Opini PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / MENANTI GEREJA MENJADI AGEN PERUBAHAN: DIPOLES, DIPERCANTIK, TETAPI TAK BERUBAH

MENANTI GEREJA MENJADI AGEN PERUBAHAN: DIPOLES, DIPERCANTIK, TETAPI TAK BERUBAH

Perubahan ini tak memerlukan operasi plastik, jika pada kenyataannya masih terkungkung dalam tarian lama yang sulit berubah…..

JAKARTA, gpibwatch.id – Mampukah kita menjadi agen perubahan dalam gereja kita? Mampukah kita menjadi teladan dalam pelayanan antar denominasi? Pelayanan kita tidak boleh hanya bermuara pada kepentingan internal, tetapi juga harus berdampak bagi masyarakat luas.

Kegiatan saling menolong dan membantu mereka yang terdampak bencana harus tetap dijalankan sesuai dengan segala kemampuan yang kita miliki.

Agen perubahan seperti apakah yang harus kita tampilkan? Berbagai kegiatan melalui program sinodal masih terlihat monoton, bahkan terkesan hanya copy-paste dari program-program sebelumnya. Belum banyak terlihat terobosan yang menarik, seakan-akan enggan menghadirkan kegiatan atau rencana baru, atau mungkin masih terdapat berbagai hambatan yang belum mampu diatasi.

Selama ini gereja terlihat berjalan dalam pola yang sama. Program kerja dan anggaran dari tahun ke tahun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Yang terlihat hanyalah melanjutkan apa yang sudah ada, kemudian dilanjutkan kembali, sehingga terkesan tidak ada yang diubah.

ASAP TIDAK PERNAH BERBOHONG: Pelecehan Seksual, Kuasa, dan Martabat Pelayanan

Setiap memasuki Bulan Program, teori program selalu dikhotbahkan. Namun, ketika melihat program-program yang disusun, nomenklatur bidang tidak banyak berubah. Yang tampak sering kali hanya dipoles atau dipercantik, kata demi kata, atau singkatan dari bidang tersebut diuraikan sehingga seakan-akan ada perubahan. Perubahan yang mana?

Bulan Program tetap sama dari tahun ke tahun. Isi program juga tidak banyak berubah. Mungkin hanya pemakaian anggaran yang dikurangi, tetapi secara keseluruhan tetap sama.

Mau berubah hanya di khotbah. Semua hadir saling menyapa, namun isi perubahan berjalan di tempat. Menunggu dan menunggu, sedangkan tak kala kita terbangun, Kopi Pahit sudah lepas landas.

Pertanyaannya, bagaimana dengan gereja kita, GPIB? Apakah sudah menjadi agen perubahan? Apakah sudah berubah dalam tata layan yang lebih baik, ataukah masih berjalan di tempat dengan berbagai persoalan internal yang mungkin semakin bertambah?

Setiap jemaat tentu memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda dalam melihat konteks perubahan dan berubah. Tinggal sekarang, apakah kita ingin lepas landas atau tetap bertahan dengan pola pikir lama? Ide-ide cemerlang untuk membawa perubahan yang hakiki sangat diperlukan dengan tetap berfondasi pada aturan, tata gereja, dan legalitas yang berlaku di gereja.

SK MS yang Bikin Blunder (1): Terkesan Terburu-Buru dan Dipaksakan

Perubahan ini tak memerlukan operasi plastik. Tak perlu dipersolek, diperindah, dipoles, atau dipercantik jika pada kenyataannya masih terkungkung dalam tarian lama yang sulit berubah.

Mungkin langkahnya perlahan, penuh batu sandungan. Namun, suka atau tidak suka, tarian lama itu akan terus tergerus oleh era modern, era transformasi teknologi yang lajunya tak lagi dapat ditahan. Media massa dan media sosial bahkan sering kali bergerak lebih cepat daripada informasi resmi.

Tinggal menanti, apakah gereja ini mau berubah atau justru tertinggal dalam pola pikir dan gagasan. Menanti perubahan, atau tetap dalam Kopi Tubruk yang sederhana, namun untuk bergerak pun masih enggan.

Karena itu, diperlukan seorang inovator yang mampu membawa ide, gagasan, metode, dan rencana baru agar gereja dapat menunjukkan perubahan dalam tatanan pelayanannya. Gereja perlu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan tata gereja, legalitas, dan nilai-nilai yang selama ini menjadi landasannya.

Maukah kita menjadi agen perubahan? Maukah gereja menghadirkan inovasi dengan memberdayakan seluruh potensi jemaat yang memiliki keterampilan, kemampuan bernalar, serta daya dukung sumber daya bagi kemajuan pelayanan?

DIAM BUKAN BERARTI LEMAH: Belajar Kepemimpinan dari Bung Nitis

Kita menanti gereja yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga berani mewujudkannya dalam karya dan pelayanan nyata . /JP