Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / Budaya Hormat atau Budaya Bungkam? Ketika Koreksi Berhadapan dengan Hierarki

Budaya Hormat atau Budaya Bungkam? Ketika Koreksi Berhadapan dengan Hierarki

Jakarta, gpibwatch.id — Pada kenyataannya, banyak pendeta junior tidak berani menegur pendeta senior ketika melihat penyimpangan atau kesalahan yang nyata.

Bukan karena kebenaran tidak diketahui, tetapi karena budaya hierarki yang begitu kuat membuat banyak orang memilih diam daripada mempertaruhkan posisi, relasi, atau masa depan pelayanannya.

Kepemimpinan Sinodal: Maju Mundur dalam Pengambilan Keputusan?

Akibatnya, kesetiaan kepada jabatan sering kali lebih dihargai daripada kesetiaan kepada kebenaran. Kritik dianggap pemberontakan, pertanyaan dianggap ancaman, dan teguran dianggap ketidaksopanan. Padahal, Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa seseorang kebal terhadap koreksi hanya karena memiliki jabatan yang lebih tinggi.— Pdt. Samuel Pasaribu

Tulisan di atas menarik untuk dicermati lebih lanjut. Dalam kenyataannya, penghormatan kepada senior dalam dunia pelayanan memang merupakan sesuatu yang nyata dan tidak mudah dilepaskan.

Penghormatan tersebut sering kali terus melekat sepanjang perjalanan pelayanan dan baru mulai berkurang kadarnya ketika seorang senior memasuki masa emeritus.

Info Terkini, Pdt. Adrian Mamahit Dikabarkan Alih Tugas ke GPIB Paulus Binjai

Karena itu, ketika dikatakan bahwa pendeta junior diam, pertanyaannya adalah: apakah mereka benar-benar diam, atau sesungguhnya sedang menyimpan pergulatan dalam batinnya? Hati seseorang tidak mudah diketahui.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kesenioran dalam bidang teologi memegang peranan penting. Sejak masa vikaris, masa pembimbingan, pentahbisan, hingga menjadi pendeta, terdapat relasi yang membentuk rasa hormat, simpati, empati, dan penghargaan kepada mereka yang pernah membimbing.

Soal Mutasi, Siang Ini KMJ Pdt. Maria Menghadap MS, Semoga Ada Kabar Baik

Semua pengalaman itu sering menyatu dalam ingatan dan menimbulkan perasaan bahwa keberhasilan seseorang terjadi “karena dia”. Padahal, dalam perspektif iman, semua itu terjadi karena Tuhan yang memakai setiap orang sebagai alat-Nya. Pada akhirnya, baik senior maupun junior sama-sama adalah hamba Tuhan.

Namun dalam perspektif manusiawi, rasa terima kasih yang berkembang menjadi utang budi sering menimbulkan keseganan, bahkan ketakutan. Tidak sedikit pendeta junior yang merasa sulit mengoreksi kebijakan senior, terlebih jika senior tersebut memiliki posisi strategis sebagai pengambil keputusan atau pihak yang berpengaruh terhadap penempatan pelayanan. Dalam situasi seperti itu, diam sering kali dipilih sebagai jalan yang dianggap paling aman

.

Meski demikian, tidak adil jika semua pendeta senior dianggap kaku atau anti kritik. Banyak senior yang tetap terbuka terhadap diskusi, mau membimbing, mengajar, dan menjelaskan dasar-dasar teologi secara baik.

Mereka menjadi sumber hikmat dan pengalaman yang berharga bagi generasi berikutnya. Namun harus diakui pula bahwa dalam kehidupan yang semakin individualistis, figur senior yang rendah hati, terbuka, dan mudah diajak berdialog terkadang tidak mudah ditemukan.

Di sisi lain, ego manusia dapat muncul pada siapa saja, termasuk dalam pelayanan. Apakah gambaran ini sepenuhnya benar? Tentu setiap orang dapat menilainya dari pengalaman dan pengamatannya masing-masing.

Di era informasi yang berkembang sangat cepat, pengetahuan teologi maupun berbagai disiplin ilmu lainnya dapat diakses secara luas dan instan.

Para pendeta muda yang baru menyelesaikan studi sering kali memiliki akses terhadap berbagai pendekatan teologi kontemporer, hasil penelitian terbaru, serta perkembangan pemikiran global yang terus bergerak.

Mereka mampu membandingkan teologi tradisional, teologi kontekstual, hingga berbagai kemungkinan perkembangan teologi di masa depan. Dalam beberapa hal, kemampuan adaptasi mereka terhadap perkembangan zaman bahkan dapat lebih cepat dibanding sebagian senior.

Karena itu, pernyataan “pendeta junior diam dan pendeta senior menolak koreksi” perlu dilihat secara kontekstual. Dalam bidang teologi dan pelayanan, keduanya pada dasarnya dapat berjalan bersama (synhodos), saling melengkapi melalui pengalaman dan pembaruan wawasan.

Persoalan biasanya menjadi lebih kompleks ketika memasuki wilayah organisasi, struktur kelembagaan, kebijakan pelayanan, relasi kewenangan, atau berbagai persoalan internal yang sensitif.

Dalam situasi seperti itu, tidak sedikit pendeta junior yang memilih tenang dan tidak mengambil risiko, meskipun sesungguhnya memiliki pandangan atau masukan yang layak didengar.

Pada saat yang sama, harus diakui bahwa ada pula sebagian senior yang merasa cukup dengan pengalaman, jabatan, atau strata yang dimiliki sehingga kurang terbuka terhadap kritik dan koreksi.

Dialog yang sehat terkadang digantikan oleh sikap defensif. Ketika ruang pertukaran gagasan menyempit, pendeta junior yang sebenarnya memiliki pemikiran kritis dan kemampuan analisis yang baik akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak mengerti, melainkan karena menilai bahwa berbicara tidak selalu menghasilkan ruang dialog yang setara.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang junior yang diam atau senior yang menolak koreksi. Persoalannya adalah bagaimana membangun budaya pelayanan yang memungkinkan kebenaran, kerendahan hati, pengalaman, dan pembaruan berjalan bersama.

Sebab dalam pelayanan gerejawi, tidak seorang pun memiliki seluruh kebenaran, tidak seorang pun terlalu senior untuk belajar, dan tidak seorang pun terlalu junior untuk didengar.

JP – Catatan Reflektif