GPIB membutuhkan pemimpin yang berani mengambil keputusan yang tepat, tegas dan konsisten,,,
Jakarta, gpibwatch.id – Ketegasan dalam memimpin sebuah lembaga sinodal yang besar seperti GPIB merupakan sebuah keharusan. Lembaga ini tidak boleh ragu dalam mengambil keputusan ketika keadaan memang menuntutnya.
Jika ya, katakan ya; jika tidak, katakan tidak. Kepemimpinan yang tegas bukanlah bentuk kekuasaan, melainkan wujud tanggung jawab terhadap amanat pelayanan yang dipercayakan Tuhan.
Berbagai persoalan pelayanan perlu disikapi dengan kewibawaan rasuli yang berakar pada Firman Tuhan. Dengan demikian, setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Apa yang dijalankan oleh Majelis Sinode GPIB merupakan bagian dari tugas pokok dan panggilan pelayanan yang diemban demi kepentingan gereja secara keseluruhan.
Sebelas anggota Majelis Sinode GPIB dengan tugas dan fungsi masing-masing memikul tanggung jawab kepemimpinan yang besar. Karakter kepemimpinan tersebut perlu terus diasah agar semakin mumpuni dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang mengalami kebuntuan atau kemandekan.
Kepemimpinan yang kuat tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari keberanian mengambil keputusan yang diperlukan pada waktu yang tepat.
Kepemimpinan sinodal perlu menunjukkan konsistensi sehingga keputusan yang telah diambil tidak terkesan maju-mundur. Ketika sebuah keputusan telah melalui proses yang benar, sesuai Tata Gereja dan mekanisme yang berlaku, diperlukan keberanian untuk melaksanakannya secara tegas dan konsisten.
Dalam berbagai aspek pelayanan, termasuk permutasian pendeta, ketegasan menjadi penting agar kewibawaan lembaga sinodal tetap terjaga dan dihormati.
Ketegasan memang tidak selalu menyenangkan semua pihak. Akan selalu ada perbedaan pandangan dan kepentingan. Namun, demi kemajuan GPIB menuju usia 100 tahun, dibutuhkan para pemimpin yang berani meletakkan fondasi kepemimpinan yang kuat.
Fondasi tersebut tidak hanya berupa kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga karakter yang mampu menghadirkan solusi, membangun budaya saling menghormati, saling menghargai, serta mempraktikkan kerendahan hati dalam pelayanan.
GPIB membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu membaca situasi, tetapi juga berani menentukan arah. Sebab pada akhirnya, gereja yang besar memerlukan kepemimpinan yang mampu memadukan kebijaksanaan, ketegasan, integritas, dan kasih demi terwujudnya pelayanan yang semakin relevan, tertib, dan berwibawa di tengah perubahan zaman.
“Ketegasan bukanlah lawan dari kasih. Dalam kepemimpinan gerejawi, ketegasan yang berlandaskan Firman Tuhan justru menjadi wujud kasih yang bertanggung jawab demi kebaikan bersama.”
JP – Catatan Reflektif
