H U K U M
Home / H U K U M / Pdt. Ebser Diperiksa, Pengacara Semuel Uruilal: “Tidak Ada Unsur Pidana, Tidak Ada Pelecehan Seksual”

Pdt. Ebser Diperiksa, Pengacara Semuel Uruilal: “Tidak Ada Unsur Pidana, Tidak Ada Pelecehan Seksual”

KALTARA, gpibwatch.id – Tidak ada bukti-bukti kuat yang memberatkan Pendeta Ebser M. Lalenoh, Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB non aktif melakukan pelecehan terhadap Pendeta Novia. Semua dijelaskan dengan baik oleh Pendeta Ebser dihadapan Penyidik di Kaltara, di Polres Kaltara, Senin (28/09/2026).

Sebagaimana diketahui sebelumnya ada laporan yang menyebutkan telah terjadi dugaan pelecehan yang dilakukan Pendeta Ebser terhadap Pendeta Novia yang menginap bersama anaknya di sebuah hotel di Bulungan, Kaltara.

Pengacara Pendeta Ebser, Semuel Uruilal ST, SH, MH mengatakan, dihadapan Penyidik Pendeta Ebser telah menjelaskan semuanya dengan baik.

”Kita dari Kuasa Hukum, tidak ada unsur pidananya, tidak ada unsur pelecehan seksual didalamnya. Karena lucu kalau disebut ada pelecehan seksual, ada anak Pendeta Novia di kamar hotel. Walaupun masih tidur, anak itu bisa mendengar kalau ada apa-apa. Jadi tak mungkin,” kata Semuel.

Menurut Semuel, kalau Pendeta Novia merasa tertekan atau dilecehkan seharusnya saat itu melakukan tindakan entah itu berteriak atau tindakan lainnya.

Iman dalam Kristus yang Meruntuhkan Tembok Diskriminasi

”Kalau dia (Pendeta Novia) merasa tertekan pada saat itu dia merasa dilecehkan kenapa dia tidak teriak pada saat Pendeta  Ebser keluar dari kamar hotel, seharusnya dia teriak,” tandas Semuel menekankan bahwa tidak ada unsur pidana, tidak ada unsur pelecehan seksual didalamnya.

Lagi kata Semuel,  lucu kalau disebut ada pelecehan seksual, ada anak didalam, ada di kamar, walaupun masih tidur, anak itu bisa mendengar kalau ada apa-apa, tak mungkin. Kalau dia merasa tertekan pada saat itu dia merasa dilecehkan kenapa dia tidak teriak pada saat Pendeta  Ebser keluar seharusnya dia teriak.

”Jadi ada kejanggalan-kejanggalan yang memang sebenarnya lucu. Dia tidak teriak, dan habis itu dia (Pendeta Novia) masih w.a. lagi ke Pendeta-pendeta temannya kasih tahu Pendeta Ebser besok masih akan bertemu lagi dengan Pendeta Ebser,” ungkap Semuel.

Dan lucunya, kata Semuel, kasus sudah sekian lama baru dilaporkan ke Polisi. ”Kalau dia merasa pada saat itu terjadi pelecehan tidak mungkin 13 atau 14 hari baru melaporkan, ini rekayasa.”

Dalam kesempatan usai pemeriksaan polisi, Pendeta Ebser yang didampingi Tim Kuasa Hukum di Bulungan, Andika Montong Layuk telah mengajukan surat ke Polisi meminta tim Forensik Polres  Bulungan memeriksa dan melakukan konfrontir.

Charity Run for Cataract 2026, Berlari untuk Membantu Memulihkan Penglihatan

”Jadi dari forensik kita juga minta diperiksa juga setelah itu kita juga mau konfrontir antara forensik yang diperiksa oleh Polisi bersamaan dengan psikolog itu, dan surat kami juga sudah masuk ke Polres Bulungan dan sudah diterima di Polres Bulungan. Surat kami itu tentang Permohonan untuk Pemeriksaan Psikolog Forensik dan Permohonan untuk Diadakannya Konfrontasi.” Dari sini, kata Semuel, nantinya bisa dilihat kebohongan-kebohongan.

Jadi, kata Semuel mempertanyakan, kalau disebut-sebut ada dugaan pelecehan, itu tidak benar. ”Pelecehannya dimana,” kata Semuel. Apa yang Pendeta Ebser disampaikan Pendeta Ebser kepada Penyidik secara kenyataan itulah yang terjadi.

”Jadi kalau kita dari sisi Lawyer, pelecehan yang mana yang terjadi, karena banyak data-data tidak mendukung samasekali,” ungkap Semuel menyebutkan bahwa Pendeta Novia saat itu dalam kondisi tertekan karena kasus KDRT yang diduga dilakukan suaminya.

