Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / SANG KETOK MAGIC DALAM PELAYANAN: Ketika Kewenangan Mengalahkan Musyawarah

SANG KETOK MAGIC DALAM PELAYANAN: Ketika Kewenangan Mengalahkan Musyawarah

Tantrum Ketok Magic, yaitu ketika kewenangan digunakan untuk membungkam perbedaan pendapat.

Bekasi, gpibwatch.id – Ketok magic dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dan keterampilan tinggi. Tidak semua orang sanggup melakukannya, terutama dalam mereparasi kendaraan yang mengalami kerusakan. Dengan pengalaman dan ketepatan, seorang ahli ketok magic mampu mengembalikan kondisi kendaraan yang rusak menjadi baik kembali.

Namun, dalam tulisan ini, Ketok Magic bukan dimaknai sebagai pekerjaan memperbaiki kendaraan, melainkan sebagai metafora tentang gaya kepemimpinan dalam pelayanan.

Dalam pelayanan gereja, ada kalanya situasi dan kondisi menuntut tindakan serta keputusan yang cepat dan tepat. Persoalannya muncul ketika keputusan lebih bertumpu pada kewenangan jabatan daripada proses musyawarah.

Akibatnya, mereka yang terlibat dalam forum pengambilan keputusan hanya menjadi pelengkap penderita, sekadar barisan yang mengangguk mengikuti apa yang telah diputuskan oleh sang Ketok Magic.

TAHTA, HARTA, DAN HASRAT: KETIKA GODAAN ASUSILA MENGUJI INTEGRITAS

Menganalogikan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) atau pendeta sebagai Ketok Magic dalam menentukan suatu kebijakan, termasuk menerima atau tidak menerima seseorang sebagai pegawai gereja maupun menetapkan program pelayanan, menunjukkan betapa besarnya pengaruh seorang pemimpin.

Dengan kewenangan yang dimiliki, keputusan dapat dijalankan seolah-olah tidak dapat dianulir. Rekan-rekan pelayanan akhirnya memilih tunduk, walaupun dalam hati menyadari bahwa keputusan tersebut belum tentu tepat. Musyawarah pun hanya menjadi formalitas.

Jika pengambilan keputusan dengan gaya Ketok Magic dilakukan dengan menghalalkan segala cara, maka dalam perjalanan pelayanan akan terlihat hasilnya. Keputusan yang diambil secara sepihak, walaupun dibungkus dengan team work yang semu dan kaku, pada akhirnya tidak akan bertahan. Ada yang memilih pergi tanpa pesan dan tanpa jawaban. Tinggallah hembusan angin yang berlalu, tetapi tidak lagi membawa kesejukan.

Merefleksikan kembali tulisan “Ketok Magic” yang pertama, dengan ilustrasi Desa Konoha, menjadi pembelajaran bahwa keputusan yang didasarkan pada kepentingan pribadi, balas jasa, balas budi, atau kedekatan kelompok tidak akan bertahan selamanya. Waktu akan menguji semuanya. Pada akhirnya, keputusan seperti itu dapat merusak tatanan pelayanan dan mencederai semangat presbiterial-sinodal yang kolektif-kolegial.

 

MALING DI RUMAH TUHAN

Karena itu, seorang Ketua Majelis Jemaat atau pendeta harus terlebih dahulu mengenal arena pelayanan secara utuh sebelum mengambil keputusan. Jangan sampai kedekatan pribadi, kelompok, atau kepentingan tertentu menjadi dasar pertimbangan utama.

Keputusan yang lahir dari keberpihakan sempit pada akhirnya hanya akan menjadi cemoohan yang tersembunyi di tengah lingkaran pelayanan, padahal pelayanan sejatinya membutuhkan dialog, dialektika, dan hikmat bersama.

Adakah KMJ atau pendeta yang berjiwa Ketok Magic? Adakah yang berkarakter Ketok Magic? Ataukah Ketok Magic digunakan untuk menghalalkan segala cara dengan berkedok pelayanan?

Pendeta yang menjalankan roda pelayanan dengan gaya Ketok Magic patut menjadi bahan refleksi bersama. Tipe kepemimpinan seperti ini cenderung tidak mau mendengar masukan, bersifat egosentris, mudah tersinggung, sulit mengendalikan emosi, merasa paling benar, bahkan lebih senang berkonfrontasi daripada berdialog.

Dalam situasi tertentu dapat muncul apa yang secara metaforis disebut sebagai “tantrum Ketok Magic”, yaitu ketika kewenangan digunakan untuk membungkam perbedaan pendapat.

Bangsa Ini Sedang Mencari Yusuf: Koruptor Menolak Tobat

Pelayanan gereja membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berani mengambil keputusan, tetapi juga rendah hati untuk mendengar, berdialog, dan menerima koreksi. Jabatan memang memberikan kewenangan untuk memimpin, tetapi kewenangan tidak boleh mengalahkan musyawarah, apalagi menggeser semangat presbiterial-sinodal yang kolektif-kolegial. Sebab, kepemimpinan yang sehat bukan dibangun atas dasar kekuasaan semata, melainkan atas hikmat, keteladanan, dan semangat kebersamaan.

Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang selalu mengetuk keputusan sendiri, melainkan mereka yang mampu mengajak orang lain membangun keputusan bersama.

/JP