“Tinuluk paki kareso, nanigappai minasa ta.” Berusahalah dengan sungguh-sungguh, sebab tidak ada usaha yang mengkhianati hasil….
Makassar, gpibwatch.id — Ada tokoh-tokoh besar dalam sastra klasik Makassar yang tidak lahir dari darah bangsawan. Mereka lahir dari keringat. Salah satunya adalah Tinuluk.
Namanya mungkin tidak setenar para karaeng, tidak pula seagung tokoh-tokoh perang dalam lontara. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Tinuluk bukan pewaris takhta. Ia adalah pewaris pesan. Dan sering kali, pesan jauh lebih berharga daripada kekuasaan.
Warisan yang Tidak Biasa
Tinuluk menerima tiga peti dari orang tuanya. Isinya bukan emas, bukan permata, melainkan perak jingara’—mata uang Kerajaan Gowa.
Namun yang terpenting bukan isi peti itu, melainkan wasiatnya: Jangan gunakan untuk kemewahan. Jangan untuk membeli status. Gunakan untuk membeli ilmu. Harta bisa habis. Ilmu bertumbuh.
Tiga Fondasi Hidup
Tinuluk menukar jingara’ itu dengan pengetahuan.
Dari guru pertama, ia belajar: Syukuri yang sedikit, karena dari situlah datang yang banyak.
Dari guru kedua: Kepercayaan lebih berharga dari harta. Sekali rusak, sulit kembali.
Dan dari guru ketiga: Jangan menolak maksud baik, karena rezeki sering datang melalui orang lain.
Tiga pelajaran ini menjadi fondasi hidupnya.
Memulai dari Bawah
Tinuluk pergi ke kota—bukan untuk menjadi kaya mendadak, melainkan untuk bekerja.
Ia melihat orang membersihkan sampah di depan toko, lalu dibayar. Ia melakukan hal yang sama, tetapi dengan cara berbeda: * Lebih pagi * Lebih rapi * Lebih berinisiatif.
Ia tidak sekadar bekerja. Ia memberi nilai tambah. Yang satu menunggu perintah. Yang lain membaca kebutuhan.
Kesempatan dan Kepercayaan
Berminggu-minggu berlalu. Seorang saudagar melihat konsistensinya.
Tinuluk diberi pekerjaan, penghasilan, dan tempat tinggal. Bukan karena belas kasihan, melainkan karena kualitas. Ia terus belajar—membaca lontara, menulis, berhitung, dan mengelola administrasi. Hingga akhirnya, seluruh toko dipercayakan kepadanya.
Kerja keras membuka pintu. Konsistensi membuat bertahan. Dedikasi melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah tangga menuju puncak.
Dari Toko ke Istana
Kesempatan lebih besar datang. Tinuluk mengikuti seleksi juru tulis kerajaan—dan ia berhasil. Dari pelataran toko, ia masuk ke lingkungan istana. Dari pekerja biasa, ia menjadi juru tulis, lalu sekretaris kerajaan.
Ketika raja menunaikan ibadah haji, pemerintahan dipercayakan kepadanya. Ia tidak menyia-nyiakan amanah itu. Keamanan meningkat. Administrasi tertata. Pendapatan kerajaan bertambah. Prestasi bukan kebetulan—ia lahir dari kerja yang terarah.
Kemuliaan yang Diusahakan
Tinuluk akhirnya diangkat menjadi menantu raja dan diberi gelar: Karaeng Maccini Ayo. Bukan karena keturunan. Melainkan karena jasa.
Relevansi Zaman Kini
Kisah ini menjadi cermin bagi dunia modern: Banyak orang ingin hasil cepat. Ingin dihormati tanpa proses. Ingin jabatan tanpa kompetensi.
Padahal jawabannya sudah lama ada: Kemuliaan tidak diwariskan—ia diusahakan. Tinuluk tidak menjadi besar karena warisan. Ia menjadi besar karena cara menggunakan warisan itu.
Pelajaran Utama
Investasi terbaik bukan pada benda, melainkan pada karakter dan pengetahuan.Semangat itu terangkum dalam pesan bijak:
“Tinuluk paki kareso, nanigappai minasa ta.” Berusahalah dengan sungguh-sungguh, sebab tidak ada usaha yang mengkhianati hasil.Ini bukan sekadar pepatah. Ini adalah jalan hidup. Dan Tinuluk telah membuktikannya.
— Pen Palallo
Sungguminasa, 25 April 2026-
