Gelar di pundak—strata dua, strata tiga, dan segala “strata-strataan”—sering kali menjadi kebanggaan yang diam-diam membangun tembok pemisah…
Jakarta, gpibwatch.id — Tak perlu mencari-cari kesalahan sesama hanya untuk membuktikan bahwa kitalah yang paling benar. Hiduplah dalam kebenaran itu sendiri—maka yang salah akan tampak dengan sendirinya.
Akan jauh lebih indah bila kebenaran yang kita hidupi mampu menuntun mereka yang tersesat kembali ke jalan yang benar. Kepandaian yang kita miliki bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menolong yang belum mengerti agar bertumbuh. Namun realitas tak selalu seindah harapan.
Tidak semua orang mampu legowo melihat kepintaran orang lain. Bahkan ketika tak lagi mampu bersaing, ego dan keakuan kerap tetap ditonjolkan. Gelar di pundak—strata dua, strata tiga, dan segala “strata-strataan”—sering kali menjadi kebanggaan yang diam-diam membangun tembok pemisah.
Dalam lembaga dan organisasi pelayanan pun gejala ini bisa muncul. Pergaulan dengan komunitas “high strata” tanpa disadari dapat melahirkan dikotomi di antara sesama pelayan. Dan secara perlahan, penyakit tinggi hati pun terpelihara—kadang samar, kadang nyata.
Padahal kebenaran dan kepintaran seharusnya berjalan beriringan dalam sukacita dan damai sejahtera Allah. Di sanalah setiap orang dapat menikmati hikmat dan kasih karunia-Nya—bukan karena gelar, bukan karena strata, melainkan karena anugerah. /JP
