Opini
Home / Opini / Pdt. Nicodemus Boenga: “GPIBWATCH dan Semangat Kritik yang Membangun”

Pdt. Nicodemus Boenga: “GPIBWATCH dan Semangat Kritik yang Membangun”

Gereja memang perlu dikritik, sebab selalu ada hal-hal yang harus dibenahi, terlebih dalam tradisi Protestan…..

Tanjungpinang, gpibwatch.id – GPIBWATCH mungkin lahir oleh zaman. Tidak ada yang benar-benar kebetulan.

Segala sesuatu yang lahir biasanya berangkat dari niat yang baik. Tinggal bagaimana semangat itu dipertahankan, supaya keberadaan GPIBWATCH tetap menjadi salah satu instrumen yang berguna bagi pekerjaan gereja.

Ketua IV MS GPIB, Ditunggu Manuvernya

Silakan memberi kritik, masukan, bahkan koreksi. Namun akan lebih baik bila disertai usul dan saran yang masuk akal serta dapat dipertanggungjawabkan.

Kritik yang sehat bukan hanya menunjuk kesalahan, tetapi juga membantu menghadirkan jalan keluar.

Kalau boleh diibaratkan, jadilah seperti rujak: ada pedasnya, ada manisnya, ada asamnya, ada asinnya. Walaupun kadang membuat air mata keluar, tetapi tetap menghadirkan rasa yang membuat orang ingin membaca dan merenung kembali.

Anatomi Geng Motor di Makassar

Kita patut bersyukur GPIBWATCH hadir.

Gereja, termasuk GPIB, membutuhkan kontrol dan masukan yang jujur. Gereja yang sehat bukan gereja yang anti kritik, melainkan gereja yang mau belajar, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh.

Pesan Agamis Presiden Prabowo: Hidup rukun, Toyib Batun Warobbun Gofur

Mengkritik gereja harus lahir dari iman yang tulus. Motivasi perlu diuji, supaya setiap masukan benar-benar berguna bagi pelayanan, bukan sekadar menjadi luapan emosi atau konflik pribadi.

Gereja memang perlu dikritik, sebab selalu ada hal-hal yang harus dibenahi, terlebih dalam tradisi Protestan yang sejak awal menempatkan evaluasi dan pembaruan sebagai bagian penting kehidupan bergereja.

Karena itu, GPIBWATCH tetaplah semangat mengambil bagian dalam pelayanan.

Jangan terpengaruh oleh konflik pribadi. Fokuslah pada pelayanan yang membangun gereja melalui pikiran-pikiran yang jernih, ide-ide yang cemerlang, sekaligus keberanian mengkritik hal-hal yang tidak masuk akal dalam kehidupan gereja, baik yang dilakukan pemimpin, pendeta, maupun majelis jemaat.

Namun tetap perlu hati-hati. Ini adalah media pelayanan. Jangan sampai menyediakan “peluru” berlebihan bagi pihak luar yang dapat memakai potongan kata atau narasi di luar konteks, lalu menjadikannya sesuatu yang justru membahayakan gereja.

Karena itu, kritik tetap harus terukur, bertanggung jawab, dan menjaga marwah pelayanan.

“Kritik yang lahir dari kasih akan membangun gereja, bukan meruntuhkannya.”  /Bung Nico/Bung John