DERAP layan kegiatan pembangunan gereja di Ranai sebagaimana tulisan ke-1 cukup memberi pesan bagaimana gereja hadir karena peran warga gereja bersama-sama dengan pemerintah setempat.
Pemberian tanah hibah oleh pemerintah Kabupaten Natuna di jalan Puak RT. 01/ RW.07 Kel. Ranai Kec. Bunguran Timur dengan ukuran + 7.350m2 berdasarkan Skep Bupati Natuna No. 288 tahun 2008, serta bantuan dana tahap awal sebesar Rp. 300 juta membuat warga jemaat, khususnya Panitia pembangunan semakin bersemangat, mengenai proses pembangunan yang sudah di depan mata.

Ketua Umum Sinode GPIB Samuel Th. Kaihatu meletakkan batu pertama pembangunan gereja.
Teringat juga ketika kami menjumpai pihak kasir kabupaten yang akan menyerahkan dana bantuan dari pemerintah, karena senangnya amplop coklat juga ingin diberikan sebagai tanda terima kasih.
Namun pihak kasir takut untuk menerimanya, karena telah mendengar ancaman bpk bupati yang akan memutasikan ke pulau apabila anggaran terpotong atau berkurang.
Teringat kalimat bpk kasir; “Pak Pdt tembok pun bisa bersuara dan bisa sampai ke telinga Bapak”. Saya teringat, tentang saat mendekati ketua RT di sekitar tanah gereja, bagaimana cara berjumpa dengan memulai percakapan dan memintanya menjadi tenaga pengawas material bangunan dengan upah yang diberikan sebesar Rp. 500.000.
Selain itu juga meminta warga masyarakat untuk memecahkan batu gunung di lahan gereja, untuk dijadikan batu pondasi, serta batu untuk pengecoran yang setiap kubik dihargai Rp. 80.000,- dan mereka menyetuji. Saat itu, baik ketua RT sebagai pengawas bahan material dan masyarakat pemecah batu, sangat senang dan antusias mengerjakan pekerjaan yang melibatkan mereka.
Sebenarnya melibatkan masyarakat desa dengan memberikan pekerjaan adalah salah satu strategi pendekatan yang saya dan panitia lakukan, untuk menghidari pihak lain yang mencoba mempengaruhi masyarakat setempat untuk menggangu dan membatalkan pembangunan yang nanti akan dilakukan.
Yang lebih menarik lagi adalah saat panitia telah membeli tiang listrik kepunyaan TNI AU, dan memasangnya dari jalan besar sampai menuju ke lokasi gereja, bersama arus listrik.

Bupati Natuna bersama Ibu, menghadiri acara peletakan batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja GPIB “BUKIT KASIH” Ranai – Natuna
Melihat adanya aliran listrik ke lokasi bangunan, masyarakat desa memohon kepada kami untuk dibantu menyambungkan arus listrik ke desa mereka. Permintaan mereka kami coba upayakan, karena menurut mereka telah 30 tahun belum mendapatkan arus listrik, sedangkan menyambungkan arus listri dari mesjid sudah 2 (dua) mereka lakukan, tetapi selalu diputus.
Mesin Genset dompenglah yang selama ini mereka pakai, dari jam 18.00 sore dinyalakan dan jam 23.00 malam dimatikan, karena menyangkut BBM. Akhirnya upaya untuk membantu arus listrik di desa tersebut menjadi kenyataan.
Masyakat desa dapat menikmati arus listrik selama 24 jam dan tidak ada kendala, untuk melakukan aktivitas di rumah dan anak-anak mereka dapat belajar dengan tenang dan bahagia pada malam hari. Dengan listrik masuk ke desa, masyarakat semakin memberi perhatian terhadap pembangunan gereja.
Mereka tidak hanya memberi tenaga untuk mempersiapkan material yang dIbutuhkan, seperti memecahkan batu gunung untuk pondasi dan batu oral untuk pengecoran, tetapi juga menjaga keamanan di sekitar lokasi tanah yang akan di bangun gedung gereja. Teringat Ketua RT berkata kepada saya: “Pak Pendeta saya dan masyarakat sangat berhutang budi, sebab dapat membantu pemasangan aliran listrik PLN yang telah menjadi idaman kami cukup lama”.
Maksudnya adalah selama ini masyarakat desa dekat gereja, belum pernah dipangsangkan tiang listrik oleh pemerintah. Bisa jadi bahwa program untuk memasang tiang listrik dan arus listrik tidak menjadi prioritas oleh pemerintah di sekitar desa saat itu.
