Di tengah politik yang lalim, penyalahgunaan agama, dan jurang sosial, gereja harus bersuara…
Surabaya, gpibwatch.id — Kisah pencobaan Yesus sering dibaca sekadar dialog dengan iblis. Namun, jika melihat konteks Injil Matius sekitar tahun 60 M—ketika Nero menindas orang Kristen—narasi ini juga kritik sosial dan politik yang tajam.
Pencobaan pertama: iblis berkata, “Jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu ini menjadi roti.” Kata “jika” menunjukkan keraguan dan tekanan duniawi. Yesus menjawab, “Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman Allah.” Hidup manusia bukan milik iblis, bukan milik kekuasaan atau kebutuhan duniawi, tetapi milik Allah.
Pencobaan kedua: di bubungan Bait Allah, iblis berkata, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu, Allah akan menyelamatkan-Mu.” Simbol bagi tokoh agama yang menyalahgunakan kuasa. Yesus menolak, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu!” Kesetiaan kepada Allah tetap diutamakan, bukan manipulasi kuasa.
Pencobaan ketiga: di gunung tinggi, iblis menawarkan semua kerajaan dunia. Simbol kuasa politik absolut dan kemewahan. Yesus menegaskan, “Enyahlah, iblis!” Hidup, kuasa, dan penyembahan sejati hanya milik Allah.
Pesan bagi gereja hari ini: di tengah politik yang lalim, penyalahgunaan agama, dan jurang sosial, gereja harus bersuara. Diamnya gereja bisa menjadi bagian dari “iblis” yang terus mencobai Tuhan. Seperti Yesus, gereja dipanggil menegaskan kebenaran dan keadilan: “Enyahlah, iblis!/ DR/JP
