Memori terindah yang lama menyentuh hati tidak dapat di-death cleaning dalam tempo singkat,, keikhlasan terasa berat…
Jakarta, gpibwatch.id — Masyarakat mulai sadar akan perlunya Psychological Death Cleaning. Lansia tidak hanya membuang “koleksi” benda yang tidak lagi bermanfaat, melainkan juga membuang “perasaan negatif”, “pemikiran destruktif”, cemburu, iri, dengki, angkara murka, atau dendam kesumat.
Semakin lanjut usia, sepatutnya kita melakukan Psychological Death Cleaning, yaitu menata kembali pola kehidupan agar nrimo ing pandum, sumeleh lan sumarah terhadap takdir kehidupannya.
Psychological Death Cleaning dapat meningkatkan daya tahan, kesehatan mental, positive thinking, keceriaan, dan kebahagiaan. Diharapkan setelah proses itu, seseorang dapat merasa ikhlas bila sewaktu-waktu dipanggil ke haribaan-NYA.
Namun kenyataan di dunia nyata, masih banyak yang sulit melepaskan kelekatan terhadap apa yang dimilikinya saat ini. Mereka terkadang beranggapan bahwa barang-barang tersebut memiliki nilai khusus dalam hati sanubari yang sukar dilepaskan begitu saja. Memori terindah yang lama menyentuh hati tidak dapat di-death cleaning dalam tempo singkat. Bagi mereka, barang itu terasa sakral.
Konteks kedua yang sulit dihindari adalah post power syndrome. Pada saat seseorang yang pernah memiliki jabatan, kedudukan, harta, dan pengaruh harus melepaskannya, keikhlasan terasa berat. Seperti berlari di tempat yang kebanjiran — lelah, tetapi tidak bergerak maju. Psychological Death Cleaning menjadi beban bagi sebagian orang. Tidak semua bisa menerimanya. Perlu waktu adaptasi, hati yang besar, serta faktor-faktor pendukung agar dapat keluar dari tekanan, sehingga hati menjadi bersih dan mampu melanjutkan kehidupan baru tanpa kenangan yang menghambat.
Panggilan untuk melaksanakan Psychological Death Cleaning semakin terasa di hari-hari menjelang uzur. Dengan ikhlas menerima kenyataan hidup yang suatu saat tak dapat kita hindari, kita menyadari bahwa semua ini hanyalah titipan Ilahi. Sebaiknya kita membersihkan diri dari segala pengaruh duniawi sebelum menghadap-NYA./ Dibyo Sumantri Priambodo (kutipan awal) – JP (refleksi)