Setelah kami memasang tiang listrik menuju ke gereja, maka sangat berpeluang masyarakat dengan mudah mendapatkan akses listrik dan hal itu terjadi. Jadi kehadiran gereja di lingkungan desa puak telah menjadi berkat bagi masyarakat.
Pada hari Kamis, tanggal 21 Mei 2009 bertepatan degan hari Kenaikkan Tuhan Yesus ke sorga, dilaksanakan ibadah dan acara peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya proses pembangunan gedung gereja GPIB “BUKIT KASIH” Ranai Natuna. Saat itu, terlihat masyarakat juga ikut menjaga situasi, selain pihak keamanan.
Demikian juga dengan pemerintah kabupaten Natuna yang dikomandoi Bupati Natuna yang dari awal telah begitu antusias mendampingi dan mendorong terwujudnya pembangunan gereja di
wilayah pemerintahannya. Karena itu, permintaan Bupati Natuna Bapak Drs. Daeng Rusnadi, agar panitia mengundang semua kepala Dinas, Dandim, Kapolres, Danlanal, Danlanud, Kepala kantor Agama, FKUB, tokoh Agama, tokoh masyarakat, termasuk Lurah dan Camat untuk hadir dalam acara yang besar tersebut.
Dalam percakapan dengan pak Daeng, bupati Natuna, ia mengatakan kepada saya (Pdt. Samuel Natar), agar mereka mengakui pembangunan gereja di tanah ini.
Karena setelah peletakan batu pertama oleh Ketua Sinode GPIB Pdt. Samuel Kaihatu, M.Th dan bpk Bupati, selanjutnya beliau memanggil semua kepala Dinas dan para undangan, sehingga satu persatu harus turun ke lubang yang telah dipersiapkan untuk meletakkan batu, sebagai bagian dari acara
proses peletakan batu pertama.
Dalam ibadah pembukan acara peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja GPIB “BUKIT KASIH” Ranai Natuna yang dilayani oleh Ketua Sinode GPIB, Pdt. Samuel Th. Kaihatu lewat pemberitaan Firmannya, berpesan pentingnya membangun kebersamaan untuk menjaga keutuhan persekutuan, serta komitmen untuk memikul tanggung jawab bersama dalam menyelesaikan pembangunan gereja yang menjadi harapan bersama.
Lebih lanjut bpk Pdt mengungkapkan bahwa kehadiran persekutuan dan gereja-Nya di pulau Natuna memberi pemahaman, bahwa Kristus hendak menyatakan kasih dan damai sejahtera-Nya bagi masyarakat, sehingga walau berbeda, tetapi kerukunan tetap terpelihara.
Selain itu, Pdt. Samuel Kaihitu mengingatkan bahwa untuk mewujudkan agar gereja yang dibagun dapat berdiri dengan sempurna, maka dIbutuhkan kerja sama yang kuat seluruh umat, rela berkorban dengan kesungguhan hati, sehingga gereja Tuhan ini dapat cepat selesai dan seluruh jemaat menaikkan pujian syukur dan hormat kepada Allah.
Ibadah pembukaan berjalan dengan baik yang dihadiri seluruh jemaat, termasuk jemaat dari Pos Pelkes “BETLEHEM” Tapau, Maupun jemaat dari Pos Pelkes, “SILOAM” Batubi. Demikian juga para Pendeta dalam wadah BAMAG juga hadir sesuai undangan dalam ibadah maupun dalam acara peletakan batu pertama pembangunan gereja, tentu juga untuk menyemangati panitia dalam mengerjakan tugasnya, serta memberikan support kepada seluruh jemaat dalam mewujudkan program pembangunan.
Memang kerja keras panitia, bersama Presbiter dan seluruh jemaat dalam mempersiapkan peristiwa yang besar tersebut, patut diberikan apresiasi. Mulai dari membersihkan lahan yang dilakukan secara gotong royong, merapikan lokasi untuk mendirikan tenda dan penyusunan kursi untuk pelaksanaan ibadah dan acara lainnya. Demikian juga persiapan untuk berbagai kegiatan lainnya, seperti acara penyambutan melalui sanggar tari, persembahan pujian dan tarian Tor-Tor yang disampaikan oleh Pelkat PKP, juga persembhan pujian dari Pelkat PA dan Pelkat PT, serta mendatangkan Majelis Sinode GPIB dari Jakarta, yaitu Ketua Sinode bpk Pdt. Samuel Th. Kaihatu tidak terlepas dari perhatian panitia dan Majelis jemaat.
