Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Korupsi adalah tindakan mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya dan merampas kesempatan orang lain demi kepentingan pribadi….
SURABAYA, gpibwatch.id – Pesan Yesaya tidak berhenti pada sejarah Israel ribuan tahun lalu. Teguran Tuhan terhadap umat yang rajin beribadah tetapi kehilangan keadilan tetap menjadi suara yang relevan bagi manusia masa kini.
Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki banyak ekspresi keagamaan. Rumah-rumah ibadah berdiri di berbagai tempat. Hari-hari besar keagamaan dirayakan dengan penuh semangat. Simbol-simbol agama hadir dalam kehidupan masyarakat.
Namun, pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: apakah kehidupan beragama tersebut telah menghasilkan kehidupan yang lebih adil?
Yesaya mengingatkan bahwa keberagamaan tidak dapat hanya diukur dari banyaknya aktivitas ritual. Tuhan melihat apakah iman tersebut menghasilkan perubahan dalam cara manusia memperlakukan sesamanya.
Sebab persoalan terbesar bukan ketika manusia tidak beribadah, tetapi ketika manusia beribadah tanpa mengalami perubahan hati.
Di sinilah hubungan antara mezbah dan meja korupsi menjadi penting.
Mezbah menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Meja korupsi menggambarkan tindakan manusia ketika mengejar keuntungan pribadi dengan mengorbankan hak orang lain.
Ketika seseorang rajin datang ke tempat ibadah tetapi melakukan tindakan korupsi, maka terjadi pemisahan antara iman dan kehidupan.
Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Korupsi adalah tindakan mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya dan merampas kesempatan orang lain demi kepentingan pribadi.
Keserakahan yang dahulu dikritik Tuhan terhadap Israel tetap menjadi persoalan manusia masa kini.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika simbol agama digunakan tanpa perubahan kehidupan. Terkadang manusia lebih mudah mengubah penampilan daripada mengubah hati.
Padahal Tuhan tidak melihat sekadar apa yang tampak di luar. Tuhan melihat kejujuran, integritas, dan kasih yang diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Agama tidak boleh menjadi tempat berlindung dari tanggung jawab moral.
Orang percaya dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang kebaikan, tetapi menjadi pelaku kebaikan. Bukan hanya berbicara tentang keadilan, tetapi memperjuangkan keadilan.
Sebab ibadah yang tidak menghasilkan keadilan akan kehilangan maknanya.
Dari mezbah menuju meja kehidupan, Tuhan menghendaki umat-Nya membawa nilai yang sama: kebenaran, kasih, dan keadilan.
Pdt. Domidoyo Ratupenu

Comment