Jakarta, gpibwatch.id – Bung Karno pernah digambarkan dalam sebuah percakapan dengan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito. Dalam dialog itu, Tito dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa negaranya akan tetap kuat dan terjaga karena memiliki tentara yang tangguh untuk melindungi bangsa.
Kemudian ia bertanya kepada Bung Karno:
“Bagaimana dengan negara Anda?”
Dengan tenang Bung Karno menjawab,
Saya tidak khawatir, karena saya telah meninggalkan kepada bangsa saya sebuah way of life, yaitu Pancasila...
Sejarah kemudian mencatat bahwa Yugoslavia yang dahulu tampak kokoh akhirnya mengalami perpecahan menjadi beberapa negara: Serbia, Kroasia, Bosnia, Slovenia, Montenegro, Kosovo, dan Makedonia Utara.
Sementara Indonesia, meskipun terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya, tetap berdiri sebagai satu bangsa—meski tidak lepas dari dinamika dan tantangan kebangsaan.
Menurut sebagian pandangan para ahli sejarah di Serbia, di antara Indonesia dan Yugoslavia, secara teori justru Indonesia lebih berpotensi mengalami disintegrasi. Hal ini karena Yugoslavia dianggap lebih homogen dan wilayahnya lebih menyatu, sementara Indonesia sangat luas dan sangat beragam.
Namun kenyataannya berbeda. Indonesia tetap bertahan sebagai satu kesatuan bangsa, sementara Yugoslavia akhirnya terpecah.
Pancasila bukan sekadar ide. Ia adalah nilai yang digali dari bumi Indonesia sendiri—dari tradisi, kebudayaan, dan jiwa bangsa. Bung Karno pernah menegaskan bahwa beliau bukan menciptakan Pancasila, melainkan menggali lima mutiara yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia.
Refleksi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Bangsa
Sebagaimana kita ketahui bersama sebagai putra bangsa yang mengamini Pancasila sebagai landasan ideologi Bangsa Indonesia, nilai ini seharusnya terus dihidupi dalam kehidupan kita yang sangat beraneka ragam suku dan bahasa, di mana di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendiri bangsa, sehingga negara ini tetap terjaga, tetap bersatu, dan terus diingatkan untuk hidup dalam persatuan.
Jadikan Pancasila sebagai karakter bangsa yang menjunjung tinggi indahnya hidup berdampingan dalam konteks perbedaan yang begitu tinggi. Masyarakat kita yang heterogen, justru menemukan kekuatannya dalam karakter Pancasila yang mampu menembus sekat-sekat, dan menciptakan keindahan dalam kebersamaan.
Jadikan Pancasila sebagai inspirasi dan ilham dalam kehidupan majemuk dengan berbagai latar belakang agama, keyakinan, serta referensi pengetahuan setiap insan yang berbeda, termasuk cara pandang dan persepsi yang tidak selalu sama dalam memahami setiap persoalan berbangsa dan bermasyarakat.
Lima dasar Pancasila yang telah dicetuskan mengandung makna dan hikmah yang harus dijalankan, agar nilai toleransi tercipta—saling menghargai, saling menjaga, dan saling mencintai dalam segala perbedaan dan keberagaman.
Nilai-nilai yang terwujud mengantar kita untuk menghayati bahwa ada Tuhan yang mengatur segala lika-liku kehidupan manusia—langkah, napas, dan perjalanan hidup kita. Semua bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Esa.
Nilai itu juga mengarahkan kita untuk menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara beradab dalam kemanusiaan yang adil dan berimbang, yang kemudian dibingkai dalam persatuan dan kesatuan Indonesia. Walaupun berbeda, kita tetap satu: satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.
Dalam momentum Hari Lahir Pancasila, sebagai masyarakat yang mencintai kedamaian, kita dipanggil untuk hidup dalam sistem kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan melalui musyawarah dan perwakilan yang kita percayai demi kemajuan bangsa.
Seluruhnya berpijak pada nilai keadilan: tidak tebang pilih, tidak memihak, dan tidak diskriminatif, sehingga hukum dapat ditegakkan dengan adil, dan toleransi sosial dapat hidup dalam ruang kebangsaan yang sehat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jadikan Pancasila sebagai marwah kehidupan, agar kita senantiasa saling menghormati, saling menghargai, dan saling menjaga dalam keanekaragaman.
Sebab bila uang hilang, ia masih bisa dicari. Namun bila negeri hilang, tidak ada lagi tempat untuk kembali. Di sanalah napas, darah, keringat, dan sejarah kita berpijak. Menjaga Indonesia berarti menjaga diri kita sendiri. Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 1945 – 1 Juni 2026
Catatan redaksi: Naskah ini merupakan adaptasi dari narasi yang beredar di ruang digital, kemudian disunting dan dikembangkan sebagai tulisan reflektif kebangsaan./JP
