Opini
Home / Opini / Tak Kalah, Lembaga Pelayanan Sinodal Alergi dengan Kritik

Tak Kalah, Lembaga Pelayanan Sinodal Alergi dengan Kritik

Kritik tidak akan membuat lembaga sinodal rapuh atau lumpuh. Kritik akan menjadikan lembaga  berkembang lebih pesat apabila mau mendengarkan masukan yang membangun….

JAKARTA, gpibwatch.id – Tak kalah, lembaga pelayanan sinodal alergi dengan kritik, takut dengan narasi satir, takut dengan artikel minor yang transparan, takut dengan pemberitaan yang benar tanpa filter, serta takut diawasi setiap langkah dan gerak-geriknya, termasuk selalu dimonitor tentang kemajuan pelayanan.

Tinggal menunggu waktu ketika lembaga tersebut tetap apa adanya dan tidak mengalami perubahan. Lembaga yang hanya melakukan hal yang sama dari tahun ke tahun, tidak ada sesuatu yang dahsyat, monoton, dan berlangsung berkepanjangan.

Pertanyaannya, apa yang berubah?

Kritik dianggap sebagai musuh. Media satir bukan sahabat pena, bukan sahabat sejati, bukan sahabat dialog, bukan sahabat yang mudah diatur. Padahal, media satir hadir dengan catatan reflektif dan opini yang bertujuan memberikan ruang perenungan.

Bincang Warga dan Presbiter: “Diam Tak Selamanya Emas”

Namun terkadang dan secara berkesinambungan, media ini mampu membuat vertigo kronis, gangguan keseimbangan yang terus menerus dan tidak berhasil diselesaikan dengan terapi.

Lembaga sinodal jangan menganggap kritik sebagai musuh atau lawan. Kritik adalah vitamin, tonikum dalam rangka tumbuh kembang pelayanan apabila sanggup mendengarkan.

Hal ini tidak bisa diabaikan di zaman modern dan zaman digital, ketika informasi dan komunikasi sudah berkembang sangat luas. Pola pikir atau mindset kita jangan terkungkung dalam pola konvensional dan pola tradisional yang gagal memahami cara bernalar dan berlogika sesuai perkembangan zaman.

Ketika lembaga pelayanan sinodal merasa terancam atau alergi terhadap sebuah situs web independen yang kritis dan satir, lembaga tersebut berusaha mempertahankan diri, mungkin melalui surat pernyataan. Para pakar melihat tindakan mengeluarkan disclaimer ini sebagai strategi pertahanan klasik (defensive mechanism) yang mencerminkan ketakutan akan hilangnya kontrol informasi.

Pertanyaannya kepada kita, baik sebagai jemaat GPIB maupun sebagai Fungsionaris Majelis Sinode GPIB XXII, apakah kita alergi dengan berita kritis dan satir? Apakah kita alergi dengan perbedaan pendapat dan pandangan? Mungkinkah?

Ketika Konflik Kepemimpinan Gereja Menjadi Ujian Rekonsiliasi: Refleksi atas Polemik Pelengseran Pendeta Ebser M. Lalenoh

Jawabannya ada pada kita masing-masing.

Satu hal yang harus kita pahami bersama, kritik tidak akan membuat lembaga sinodal rapuh atau lumpuh. Sebaliknya, kritik akan menjadikan lembaga ini berkembang lebih pesat apabila mau mendengarkan masukan yang membangun.

Laus Deo. /JP

 

SK MS yang Bikin Blunder (3): Ke Bareskrim Polri, Bakal Ada yang Dinonaktifkan Lagi?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *