PERTAMA-tama dasar kesatuan bukanlah struktur organisasi, denominasi, jabatan, atau kesamaan pendapat. Dasarnya adalah persekutuan dengan Kristus. Karena itu, “Gereja dapat memiliki satu organisasi tetapi belum tentu memiliki kesatuan rohani”.
Sebaliknya, orang-orang yang berbeda latar belakang dapat sungguh-sungguh bersatu apabila Kristus menjadi pusatnya. Paulus mengatakan: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak… demikian pula Kristus.” (1 Kori 12:12). Maka pertanyaan yang perlu diajukan dalam kehidupan gereja bukan hanya:
“Apakah kita berada dalam organisasi yang sama?” Tetapi: “Apakah Kristus sungguh menjadi pusat kehidupan kita bersama?
Kedua, Kesatuan bukan berarti semua orang harus sama. Ini sangat penting. Doa Yesus: “supaya mereka semua menjadi satu”. Tidak berarti semua murid harus mempunyai kepribadian, karunia, pemikiran, atau fungsi yang sama.
Dalam 1 Korintus 12, Paulus justru menggambarkan gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota. Ada tangan, kaki, mata, telinga, dan sebagainya. Jadi: kesatuan ≠ keseragaman.Kita boleh berbeda dalam: gaya pelayanan, karunia, metode, pengalaman, latar belakang, tanggung jawab, bahkan dalam beberapa hal cara memahami persoalan praktis.
Tetapi perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan kasih. Prinsipnya: Berbeda dalam fungsi, satu dalam Kristus. Berbeda dalam karunia, satu dalam tujuan. Berbeda dalam cara, satu dalam kasih.
Ketiga, kesatuan harus dibangun di atas kebenaran. Ini juga sangat penting secara teologis. Jangan memahami Yohanes 17 seolah-olah Yesus berkata: “Yang penting bersatu, apa pun yang dipercaya.” Tidak demikian. Ini justru berbahaya.
Sebelum Yohanes 17:21, Yesus berdoa: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” ( Yoh 17:17) Jadi urutannya sangat penting:Firman → kekudusan → kesatuan → kesaksian. Kesatuan Kristen bukan kompromi terhadap kebenaran!! Kita tidak boleh mengatakan: “Demi persatuan, kebenaran tidak penting.”
Justru kebenaran menjadi fondasi kesatuan. Karena itu gereja perlu mempunyai keberanian untuk mempertahankan kebenaran Alkitab, tetapi sekaligus mempunyai kerendahan hati dalam menghadapi hal-hal yang memang bukan inti Injil.
Keempat, Kesatuan dimulai dari pertobatan hati, terutama para pemimpin. Ini mungkin bagian yang paling relevan dengan persoalan yang Anda sampaikan. Kadang-kadang gereja berbicara tentang: “Mari jemaat bersatu.”
Tetapi persoalannya justru dimulai dari atas. Jika para pemimpin: bersaing, mempertahankan pengaruh, mencari popularitas, membangun kelompok, mempertahankan jabatan, mengejar kepentingan organisasi, atau sulit menerima satu sama lain, maka jemaat akan belajar dari pola tersebut.
Karena itu, refleksi Yohanes 17 harus dimulai dari: “Tuhan, apakah kami para pemimpin sudah menjadi jawaban atas doa Yesus?” Bukan hanya: “Mengapa jemaat tidak bersatu? Tetapi: “Apakah kami sebagai pemimpin sudah memberikan teladan kesatuan?”
Paulus menasihati para penatua dan pemimpin gereja dengan prinsip: “Janganlah melakukan sesuatu karena kepentingan diri sendiri atau karena mencari puji-pujian…”( Filipi 2:3) Dan dilanjutkan: “…dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Ini sangat tajam bagi kehidupan kepemimpinan gereja.
Kelima, Kepemimpinan Kristen bukan kompetisi kekuasaan Yesus memberikan prinsip yang sangat berbeda dari pola dunia. Dalam Markus 10:42–45, ketika para murid berbicara mengenai kebesaran dan kedudukan, Yesus mengarahkan mereka kepada hamba.
