Marturia
Home / Marturia / Mencari Jalan, Menemukan Kebenaran

Mencari Jalan, Menemukan Kebenaran

GPIB saat ini slogannya memberikan kesaksian. Kesaksian apa? Kesaksian pujian dan nyanyi saja. GPIB cenderung monoton, dan sudah merasa berada dalam zona aman….

Jakarta, gpibwatch.id – Pemahaman dan pengalaman iman seseorang tentu berbeda-beda dalam memaknai perjalanan hidupnya. Setiap orang membutuhkan kepastian bahwa apa yang diimaninya bukan sekadar keyakinan semata, melainkan mampu memberikan arah, makna, dan jawaban bagi kehidupannya.

Pengalaman demi pengalaman yang dialami seseorang sebelum mengamini suatu iman sering kali menjadi bagian dari proses pencarian kebenaran. Dalam proses tersebut, tidak jarang manusia membutuhkan pembuktian untuk meyakinkan dirinya apakah jalan yang ditempuh benar merupakan jalan kebenaran atau hanya harapan dan bayangan yang bersifat sementara.

Pdt. Hendrik Likumahwa Melayani di GPIB Pura Tajur Halang Bogor

Perjalanan menuju sebuah keyakinan sering kali tidak mudah. Ada pergumulan, pencarian, dan perjuangan batin yang harus dilalui agar seseorang semakin yakin bahwa pilihan imannya tidak keliru, melainkan membawanya kepada pemahaman yang lebih dalam tentang makna kehidupan yang sesungguhnya.

Dalam wawancara melalui WhatsApp dengan Tim Redaksi GPIBWATCH pada 31 Mei 2026, Bro. Iwan Sukmawan, Ketua PKLU GPIB Jemaat ‘Hosiana’ Jakarta Pusat, membagikan perjalanan imannya sebelum menjadi pengikut Kristus.

Pancasila sebagai Way of Life Bangsa

Saya dulu bukan beragama Kristen. Awalnya saya mengikuti ajakan istri untuk datang kepada Kristus ketika berusia 50 tahun, tepatnya pada 24 Agustus 2003.

Menurutnya, pengalaman yang sangat membekas terjadi pada 6 Juli 2017. Saat itu ia merasa mendengar suara yang begitu jelas dan kuat.

“Saya mendengar suara yang berkata, ‘Berpuasalah.’ Saya sadar ada suara, tetapi tidak ada orang di sekitar saya. Saya menjawab dalam hati, ‘Baik, besok saya akan berpuasa.’ Keesokan harinya, hari Kamis, saya mulai berpuasa. Awalnya terasa berat seperti orang yang sedang menjalani hukuman, tetapi Puji Tuhan saya dapat menjalaninya dengan kuat,” tuturnya.

Edisi Juni 2026

Ia menambahkan bahwa sebelum pengalaman tersebut, dirinya telah menghafal sejumlah firman Tuhan yang menurutnya penuh kuasa. Selama menjalani puasa, ia terus membaca dan merenungkan firman tersebut.

Menurut pengakuannya, pengalaman serupa terjadi beberapa kali pada tahun 2017. Salah satunya ketika ia merasa didorong untuk berdoa bagi adik iparnya yang sedang mengalami sakit berat dengan demam tinggi hingga kondisinya sangat lemah. Setelah didoakan, ia bersyukur karena kondisi adik iparnya berangsur membaik.

Pengalaman lainnya terjadi pada 28 Desember 2017 menjelang ibadah Perayaan Natal di gereja. Saat itu ia kembali merasa mendengar dorongan yang mengatakan, “Mandilah.”

Mengenang masa sebelum menjadi pengikut Kristus, Bro. Iwan mengaku berasal dari latar belakang Buddhis, meskipun tidak aktif menjalankan ibadah maupun mempelajari ajarannya secara mendalam.

“Orang tua dari pihak ibu memiliki keluarga yang cukup beragam. Ada yang beragama Islam. Saya juga pernah menjalani puasa Senin-Kamis dan mengenal beberapa praktik spiritual dan pernah menjalani tirakat selama tujuh hari tujuh malam yang dilakukan dan dijalani pada masa itu.”

Setelah menjadi pengikut Kristus, Bro. Iwan cukup sering diminta memberikan kesaksian dalam berbagai persekutuan Full Gospel.

“Yang saya sampaikan adalah bahwa firman Tuhan itu hidup dan nyata. Tuhan Yesus bekerja dalam kehidupan saya dan banyak hal yang saya alami menjadi kesaksian tentang penyertaan-Nya.”

Ia menjelaskan bahwa Full Gospel bukanlah sebuah gereja, melainkan wadah persekutuan yang beranggotakan para pria dari berbagai latar belakang profesi dan usaha yang saling mendukung dalam doa, berbagi pengalaman hidup, serta menguatkan satu sama lain melalui kesaksian iman.

Mengenai kehidupan bergereja, Bro. Iwan juga menyampaikan pandangan kritisnya terhadap GPIB. Menurutnya, semangat kesaksian yang sering disampaikan gereja perlu diwujudkan secara lebih nyata dalam kehidupan jemaat sehari-hari.

GPIB saat ini slogannya memberikan kesaksian. Kesaksian apa? Kesaksian pujian dan nyanyi saja. GPIB cenderung monoton, dan sudah merasa berada dalam zona aman.

Sedangkan ada gereja-gereja lain yang terus berupaya meningkatkan kualitas kehidupan rohani jemaatnya.  Pertumbuhan iman perlu terus didorong agar tidak berhenti pada rutinitas peribadahan, tetapi juga menghasilkan kesaksian hidup yang nyata di tengah masyarakat.

Catatan Redaksi (Bro. John Paulus):

Kesaksian perjalanan iman yang disampaikan Bro. Iwan Sukmawan mengingatkan kita pada perkataan Yesus dalam Yohanes 14:6:

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.

Setiap perjalanan iman memiliki kisahnya sendiri. Kesaksian Bro. Iwan menunjukkan bahwa pencarian yang sungguh-sungguh dapat membawa seseorang kepada keyakinan yang diyakininya sebagai jalan hidup yang benar.