Salah melangkah, Pemimpin Perubahan akan menjadi Perubahan Pemimpin! Benarkah ini akan terjadi? Benarkah akan ada Persidangan Sinode Istimewa (PSI) untuk mewujudkan pergantian?
JAKARTA, gpibwatch.id – Dalam perjalanan dengan commuter line dari Cikini menuju Bekasi, terlintas dalam pikiran untuk berefleksi kembali atas perkataan teman sejawat para jurnalis dalam perjumpaan coffee meeting di salah satu coffee shop di Menteng, Jakarta.
Kami berdiskusi tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat membawa perubahan, angin segar, angin keharuman, wangi yang dapat dihirup oleh semua orang dalam pelayanan, sehingga pelayanan dapat berjalan dalam koridor aturan serta norma etika yang berlaku dan tidak terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan.
Pertanyaannya, apakah kita bisa menjadi Pemimpin Perubahan dalam situasi yang genting, situasi yang membutuhkan nalar dan logika yang tepat dengan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan?
Pemimpin yang dapat membawa cakrawala berpikir yang tepat, pemimpin yang dapat memutuskan seadil-adilnya, win-win solution, pemimpin yang dapat membedakan dan memilah setiap kasus, dan pemimpin yang serius menanggapi setiap persoalan terhadap rahasia kepejabatan dan rahasia pelayanan, serta sanggup meng-handle setiap persoalan sebelum menyebar bagaikan bintang-bintang di langit.
Sudahkah kita menjadi Pemimpin Perubahan dalam lingkup Sinodal ataupun lingkup lainnya?
Bagaimana dengan Cerita Tanjung Selor? Sudahkah kita menjadi pemimpin perubahan yang bisa meletakkan persoalan dalam wadah yang tepat, dalam lingkup kerahasiaan yang tepat, sehingga tidak bermetastasis ke mana-mana? Masih adakah kerahasiaan yang dijaga dengan etika moral yang sesungguhnya?
Pemimpin Perubahan dalam pelayanan adalah pemimpin yang sanggup berdiri secara netral, sanggup melakukan mediasi secara internal dan meletakkan persoalan pada porsinya, impartial, demi kepentingan organisasi dan lembaga untuk kemajuan pelayanan ke depan yang lebih baik. Bukan saling menyalahkan satu dengan yang lain, melainkan mencari solusi yang tepat dan benar berdasarkan prinsip Ilahi.
Bagaimana kalau sebaliknya terjadi? Bagaimana jika pemimpin tidak dapat menyelesaikan masalah, kemudian masalah mengambang dengan wacana dan kesimpulan sendiri? Setiap orang punya persepsi tersendiri terhadap setiap putusan yang telah diambil.
Ketidakpastian dan ketidakpuasan akan muncul, dan ini dapat menjadi kegawatdaruratan dan kegagalan dalam pelayanan ketika seorang pemimpin gagal membaca situasi dan keadaan secara tepat, kemudian terburu-buru mengarahkan dan menyimpulkan masalah yang terjadi.
Dan Pemimpin Perubahan akan berubah secara total menjadi Perubahan Pemimpin jika salah urus, salah asuh, salah manage kelembagaan, salah mengambil tindakan dan keputusan yang memang diakibatkan oleh ketidaktahuan dalam menyimpulkan.
Perubahan Pemimpin, akankah terjadi? Akankah ketidakpuasan ini berlanjut? Akankah narasi-narasi yang disuarakan dalam kesunyian kelompok layak didengar dalam tujuan pergantian? Akankah dan akankah?
Kembali ke Cerita Tanjung Selor, yang hanya sebagian kecil dari cerita-cerita yang berseliweran, yang sebenarnya harus dijaga kerahasiaannya demi harkat dan martabat lembaga.
Mengapa cerita ini terbuka dan menjadi konsumsi publik dan jemaat? Adakah yang salah? Di sinilah peranan pemimpin yang kolektif kolegial, yang sun hodos.
Salah melangkah, Pemimpin Perubahan akan menjadi Perubahan Pemimpin! Benarkah ini akan terjadi? Benarkah akan ada Persidangan Sinode Istimewa (PSI) untuk mewujudkan pergantian?
Dan sebagai jemaat kita bertanya, adakah Pemimpin Perubahan di MS GPIB XXII? Benarkah misi itu bisa terwujud atau hanya permainan kata-kata? Kita menanti aksi kerja nyata dalam pelayanan dan kelembagaan, ataukah PST Lampung 2027 dalam wujud Persidangan Sinode Istimewa akan memainkan perannya dan memberikan jawabannya?
Dan jika terjadi pergantian MS GPIB XXII, apakah mengikuti paket, atau hanya sebagian, atau hanya personal yang diganti? Semua tergantung pada peserta persidangan. Kita menanti dan menunggu! /JP

Comment