Marturia
Home / Marturia / Menghormati Tuhan dengan Akal Budi

Menghormati Tuhan dengan Akal Budi

Takut yang Mendidik dan Menumbuhkan Pengetahuan

Surabaya, gpibwatch.id — Pertanyaan penting yang perlu diajukan pada Amsal 1:7 adalah: mengapa takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan? Apakah dengan kita takut akan Tuhan, maka pengetahuan akan datang begitu saja tanpa usaha keras? Jika demikian, bukankah takut akan Tuhan menjadi semacam jimat, abrakadabra, bim salabim — dan segalanya terjadi begitu saja?

Namun tentu bukan itu maksud dari ayat ini. “Takut akan Tuhan” bukanlah rasa takut yang menakutkan, seperti penjahat terhadap penegak hukum, atau rasa gentar terhadap orang jahat yang bisa merugikan kita. Yang dimaksud adalah rasa hormat yang mendalam kepada Tuhan — seperti seorang anak yang menghormati orangtuanya.

Ketika kita sungguh menghormati orangtua kita, kita akan berusaha menjaga nama baik mereka dengan setia, baik ketika mereka hadir maupun tidak. Kita akan berpegang pada ajaran dan nasihat mereka, bahkan secara kreatif berupaya membuat mereka bangga karena memiliki anak yang menghormati mereka.

Demikian pula dengan Tuhan. Orang yang menghormati Tuhan akan berusaha melakukan kehendak-Nya dalam segala situasi, mempertimbangkan setiap keputusan hidupnya di hadapan Tuhan. Karena itulah, ia akan memperlengkapi diri dengan pengetahuan — agar mampu menimbang segala sesuatu secara kritis, analitis, dan sistematis, serta bertindak bijaksana.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi
Seperti dikatakan John Calvin, “Manusia tidak akan pernah mengenal dirinya dengan benar sebelum ia lebih dahulu memandang wajah Allah.” Dengan kata lain, pengetahuan sejati selalu berawal dari rasa hormat dan takjub di hadapan Tuhan — sebab di sanalah segala hikmat menemukan sumbernya.

Maka, “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan” bukanlah sesuatu yang magis, melainkan panggilan untuk belajar dengan tekun sebagai wujud hormat kepada Tuhan. Kita menghormati Tuhan dengan cara menggunakan akal budi yang Ia karuniakan, sebab Tuhan Yesus pun mengajar kita untuk mengasihi dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi.

Kesadaran ini membuat kita mengerti bahwa sebagai umat Tuhan, kita memiliki potensi besar untuk mengembangkan kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Pengetahuan yang kita miliki dapat kita baktikan untuk meneliti, mengurai, dan menemukan jalan keluar demi kebaikan bersama.

Karena itu, marilah kita menghormati Tuhan dengan memperlengkapi diri dengan pengetahuan, agar kita menjadi umat Tuhan yang bijak, relevan dengan zaman, dan mampu menjawab kebutuhan hidup bersama. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / DR/Jp

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version