PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / SERI REFLEKSI YESAYA (2) : Ketika Mezbah Tidak Lagi Berbicara tentang Keadilan

SERI REFLEKSI YESAYA (2) : Ketika Mezbah Tidak Lagi Berbicara tentang Keadilan

Tuhan tidak membutuhkan persembahan yang besar apabila hati manusia tetap dipenuhi keserakahan dan ketidakadilan….

SURABAYA,thelens.id – Setelah mengingat kembali bagaimana Tuhan membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Yesaya membawa kita kepada sebuah kenyataan yang menyedihkan: bangsa yang telah mengalami kasih dan pembebasan Tuhan justru kehilangan arah hidupnya.

Israel tetap menjalankan aktivitas keagamaan mereka. Mereka tetap membawa persembahan, tetap merayakan hari-hari raya, dan tetap datang ke bait Tuhan. Secara lahiriah, kehidupan keagamaan mereka tampak berjalan dengan baik. Namun, Tuhan melihat sesuatu yang berbeda.

Tuhan tidak melihat banyaknya ritual yang dilakukan, tetapi melihat bagaimana kehidupan umat-Nya dijalankan. Tuhan melihat adanya ketidakadilan, penindasan, dan kehidupan yang jauh dari kehendak-Nya.

Karena itu, melalui Yesaya Tuhan menyampaikan teguran yang sangat keras. Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak berkenan kepada korban-korban yang dipersembahkan apabila kehidupan umat-Nya masih dipenuhi dengan kejahatan.

SERI REFLEKSI YESAYA (1): “Dari Budak Menjadi Bangsa Merdeka: Pembebasan Tuhan dan Panggilan untuk Mengingat”

Persoalannya bukan terletak pada persembahan itu sendiri. Tuhan bukan menolak ibadah. Yang Tuhan tolak adalah ibadah yang kehilangan hubungan dengan kehidupan nyata.

Israel memisahkan antara mezbah dan kehidupan sehari-hari. Mereka datang menyembah Tuhan di bait-Nya, tetapi di luar bait mereka melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Mereka memperlakukan ibadah seolah-olah hanya berkaitan dengan ritual, sementara kehidupan sosial tidak memiliki hubungan dengan iman.

Di sinilah kesalahan besar Israel. Mereka mempersempit Tuhan hanya dalam ruang bait-Nya. Seolah-olah Tuhan hanya hadir di tempat ibadah dan tidak melihat apa yang terjadi di luar tempat itu.

Inilah yang disebut sebagai tindakan mendomestikasi Tuhan: menjadikan Tuhan yang memiliki kuasa atas seluruh dunia hanya sebagai Tuhan yang dibatasi oleh ruang tertentu. Padahal Tuhan bukan hanya Tuhan bagi altar, tetapi Tuhan bagi seluruh kehidupan.

Di Persimpangan Identitas (3): GPIB Menuju Masa Depan

Tuhan tidak membutuhkan korban binatang apabila korban tersebut berasal dari kehidupan yang tidak benar. Tuhan tidak membutuhkan persembahan yang besar apabila hati manusia tetap dipenuhi keserakahan dan ketidakadilan.

 

Karena itu, Tuhan memberikan perintah yang sangat jelas: “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan.”

Pesan ini menunjukkan bahwa bagi Tuhan, ibadah yang sejati selalu menghasilkan perubahan hidup.

Seseorang tidak dapat mengatakan mencintai Tuhan tetapi membenci sesama. Seseorang tidak dapat mengatakan hidup dalam kekudusan tetapi melakukan ketidakadilan.

Teror Menekan, Persoalan Berkelindan MS Terbitkan Surat Penggembalaan

Mezbah Tuhan harus terhubung dengan kehidupan manusia.

Ibadah bukan tempat untuk melarikan diri dari realitas dunia, tetapi tempat untuk mendapatkan kekuatan agar mampu menghadirkan kehendak Tuhan dalam dunia.

Karena itu, pertanyaan penting bagi setiap orang beriman adalah: apakah ibadah kita hanya berhenti di dalam gedung gereja, ataukah menghasilkan kehidupan yang membawa kebaikan bagi sesama?

Tuhan tidak mencari manusia yang hanya terlihat saleh di hadapan manusia, tetapi manusia yang menghadirkan keadilan dalam kehidupan.

Sebab mezbah yang benar selalu membawa manusia kembali kepada kehidupan.

Pdt. Domidoyo Ratupenu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *