Marturia
Home / Marturia / “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe” : Ketika Injil Menyapa Budaya Nusantara

“Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe” : Ketika Injil Menyapa Budaya Nusantara

Jangan makan puji. Tidak usah banyak omong. Yang penting lakukan dan kerjakan…

Bekasi, gpibwatch.id – GPIB pernah dikenal sebagai gereja kolonial, gereja pemerintah. Pada masa awal pekabaran Injil, pendekatan pelayanan belum menggunakan pendekatan budaya. Para misionaris dari Eropa kala itu memahami budaya di luar Eropa sebagai budaya kafir, sementara budaya Kristen dianggap identik dengan budaya Eropa.

Hal itu diungkapkan Pdt. Nitis Putrasana Harsono, Ketum MS GPIB XXII, saat melayani sebagai Pelayan Firman dalam Ibadah Minggu Etnis Jawa di GPIB Immanuel Bekasi, Minggu, 10 Mei 2026. Pembacaan Firman diambil dari I Korintus 9:18-24 dengan tema khotbah “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe.”

Menurutnya, banyak nilai luhur Nusantara justru tidak bertentangan dengan Injil. Nilai-nilai budaya itu bahkan menghidupi semesta: menjaga relasi manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan kehidupan itu sendiri.

“Kita bersyukur Allah menyapa semua budaya, Allah merangkul semua umat manusia. Budaya adalah ciptaan manusia, dan semua budaya dapat dipakai untuk mendatangkan sesuatu yang baik,” ungkapnya.

“Biarlah Bulan Bicara Sendiri”

Ia menyoroti filosofi Jawa “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” sebagai ungkapan yang sangat dalam maknanya. Sepi ing pamrih berarti tidak mencari upah atau kepentingan diri sendiri.

“Tuhan, apakah upahku kalau aku sudah bikin begini dan begitu? Tuhan, apakah upahku kalau saya sudah menolong orang? Tentu Tuhan akan menjawab: upahmu adalah lakukanlah terus kebaikan,” katanya.

Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa nilai luhur dari filosofi tersebut adalah terus mengerjakan kebaikan tanpa banyak bicara, tanpa mencari pujian manusia, dan tanpa haus pengakuan.

“Jangan makan puji. Kalau sudah terima pujian, Tuhan tidak akan kasih pujian lagi. Pertanyaannya: mau dapat pujian dari Allah atau pujian dari manusia?” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Yesus tidak meminta manusia menjadi garam dan terang, sebab pada dasarnya orang percaya sudah menjadi garam dan terang dunia. Yang diperlukan adalah menghidupi panggilan itu melalui tindakan nyata.

PST Bukan Tempat Datang, Duduk, Foto, Pulang

“Hidupilah itu. Tidak usah banyak omong. Yang penting lakukan dan kerjakan. Tuhan dengan sendirinya akan memperlengkapi,” ujarnya.

Filosofi Jawa “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” sendiri dimaknai sebagai sikap bekerja dengan giat, sungguh-sungguh, dan aktif tanpa mengharapkan imbalan, pujian, ataupun keuntungan pribadi.

Sebuah nilai budaya yang selaras dengan semangat Injil: bekerja dalam kasih, melayani tanpa pamrih, dan setia berbuat baik tanpa mencari kemuliaan diri. /JP