Paskah tidak pernah usang, sebab yang dirayakan adalah karya Allah yang terus berlangsung….
Jakarta, gpibwatch.id — Perayaan Paskah terus dirayakan oleh gereja. Ada yang menyebut 40 hari, ada pula yang merentangkannya hingga 50 hari sampai Pentakosta. Dalam rentang itu, iman tidak sekadar mengingat, tetapi menghidupi.
Itulah sebabnya kalangan Kantor Majelis Sinode GPIB masih merayakan Paskah – 25 April 2026—dan “tidak basi,” sebagaimana dikatakan Pdt. Nitis Putrasana Harsono. Paskah tidak pernah usang, sebab yang dirayakan adalah karya Allah yang terus berlangsung.
Berbeda dengan tradisi yang menempatkan Paskah sebagai pusat tunggal, pemahaman iman GPIB melihat seluruh peristiwa Kristus—dari kelahiran hingga kenaikan—sebagai satu kesatuan yang hidup. Semuanya menuntun pada pertumbuhan iman.
Kalender liturgi menolong memberi ritme, namun tidak membatasi makna. Setiap hari adalah ruang perayaan, dan setiap hari Minggu adalah gema kebangkitan—ungkapan sukacita yang terus diperbarui.
Ungkapan iman gereja tidak berhenti pada institusi, melainkan hadir dalam setiap insan gereja. Kehadiran itu tampak dalam keberanian—bukan keberanian yang serampangan atau tanpa dasar, melainkan keberanian yang berakar pada kebenaran.
Paskah menegaskan bahwa kemenangan ada pada kasih, pengampunan, keadilan, dan kebenaran—nilai-nilai yang dihidupi Yesus sepanjang hidup-Nya. Ketika Ia mati, seolah semuanya kalah: kebenaran, kejujuran, bahkan cinta. Namun kenyataannya tidak demikian.
Kebangkitan menyatakan bahwa kebaikan Allah tidak pernah gagal. Ia tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan dan menerima kita sebagai anak-anak-Nya.
Karena itu, Paskah tidak pernah basi. Ia selalu baru—setiap kali dihidupi, setiap kali iman bertumbuh di dalamnya. /JP