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Maka dalam gereja: jabatan bukan terutama posisi untuk dilayani, tetapi panggilan untuk melayani. Ini mengubah cara kita memandang kepemimpinan. Bukan: “Ini wilayah saya. Tetapi: “Bagaimana saya dapat melayani tubuh Kristus?” Bukan: “Siapa yang paling berkuasa?” Tetapi: “Siapa yang paling bersedia merendahkan diri untuk kepentingan Kerajaan Allah?”
Keenam, Yohanes 17:21 menuntut kita mengalahkan “kepentingan diri” Salah satu akar perpecahan gereja adalah ketika: kepentingan Kristus digantikan oleh kepentingan diri. Filipi 2:21 mengatakan: “Sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.” Ini merupakan ayat yang sangat relevan untuk refleksi kepemimpinan gereja.
Kita dapat bertanya: Ketika saya mengambil keputusan, apa yang saya cari? Apakah: kepentingan Kristus? pertumbuhan jemaat? kesehatan tubuh Kristus? keselamatan jiwa? kesaksian gereja? Atau: nama saya? posisi saya? kelompok saya? pengaruh saya? kenyamanan saya? kepentingan organisasi saya? Di sinilah doa Yohanes 17 harus masuk ke dalam hati pemimpin.
Ketujuh, Kesatuan harus terlihat dalam cara kita memperlakukan satu sama lain. Kesatuan bukan konsep abstrak. Yesus berkata dalam Yohanes 13:35: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Artinya kesatuan harus terlihat dalam:cara berbicara, cara mengambil keputusan, cara menyelesaikan konflik, cara memperlakukan orang yang berbeda, cara menggunakan kekuasaan, dan cara kita mengampuni.
Kalau seorang pemimpin berkata: “Saya mengasihi Kristus,” tetapi tidak mau berbicara dengan saudara seiman karena konflik pribadi, ada sesuatu yang perlu diperiksa. Kalau seorang pemimpin berkhotbah tentang kasih tetapi membangun kubu-kubu, ada sesuatu yang perlu dipertobatkan.
Kedelapan, Kesatuan tidak berarti meniadakan konflik. Ini juga harus kita pahami. Gereja mula-mula bukan gereja tanpa konflik. Dalam Kisah Para Rasul 6:1–7, muncul persoalan mengenai pelayanan kepada janda-janda.
Dalam Kisah Para Rasul 15, terjadi perdebatan serius mengenai persoalan sunat dan penerimaan orang bukan Yahudi. Tetapi mereka tidak menyelesaikan perbedaan dengan: “Kalau kamu berbeda dengan saya, kamu bukan saudara.” Mereka berkumpul. Mereka mendengar. Mereka berdiskusi. Mereka melihat kesaksian karya Allah.
Mereka kembali kepada firman. Dan mereka mencari kehendak Tuhan. Jadi gereja yang bersatu bukan gereja yang tidak pernah mempunyai konflik. Gereja yang bersatu adalah gereja yang belajar menyelesaikan konflik di bawah otoritas Kristus dan Firman-Nya.
Kesembilan, Kesatuan mempunyai tujuan: “supaya dunia percaya” Ini bagian yang sering terlewat dari Yohanes 17:21. Yesus tidak hanya berkata: “supaya mereka menjadi satu.” Tetapi: “agar dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Dengan kata lain: Kesatuan gereja adalah bagian dari kesaksian Injil.
Ketika dunia melihat orang-orang yang berbeda dapat saling mengasihi karena Kristus, mereka melihat sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh kepentingan manusia. Tetapi sebaliknya, ketika gereja terus-menerus terpecah karena kepentingan para pemimpinnya, kesaksian Injil menjadi terluka.
Karena itu persoalan persatuan gereja bukan sekadar: “Apakah kita nyaman atau tidak?” Ini menyangkut: “Apa yang sedang dunia lihat tentang Kristus melalui kehidupan kita, kepemimpinan kita di gereja, di rumah dan dimasyarakat?”
Sebelum bertanya: “Siapa yang salah?” Tanyakan: “Apa yang Kristus kehendaki?” Bertobat dari kepentingan diri, Mengambil keputusan bersama dalam roh Kristus..Bagaimana dengan GPIB? Semoga renungan ini memberi pencerahan bagi kita. Do the best for God, Soli Deo Gloria.
Dra. Yvonne Diana Taroreh – Loupatty, M.Min
Pendeta GPIB

Comment