Proses acara peletakan batu pertama berjalan dengan sangat baik dan meriah, tentu tidak terlepas dari pertolongan dan campur tangan Tuhan. Apalagi sambutan yang disampaikan bpk Drs. Daeng Rusnadi selaku bupati natuna sangat memberi semangat bagi jemaat GPIB “ BUKIT KASIH” Ranai – Natuna dan telah membuka mata bagi para undangan lainnya. Saya (Pdt. Samuel Natar) mengingat dengan jelas perkataan Pak Daeng dalam sambutannya, mengatakan : “Orang Kristen di Natuna itu sedikit, tetapi peran mereka sangat besar, khususnya menyangkut pembangunan.
Orang Kristen saya ibadaratkan sebuah mobil dan onderdil yang paling kecil adalah pentil mobil. Lalu dengan lantang ia bertanya kepada seluruh yang hadir di acara peletakan batu pertama: Apakah mobil bisa berjalan tanpa pentil mobil? Semua hadirin berteriak tidak!!” Kemudian disambut dengan tepuk tangan. Ia kemudian melanjutkan pidatonya; “Begitu juga perannya orang Kristen, bahwa walaupun mereka tidak banyak, tetapi kehadiran mereka telah memberi kemajuan untuk Ranai dan kabupaten kepulauan Natuna.
Di akhir sambutannya, bpk Bupati berharap bahwa kerukunan antar umat beragama tetap terpelihara dengan baik, saling menjaga dan saling menghormati sebagai sesama anak bangsa.
Dengan terciptanya kerukunan di antara umat beragama, tentu pembangun yang berkelanjutan pasti akan terwujud dengan baik dan akan dirasakan seluruh masyarakat. Sedangkan Ketua Panitia dalam sambutannya mengajak warga jemaat, agar dapat bekerjasama untuk melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan gedung gereja yang menjadi dambaan bersama.
Lebih lanjut bpk Bisara Manurung menjelaskan bahwa tantang yang dihadapi, tidak hanya datangnya dari luar gereja, tetapi juga dari dalam gereja. Namun semuanya dapat diatasi, karena menurutnya: Kita yakin oleh kehendak Tuhan gereja dapat dibangun. Ketua panitia dalam sambutannya mengutip nats Alkitab yang menjadi tema acara peletakan batu pertama.
“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepas di dunia ini akan terlepas di sorga” (Matius 16 : 18 -19).
Demikian juga sambutan Ketua Sinode GPIB Pdt. Samuel Th Kaihatu dalam sambutannya mengajak seluruh jemaat untuk tetap menyerahkan kepada Tuhan proses pembangunan gedung gereja dalam pergumulan bersama.
Sebab untuk membangun sebuah gedung gereja sebenarnya tidaklah mudah, karena tantangannya akan selalu hadir. Namun sebagai pimpinan lembaga GPIB, beliau memberikan keyakinan, bahwa ketika mengerjakan segala sesuatu dengan melibatkan Tuhan, maka semuanya pasti akan terselesaikan dengan baik.
Karena itu, beliau berpesan, ketika bangunan tersebut telah selesai dan dipakai untuk beribadah, haruslah dirawat sebagai aset gereja dan juga tetap setia dalam merawat persekutuan sebagai umat-Nya.
Sebagai Ketua majelis Jemaat, saat itu saya tidak menampilkan diri apalagi memberi sambutan atas moment yang luar biasa tersebut di hadapan Bapak bupti dan seluruh tokoh penting yang hadir.
Demikian juga mengenai acara peletakan batu pertama, saya pun tidak melibatkan diri meletakkan batu pertama, karena saya memberi kesempatan kepada siapapun yang diikutkan dalam proses tersebut, sebagai bentuk pengakuan dan dukungan mereka atas embangunan gereja yang mulai dilaksanakan.
Bagi saya penyampain sambutan Bapak bupati, Ketua Sinode GPIB dan ketua panitia dan peletakan batu pertama sudah cukup mewakili harapan saya untuk terwujudnya impian seluruh jemaat dan sebagai cendra mata yang tidak terlupakan, saat saya akan meninggalkan kota Ranai. Bagi saya saat itu, cukuplah berada di belakang layar dalam acara peletakan batu pertama, karena hal tersebut menjadi awal dimulainya perjuangan membangun dan menyelesaikan gedung gereja yang diharapkan.
