Kuasa tanpa kasih hanya melahirkan kesombongan dan menjauhkan manusia dari panggilannya sebagai pelayan….
Surabaya, gpibwatch.id — Kita sering kali tergila-gila menjadi penguasa dan bahkan rela menggadaikan banyak hal demi memperoleh kuasa yang pada akhirnya justru membawa kehancuran.
Namun Yesus mengingatkan melalui para murid-Nya bahwa yang terbesar bukanlah mereka yang mengejar kekuasaan, melainkan mereka yang mempersaksikan kasih Tuhan dengan tulus di tengah dunia yang haus cinta kasih.
Karena itulah para murid diminta menantikan pencurahan Roh Kudus. Tugas untuk mempersaksikan kasih Kristus bukan tugas ringan. Itu adalah panggilan besar yang membutuhkan tuntunan dan kuasa Roh Kudus agar dapat dijalankan dengan setia.
Dalam pergumulan bersama itulah para murid saling menguatkan sambil menantikan janji Tuhan. Kisah Para Rasul 2:1–13 mencatat sebuah peristiwa yang tidak lazim: terdengar bunyi seperti tiupan angin keras dan tampak lidah-lidah seperti nyala api hinggap pada mereka.
Lidah-lidah itu menjadi tanda bahwa Roh Kudus memampukan mereka berbicara sehingga dapat dimengerti oleh banyak orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Yang membuat orang banyak semakin heran ialah karena para murid itu berasal dari Galilea — kelompok yang saat itu sering dipandang rendah, tidak terdidik, dan remeh.
Karena itulah sebagian orang bahkan menuduh mereka mabuk anggur manis. Namun justru melalui orang-orang sederhana itulah Tuhan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya.
Kisah pencurahan Roh Kudus hendak memperlihatkan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menjadi saksi kasih Kristus. Roh Kudus memampukan dan memberdayakan mereka yang sering dianggap kecil, lemah, atau tidak berarti oleh dunia.
Narasi ini sekaligus menjadi kritik profetis terhadap sikap manusia yang merasa besar karena jabatan dan kuasa, tetapi lupa menghadirkan kasih, keadilan, dan pemberdayaan bagi sesama. Sebab kuasa tanpa kasih hanya melahirkan kesombongan dan menjauhkan manusia dari panggilannya sebagai pelayan.
Cerita pencurahan Roh Kudus adalah cerita tentang pemberdayaan. Warga biasa dipakai Tuhan untuk menghadirkan perubahan dan memperbaiki kehidupan bersama. Di tengah dunia yang masih dipenuhi hasrat menguasai dan kecenderungan mendehumanisasi sesama, Roh Kudus justru memanggil manusia untuk memulihkan, menguatkan, dan memanusiakan.
Karena itu, narasi Pentakosta seharusnya menjadi alarm bagi kita semua untuk bertanya: apakah kita sungguh menjadi agen perubahan yang membawa terang kasih Kristus? Ataukah tanpa sadar kita sedang terjebak dalam ambisi dan godaan gila kuasa? /DR/JP
