Belajar Menilai Diri di Tengah Tantangan Zaman…
Banjarmasin, gpibwatch.id — “Pemimpin yang baik bukan hanya berani menilai orang lain, tetapi juga berani menilai dirinya sendiri.” Pemimpin tidak hanya berbicara untuk orang lain, tetapi juga berbicara kepada dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin.
Kepemimpinan yang baik dibentuk melalui evaluasi—evaluasi dari berbagai pihak, termasuk keberanian mengevaluasi diri sendiri. Justru di situlah letak kedewasaan seorang pemimpin.
Kita melihat bagaimana para mantan pejabat GPIB yang pernah dikagumi di zamannya, kini bercerita tentang GPIB pada masa mereka, membandingkannya dengan GPIB hari ini, sekaligus memberi pandangan mengenai GPIB di masa yang akan datang.
Dari sana terlihat bahwa perjalanan organisasi selalu membutuhkan refleksi dan pembelajaran lintas generasi.
Dalam mengambil sikap maupun tindakan, seorang pemimpin perlu berani melakukan introspeksi diri. Pemimpin juga perlu belajar memahami persepsi dan penilaian orang lain terhadap dirinya, sekaligus menilai dirinya sendiri secara jujur, agar tercipta keseimbangan.
Semua itu tetap dijalankan dengan budaya ketimuran yang menjaga perasaan dan penghormatan terhadap rekan-rekan sepelayanan.
Harapannya, GPIB terus berupaya menjawab tantangan zaman—baik di era digital maupun dalam konteks Indonesia saat ini, ketika situasi ekonomi belum sepenuhnya membahagiakan banyak pihak.
Dan tidak ada salahnya apabila semangat UGAHARI kembali dihidupkan, seperti usulan Ketum MS GPIB XXI, Pdt. PK Rumambi, yang memiliki kepedulian agar GPIB hidup lebih sederhana, bijaksana, dan tetap membumi di tengah jemaat serta masyarakat.
“Introspeksi adalah keberanian seorang pemimpin untuk bercermin sebelum menilai orang lain.”/ SR/JP