TANTANGAN
Setelah ibadah dan acara peletakan pembangunan selesai, keesokan harinya yaitu pada tanggal 22 Mei 2009 sekitar pukul 15.00 Wib terjadi pembahasan tentang letak bangunan gereja yang terlihat miring di bagian belakang yang memang kelihatan tidak bagus, antara Panitia, Majelis dan jemaat. Mereka antara lain : Pent. Bpk Sihar Simamora, Dkn. Ny. Rodia Silalahi, Pent. Sapta Nugraha, Dkn. Ny. Rostauli Hutagaol, Bpk Jhonson Panjaitan, Ketua Panitia bpk Bisara Manurung, Bpk M. Hutajulu, saya (Pdt. Samuel Natar),
Dkn bpk Tonnis Limbong dan Ibu Limbong, bpk Siagian (PLN), sdr. Jimmy Sandri, serta Bpk Agus (orang tua toko HP Romy Jakarta) sebagai kontraktor yang dipercayakan untuk membangun gereja tersebut.
Pembahasan mengenal letak bangunan gereja yang kelihatan miring sangat alot diperdebatkan. Ada yang mengatakan harus diluruskan supaya kelihatan bagus, namun untuk meluruskan sesuai harapan sangat sulit, karena terkendala dengan adanya batu cadas yang agak sulit disingkirkan.
Namun jika tetap dipaksakan untuk mengeser letak bangunan, maka posisi lubang tempat peletakan batu pertama juga akan bergeser dan beberapa orang tidak menyetujui.
Alasan mereka, bahwa jika pembangunan gereja tidak diatas pondasi batu pertama, maka akan menghilangkan makna ketika pembangunan didirikan. Sebab batu pertama diletakkan tentu atas tiga Nama Yang Berkuasa, yaitu Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, artinya adanya nilai sakral yang mendasari proses bangunan yang akan mulai dibangun. Dalam situasi perdebatan tersebut, akhirnya sebagai Ketua Majelis Jemaat (KMJ) saya pun angkat bicara.
Saya mengatakan: “Mungkin dengan kemiringan letak gedung gereja yang akan dibangun ini, adalah simbol atau gambaran hati kita yang sedang miring. Sehingga kelak, ketika kita melihat gereja yang miring ini Tuhan sedang menegur kita dan mengingatkan agar hati kita tidak miring dihadapan-Nya” (mungkin kalimat saya menjadi jelas, karena akhirnya perpecahan jemaat terjadi di saat saya tidak lagi berada di Natuna).
Saya ingat sekali pernyataan saya langsung di tanggapi oleh salah seorang majelis jemaat yaitu Pent, Bpk Sihar Simamora dan Pent. Sabta Nugraha yang mengatakan: “Bpk Pendeta tolong dicabut perkataannya, karena tidak nyaman untuk di dengar” dan didukung beberapa majelis lainnya.
Namun saya katakan tidak bisa lagi ditarik kalimat yang sudah saya ungkapan. Akhirnya posisi letak bangunan yang diperdebatkan diputuskan tetap pada posisi awal dan tidak menggeser seperti kemauan beberapa orang.
Akhirnya pembangunan dimulai dilaksanakan oleh para tukang yang dikomandoi bpk Agus sesuai dengan gambaran gereja yang diharapkan dengan ukaran bangunan 15 X 35 meter dengan tinggi dinding 6 meter dengan penambahan balkon.
Bangunan gedung gereja yang dirancang cukup besar dan biaya 115 juta di tambah 300 juta dari Pemerintah Daerah Natuna tentu tidaklah cukup untuk menyelesaikan bangunan tersebut. Karena itu, beberapa kali panitia mengadakan rapat bersama Majelis Jemaat yang terkadang menimbulkan berbagai perdebatan dan seakan-akan melemahkan panitia pembangunan.
Saya teringat salah seorang Majelis Jemaat mengatakan; “Saya tidak mau membantu pembangunan gereja”, kemudian saya merespon perkataan tersebut. Saya mengatakan: “Jika Ibu tidak ingin membantu, atau jika Ibu menutup keran berkat untuk pembangunan gedung gereja ini, ingat Tuhan akan membuka keran berkat yang lain untuk menyelesaikan rumah-Nya yang dikehendaki-Nya”.
Walaupun kurang mendapat dukungan dari beberapa Presbiter saat itu, namun pembangunan tetap berjalan dengan baik karena keseriusan panitia yang terus memberi perhatian. Teringat bagaimana kerja keras panitia yng tidak mengenal lelah, di mana mereka harus pergi ke Setengar mengambil dan memikul kayu di dalam hutan untuk keperluan bubungan dan rangka atap.
