“Kabarnya Kuasa Hukum Pendeta Ebser akan melaporkan MS ke Bareskrim Polri. Artinya, semua Fungsionaris MS harus dinonaktifan jika saja laporan Polisi sudah disampaikan, sama seperti Pendeta Ebser yang dinonaktifkan karena ada laporan ke Polisi.”
JAKARTA, gpibwatch.id – Siang itu, Selasa, gawai berdering seakan memanggil. Terlihat dilayar nama seorang pendeta senior, Pendeta Dra. Yvonne D. Taroreh – Loupatty M.Min. Tak membiarkan berdering Hp saya angkat sembari bergerak keluar ruangan Auto2000 Bogor yang kala itu saya berada disana untuk suatu keperluan.
Pembicaraan pun dimulai dengan mengulas narasi di laman GPIB Watch sebelumnya: “Kalau orang mengalami traumatis, dapat dipastikan ia tidak akan mau bertemu dengan orang yang membuatnya trauma.
Narasi tersebut merupakan kalimat pembuka dalam artikel dengan judul “SK MS yang Bikin Blunder (2): Ada Apa Dengan MS, Terbuka Peluang PSI”. Pendeta Yvonne menyayangkan manuver Majelis Sinode (MS) melengserkan Pendeta Ebser M. Lalenoh dari posisi Sekretaris Umum tanpa mendalami peristiwa sebenarnya.
“Jangan melihat dengan telinga, jangan mendengar dengan mata,” kata Pendeta Yvonne lagi sembari mempertanyakan: “Kenapa Yahum GPIB hanya memberikan pembelaan kepada Pendeta Novia tetapi tidak ada pembelaan dari Yahum GPIB kepada Pendeta Ebser yang notabene sama-sama pegawai GPIB,” tandasnya.
Kepemimpinan MS dalam menangani persoalan-persoalan yang ada seharusnya dominan dilakukan kedalam bukan mengumbar persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan. “Untuk apa ada MS. Tugas-tugas internal selesaikanlah kedalam sebaik mungkin bukan mencari solusi keluar,” tuturnya menyebut nama Andi Widjajanto, Politisi PDI-Perjuangan, Ex, Gubernur Lemhannas.
Sebagaimana diketahui, MS baru-baru ini menggelar pertemuan dengan Andi Widjajanto yang kabarnya meminta saran-saran dalam penyelesaian persoalan Pendeta Ebser dengan Pendeta Novia.
Lagi kata Pendeta Yvonne yang juga komposer ini mengatakan: “Jangan melihat dengan telinga, jangan mendengar dengan mata” dalam penyelesaian kasus pendeta-pendeta di GPIB. Pelibatan Andi Widjajanto dalam penyelesaian persoalan internal GPIB semakin memperlihatkan kualitas kepemimpinan MS yang jauh panggang dari api menyelesaikan persoalan.
“Krisis manajerial, pastoral pastorum tidak jalan, tiba-tiba keluar SK. Ini bagaimana, saya tidak melihat wibawa Rasuli MS. Perlakuan MS terhadap Pendeta Ebser semena-mena. Ini gereja berbadan hukum, gereja besar besar tapi tidak bisa menyelesaikan persoalan kecil,” tandas Pendeta Yvonne.
Menurutnya, apa yang dilakukan MS terhadap Pendeta Ebser merupakan penghakiman yang tidak pada tempatnya yang menggeser Pendeta Ebser dari posisi Sekum menggantikannya dengan Plt. Pendeta Emmawati Baule.
Dalam mengambil keputusan, pastikan apa yang diutarakan benar-benar dilihat ada pembuktian yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, bukan karena desakan atau hanya perasaan atau gossip.
“Secara filosofis, ini adalah kritik terhadap kebiasaan kita menilai seseorang berdasarkan gosip, opini, hoaks atau cerita orang lain dari apa yang dilihat, didengar atau dia saksikan dengan matanya sendiri,” katanya lagi.
Kebenaran, tutur Pendeta Yvonne, bisa kalah karena semua orang sepakat walaupun tidak benar, tetapi kebenaran itu tidak pernah salah karena cepat atau lambat kebenaan Tuhan itu akan mencari jalannya sendiri.
“Mari kita renungkan bersama, apakah kehadiran kita sebagai pemimpin Kristiani itu menjadi Leader atau Dealer? Menurutnya, kalua leader membangun dan memuridkan, memperlengkapi orang kudus bagi pembangunan tubuh Kristus. Sedangkan dealer mencari keuntungan, menggunakan orang untuk kepentingan materi dan tujuan pribadi
Menyikapi pertemuan Andi Widjajanto dengan MS, seorang Pendeta senior, pria, menelepon dan berbicara panjang lebar mengkritisi kepemimpinan MS yang terlalu melankolis menyelesaikan persoalan.
