Nongkrong, kopi, dan realitas kepemimpinan gereja…..
Jakarta, gpibwatch.id — Nongkrong—atau nongky—di kafe selalu melahirkan ruang yang jujur. Brainstorming terjadi begitu saja, mengalir tanpa batas. Tak ada nada tinggi, tak ada interupsi yang mematikan gagasan. Semua membuka telinga, saling mendengar, saling menyapa balik. Diskursus bergerak seperti aliran darah muda—lancar, hidup, meski sesekali ada sanggahan, tetap dalam koridor bercanda, berpikir, dan bernalar.
Di tengah seruput kopi hitam yang masih mengepul, tiba-tiba Mr. X melontarkan pertanyaan yang sederhana namun mengguncang: “Mana sebenarnya yang lebih tinggi kedudukannya, Pendeta atau Penatua–Diaken?”
Ia melanjutkan dengan santai, namun jelas: “Pendeta melamar, sedangkan Penatua–Diaken dipilih jemaat. Tapi kenyataannya, baik di jemaat maupun di sinode, Pendeta lebih dominan.” Lalu ia menyebut satu istilah dengan alis terangkat: Sun Hodos.
Diskusi tetap santai. Tawa kecil sesekali pecah. Namun pertanyaan itu tidak ringan. Kita tahu, dalam gereja kita—GPIB—sistem yang dianut adalah Presbiter Sinodal. Sistem yang menegaskan keputusan diambil secara kolektif dan kolegial. Sistem yang diwariskan turun-temurun. Sistem yang sakral dalam teori: berjalan bersama.
Namun di lapangan, kita tak perlu hipokrit. Realitas sering berbicara lain. Pendeta kerap lebih menguasai arena dibandingkan Penatua–Diaken. Yang seharusnya berjalan bersama, terkadang berjalan di belakang satu figur.
Jika mengambil teori perwakilan secara murni, mestinya Penatua–Diaken memiliki mandat yang lebih kuat, karena mereka dipilih oleh jemaat. Sementara Pendeta hadir melalui proses melamar dan penempatan. Di sini muncul ketegangan antara panggilan pribadi dan mandat komunal.
Topik warung kopi ini memang tidak masuk dalam agenda persidangan. Ia terlalu sensitif. Terlalu sentimental. Namun justru karena itu ia nyata. Ia hidup dalam bisik-bisik pelayanan, dalam ruang-ruang tak resmi yang sering lebih jujur daripada forum formal.
Seruput kopi yang terakhir terasa lebih dalam. Sebuah pertanyaan diam muncul di hati: Perlukah kesadaran bagi para pelamar bahwa mereka bukan segala-galanya? Ataukah para rekan sepelayanan terlalu enggan menyuarakan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab bersama—bukan monopoli satu suara?
Diskusi itu tak pernah selesai. Tak pernah ada konklusi. Namun mungkin memang tidak semua percakapan harus berakhir dengan keputusan. Ada diskusi yang fungsinya bukan untuk memutuskan, melainkan untuk menyadarkan. Dan nongky kafe, dengan segala kesederhanaannya, terus melahirkan ide-ide cemerlang—tanpa mimbar, tanpa palu sidang, tanpa seremonial. Hanya kejujuran, secangkir kopi, dan keberanian untuk bertanya./JP