Bahan kayu dapat diperoleh melalui komunikasi dengan Pak Bambang (suami dari Pent. Ibu Indakah) yang adalah warga jemaat Pos Pelkes “BETLEHEM” Tapau yang bertempat tinggal di Setengar. Saat itu yang pergi adalah: Ketua Panitia bpk Bisara Manurung, dr. Viktor Nababan, bpk. Jimmy Sandri, bpk. Kriston Sidabutar, dr. Tigor Sianturi dan bahan kayu tersebut diangkut dengan mengunakan mobil truk AURI. Namun dalam perjalan pulang sempat diikuti mobil polisi, karena pengakutannya dilakukan pada malam hari. Setelah melihat dan mendapatkan penjelasan dari bpk Bisara Manurung, akhirnya mobil truk yang mengangkut bahan kayu dapat melanjutkan perjalan dan sampai di lokasi bangunan sekitar jam 23.00 Wib.
Demikian juga ketika panitia mencari jalan keluar dengan cara melakukan patungan (pinjaman) dari beberapa orang untuk pembelian atap seng multiruff yang akan dipesan di Surabaya dan dana yang diharapkan bisa terkumpul. Mereka yang menalangi dana untuk pembelian atap Seng Multiruff adalah: Bpk Bisara manurung, Bpk Salomo Ginting, dr. Viktor nababan, Pdt. Samuel Natar, pak Acay, dr. Tigor Sianturi. Seng Multiruff akhirnya tiba di pelabuhan Penagi melalui kapal barang dan kemudian diangkut dengan mengunakan mobil truk AURI dan dibawa ke lokasi pembangunan oleh bpk Bisara Manurung.
Dalam proses berjalannya pembangunan, sempat terjadi insiden/ sesuatu yang tidak diinginkan disaat tukang sedang melakukan tugasnya, serta masyarakat setempat yang dipekerjakan untuk memecahkan batu untuk keperluan pengecoran.
Insiden tersebut adalah datangnya sekelompok orang yang entah dari mana dengan mengunakan 2 (dua) truk mendatangi lokasi pembangunan Puak, tujuannya untuk menghentikan proses pembangunan. Saat itu seperti biasanya saya (Pdt. Samuel Natar) pergi ke lokasi pembangunan untuk melihat dan memantau pekerjaan pembangunan.
Dalam perjalan saya memang berpapasan dengan sekelompok orang di atas mobil truk yang jumlahnya cukup banyak, tetapi saya tidak membanyangkan bahwa ternyata mereka baru saja datang ke lokasi pembangunan gedung gereja. Namun yang menarik adalah masyarakat setempat yang dilibatkan untuk mengerjakan memecahkan batu bereaksi dan marah kepada kelompok orang-orang tersebut.
Mereka bahkan dengan parang dan alat-alat seadanya untuk mengusir orang-orang yang ternyata atas perintah Ketua MUI yang saat itu adalah saudara kandung pak Daeng bupati Natuna. Ketua RT yang dipercayakan sebagai pengawas bahan bangunan mengatakan kepada sekelompok orang yang datang itu; “Kalian dari mana, jangan ganggu tempat makan kami”.
Bahkan ia melanjutkan kalimatnya: “Kehadiran gereja dilingkungan kami, telah membawa kemajuan di desa kami. Dulu kami tidak memilih aliran listrik dari PLN dan cukup lama kami hanya pergunakan genset untuk keperluan penerangan di rumah kami, anak-anak kami sulit belajar karena kebutuhan lampu sangat terbatas.
Setelah gedung gereja ini mulai dibangun dan aliran listrik di pasang, kami pun terkena imbasnya, yaitu rumah-rumah kami ikut terpasang aliran listrik karena difasilitasi oleh Bapak pendeta, katanya.
Setibanya saya di lokasi pembangunan, saya mendengarkan cerita mereka dengan seksama apa yang baru saja mereka alami dan bagaimana mereka mengusir para perusuh yang hendak mengganggu pembangun yang sedang berlansung. Akhirnya saya menghubungi ketua panitia untuk juga mendengar peristiwa yang baru saja terjadi, agar ia pun juga mengetahuinya, kemudian kami menghentikan pekerjaan yang sedang masyarakat dan tukang kerjakan.
Membeli ayam dan kebutuhan lainnya untuk dinikmati bersama-sama sebagai ungkapan syukur, karena kebaikkan masyarakat yang tidak terpengaruh oleh kelompok mana pun terhadap pembangunan gedung gereja yang menjadi impian seluruh umat. ***
Pdt. Samuel Natar, M.Th
Pendeta GPIB

Comment