Menurut Aristoteles, kesempurnaan akal harus dipertajam dengan ilmu pengetahuan agar manusia mampu bernalar…
Jakarta, gpibwatch.id – Sambil ngopi menunggu istri belanja, sekadar mengisi waktu untuk berbagi. Saya memperhatikan, banyak hal yang menjatuhkan nilai diri seseorang berawal dari ketidakmampuan dalam pengendalian diri.
Semakin bertambah usia, seharusnya semakin matang pula cara kita mengendalikan emosi. Di usia yang tidak lagi muda, pengendalian diri menjadi sangat penting karena menyangkut citra dan harga diri yang sudah berlabel senior.
Alat pengendalian diri adalah akal, dan hasil kerjanya terwujud dalam tindakan. Ketika akal tidak mampu bernalar dengan baik, maka tindakan yang lahir pun bernilai buruk dan dapat berdampak pada diri sendiri maupun orang lain.
Menurut Aristoteles, kesempurnaan akal harus dipertajam dengan ilmu pengetahuan agar manusia mampu bernalar secara bijaksana dan sempurna. Pengalaman hidup serta pemahaman akan nilai kemanfaatan juga sangat diperlukan. Karena itu, seseorang dituntut untuk terus belajar agar akalnya tetap tajam dan menghasilkan tindakan yang maslahat bagi kemanusiaan.
Pengendalian diri mencakup banyak hal: cara berperilaku, cara berpikir dan berucap, respons seseorang ketika menghadapi masalah, kemampuan mengendalikan pikiran yang baik serta menolak pikiran negatif. Demikian ujar dr. Bahtiar Husain.
Namun dalam kenyataannya, semua itu juga bergantung pada “jam terbang” seseorang dalam bernalar dan memahami arti pengendalian diri. Tidak jarang kita pun larut dalam emosi sesaat yang sebenarnya tidak membawa guna maupun manfaat.
Kedewasaan dalam berpikir, kedewasaan dalam bertindak, serta kedewasaan dalam menjalani banyak hal merupakan bagian dari pengendalian diri yang secara tidak langsung membatasi kita dari persoalan-persoalan yang dapat menimbulkan trauma, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pengendalian diri sangat dibutuhkan saat ini, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik di bidang ekonomi, budaya, sosial, maupun dalam kehidupan digital, khususnya media sosial yang berkembang begitu cepat dan sering kali tanpa batas.
Sembilan Buah Roh dalam Galatia 5:22–23 telah mengajarkan kita sebagai orang percaya kepada Yesus Kristus tentang: Kasih (Love/Agape), Sukacita (Joy), Damai Sejahtera (Peace), Kesabaran (Patience/Longsuffering), Kemurahan (Kindness), Kebaikan (Goodness), Kesetiaan (Faithfulness), Kelemahlembutan (Gentleness/Meekness), dan Penguasaan Diri (Self-control).
Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi pegangan di tengah dunia yang serba instan saat ini. Pertanyaannya, maukah kita melangkah dan bersikap dalam tatanan nilai yang sudah diajarkan itu?
Di sinilah diperlukan konsep pengendalian diri yang bermartabat./JP