Menurutnya, gereja harus hadir menjadi terang bagi sesama. Tapi kenyataannya sekarang gereja tidak mampu menjadi Imam memutuskan apa yang menjadi bagiannya.
“Majelis Sinode itu adalah Imam di GPIB yang seharusnya bisa menyelesaikan kasus-kasus Pendetanya. Kenapa melibatkan orang luar yang bukan Pendeta,” tandasnya mengisahkan ketika Menteri Agama Nasaruddin Umar mencium tangan Presiden Prabowo Subianto yang mendapat protes keras netizen. “Yang ada seharusnya Presiden Prabowo yang mencium tangan Ulama bukan sebaliknya,” tuturnya.
Menurutnya, pendeta-pendeta itu adalah Imam yang harus dihormati dan bisa memberi solusi kepada umatnya bukan malah sebaliknya warga jemaat yang ditarik-tarik kedalam persoalan yang membuat situasi semakin blunder dan memperlihatkan sisi lemah Pendeta.
“Dimana wibawa Imam Fungsionaris Majelis Sinode,” tuturnya menyebutkan bahwa perwujudan Persidangan Sinode Istimewa (PSI) sangat bisa dipastikan akan melengserkan semua personel Majelis Sinode untuk melakukan pemilihan kembali personel MS.
Tak lama berselang, seorang pendeta melakukan kontak. Kabar menarik disampaikan pendeta yang menjabat KMJ di salah satu jemaat GPIB. Ia menyampaikan bahwa Kuasa Hukum Pendeta Ebser melapor ke Bareskrim Polri terkait dugaan perlakukan semena-mena Majelis Sinode.
“Pendeta Ebser bersama Kuasa Hukumnya melaporkan dugaan perlakukan tidak adil terhadap dirinya kaitannya dengan penerbitan SK penonaktifan dirinya sebagai Sekretaris Umum MS,” tandas Pendeta tersebut menekankan bahwa itu semua merupakan serangan balik Pendeta Ebser.
Kabarnya, kata dia, kuasa hukum Pendeta Ebser akan melaporkan MS ke Bareskrim Polri. Artinya, semua Fungsionaris MS harus dinonaktifan jika saja laporan Polisi sudah disampaikan, sama seperti Pendeta Ebser yang dinonaktifkan karena ada laporan ke Polisi. Adapun Kuasa Hukum yang akan mendampingi Pendeta Ebser adalah tiga Pengacara handal yakni Pengacara Sheila Salomo, Pengacara Samuel Uruilal dan Pengacara Stenly Pattiasina.
“Pendeta Nitis dan Penatua Ivan harus dinonaktifkan juga jika ada laporan Polisi dan secara kolektif kolegial seharusnya semua Fungsionaris MS dinonaktifkan,” ungkapnya.
Mencari tahu bagaimana progres penanganan masalah Pendeta Ebser dan Pendeta Novia, GPIB Watch melakukan konfirmasi kepada Fungsionaris Majelis Sinode antara lain kepada Ketua Umum MS Pendeta Nitis Harsono dan Ketua III MS Pendeta Sarah Hengkesa.
Konfirmasi dilakukan dengan beberapa pertanyaan. Namun hingga berita ini diturunkan tidak ada jawaban yang diterima dari pertanyaan yang disampaikan. Adapun bunyi pertanyaan tersebut adalah Sudah sejauhmana penyelesaian yang dilakukan Novia MS? Kabarnya sudah masuk ke ranah hukum Kepolisian, bisa tahu progresnya?
Hasil investigasi GPIB Watch, kisruh persoalan yang membuat blunder jemaat dikabarkan Ketua Umum MS Pendeta Nitis sempat melakukan pertemuan dengan Pendeta Ebser yang didampingi istri Dessy Tanod di sebuah tempat, restoran, di Jakarta.
Dalam pertemuan itu, Pendeta Nitis menangis histeris sembari memeluk erat Pendeta Ebser yang menanyakan bagaimana penyelesaian peristiwa yang terjadi. “Sabar bro,” kata Pendeta Nitis kepada koleganya Pendeta Ebser di restoran itu.
Mengkonfirmasi persoalan yang ada, GPIB Watch menanyakan peristiwa tersebut kepada Pendeta Novia dan koleganya Pendeta Marsel Kolimon. Namun hingga berita ini tayang tidak memberikan jawaban.
Akhir kata, untuk kita semuanya, Love GPIB.
Penatua Frans S. Pong, GPIB Watch

Comment