesar Rp. 700.000.000 ya?? Dan kalian sudah mempunyai dana sebesar Rp. 100.000.000 ya? Berarti dana yang tersisa sebesar Rp. 600.000.000,-. Kalau begitu saya berikan di tahap pertama untuk membantu sebesar Rp. 300.000.000,- rupiah ya ? Berikutnya 300.000.000,- menyusul”.
Kemudian pak Daeng menyampaikan kepada bendahara dan semua yang hadir ; “ Agar mengeluarkan dana Rp. 300 juta rupiah, bisa lebih tapi jangan sampai kurang. Ia pun berkata kepada saya : “Pak Pendeta, beritahu kepada saya jika dana yang diberikan kurangatau di potong.
Apabila sampai kurang saya akan mutasikan mereka semua ke pulau”, sebagai acaman. Pertemuan saat itu sangat berkesan, karena tidak terbayangkan bagaimana proses pembangunan gedung gereja yang terasa rumit dan susah, kini menjadi sangat mudah, sebab mendapatkan dukungan, serta biaya yang tidak sedikit dari seorang bupati yang hatinya telah dijamah Tuhan.
Pdt. Samuel Natar, M.Th
Pendeta GPIB

Comment