”Tindakan kekerasan dalam rumah tangga dengan suaminya yang mengakibatkan dia strees. Dia sudah tiga bahkan empat kali berurusan dengan pemeriksaan psikiater,” tandas Semuel.

Jadi, kata Semuel, kelanjutannya proses hukum setelah pemeriksaan polisi terhadap Pendeta Ebser adalah menunggu proses selanjutnya yang nantinya ada pemeriksaan saksi dan yang lain-lainnya. ”Kami harapkan pihak polisi berlaku profesional walaupun ada informasi ada intervensi dan tekanan macam-macam.”

Roh Kudus yang Mengubah Ketakutan Menjadi Keberanian Bersaksi

”Kita kan berada di Negara Hukum, kalau ada intervensi ke penyidik, saya tidak peduli, Negara kita Negara Hukum, tidak bisa diintervensi,” tandasnya berharap kedepan bisa dilakukan konfrontir dengan kedua belah pihak. ”Konfrontir itu tidak bisa main-main, kita akan menyerang disana. Ini kan masalah harga diri orang lain, harga diri keluarga,” kata Semuel.

Soal Pendeta Ebser yang disebut-sebut melakukan Pelecehan, Semuel tegas mengatakan, tidak mungkin seorang Pendeta Ebser melakukan itu di Bulungan. ”Kalau mau “begitu” di Jakarta banyak. Orang bilang kalau mau nakal di Mangga Besar banyak, tinggal pilih.”

Tapi yang pasti, katanya, ada orang yang ambisius mau menjatuhkan Pendeta Ebser dan orang itu ada di Majelis Sinode. ”Ada. Itu ada diantara Majelis Sinode. Dia sebenarnya pemainnya.” Jadi, katanya, sudah seharusnya GPIB menggelar Persidangan Sinode Istimewa (PSI). Kepengurusan MS sekarang sudah tidak bisa dipertahankan lagi.  Sudah tidak ada lagi kesehatian, sudah tidak ada lagi kebersamaan.

Melihat kondisi MS sekarang, seorang Pendeta Senior yang pernah berada dilingkup Fungsionaris MS mengatakan, ketidakmampuan MS sekarang mengelolah persoalan internal memperlihatkan kelemahan manajerial menata pelayanan.

”MS sekarang ini telah membuat kehancuran,” tutur Pendeta Senior tersebut menyikapi kejadian di Bulungan tersebut.

Pendeta Yvonne Taroreh-Loupatty kepada GPIB Watch mengatakan, MS sekarang anti kritik. Itu bisa dibuktikan dengan terbitnya surat penggilan MS terhadap Pendeta Yvonne berkaitan kritik-kritik Pendeta di portal GPIB Watch dan facebook Majalah Arcus.

Salah satu artikel Pendeta Yvonne yang cukup kuat mengkritisi MS adalah SK MS yang Bikin Blunder 3 Ke Bareskrim Polri. Dalam tulisan tersebut Pendeta Yvonne menyayangkan sikap Fungsionaris MS yang sangat tega menonaktifkan Pendeta Ebser dari posisi Sekretaris Umum tanpa proses Pastoral Pastorum.

“Krisis manajerial, pastoral pastorum tidak jalan, tiba-tiba keluar SK. Ini bagaimana, saya tidak melihat wibawa Rasuli MS. Perlakuan MS terhadap Pendeta Ebser semena-mena. Ini gereja berbadan hukum, gereja besar besar tapi tidak bisa menyelesaikan persoalan kecil,” tandas Pendeta Yvonne.

Menurutnya, apa yang dilakukan MS terhadap Pendeta Ebser merupakan penghakiman yang tidak pada tempatnya yang menggeser Pendeta Ebser dari posisi Sekum menggantikannya dengan Plt. Pendeta Emmawati Baule.

Tidak sampai disitu saja, catatan GPIB Watch, hak-hak Pendeta Ebser yang diterima setiap bulannya dipangkas habis. Sehingga yang diterima saat ini hanya 30 persen dan sebanyak 70 persen dipangkas. “Ini menyalahi aturan Undang-undang Ketenagakerjaan,” ungkap Majelis GPIB Bethel Bandung Penatua Edison Ferdinan Pallo.

Bahkan, katanya, hak-hak yang harus diterima Pendeta-pendeta yang parkir di MS seharusnya tidak dipangkas. Pemotongan yang dilakukan MS terhadap pendeta-pendeta yang “mondok” di MS seharusnya dibayarkan sepenuhnya. /ans

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *