Dihadapan Tuhan, Ketua Umum dan Petugas Kebersihan Gereja berdiri di tanah yang sama — debu yang ditiup waktu. Mereka yang dulu memanggilmu “Kak” dengan manis, bisa saja menjadi orang pertama yang menutup pintu saat engkau jatuh.
Bekasi, gpibwatch.id – Di ruang-ruang sidang itu, doa bergema, tapi niat kadang berbelok. Pesta suksesi Majelis Sinode GPIB – XXII kembali bergulir — dan seperti biasa, semua ingin tampak rohani, padahal sebagian sedang bertransaksi dengan hal-hal yang fana.
Yang satu membawa Alkitab, yang lain membawa strategi. Yang satu mengucap “Tuhan pimpin kami”, tapi pikirannya sibuk menghitung suara dan posisi.
Lalu kita bertanya dalam hati — apakah pelayanan masih tentang Tuhan, atau hanya tentang siapa yang duduk di kursi paling empuk di depan?
Dunia pelayanan membuai, memabukkan seperti anggur kemenangan. Tapi cepat atau lambat, anggur itu akan menjadi cuka yang membuat lidah getir.
Nama kita akan hilang dari daftar kepanitiaan, foto kita akan diturunkan dari dinding kantor sinode, dan hanya kebaikan yang tulus yang akan tetap hidup di hati umat.
Yang muda akan menua, yang kuat akan melemah, yang populer akan dilupakan. Dan mereka yang dulu kau anggap musuh bisa jadi kelak menuntunmu ke kursi roda pelayananmu yang terakhir.
Sementara mereka yang dulu memanggilmu “Kak” dengan manis, bisa saja menjadi orang pertama yang menutup pintu saat engkau jatuh.
Jika kita sudah hidup dalam Jiwa Tuhan, maka semua topeng kehebatan akan luruh. Tidak ada orang yang lebih hebat, dan tidak ada yang lebih hina. Yang membedakan hanyalah siapa yang mampu menaklukkan egonya di hadapan Tuhan.
Panggung sinode GPIB, hanya sementara. Kursi-kursi itu hanya kayu yang akan lapuk. Tapi jiwa yang jujur, pelayan yang rendah hati, dan lidah yang tidak berdusta — itulah emas rohani yang tidak bisa dibeli oleh suara mayoritas.
Mengejar jabatan tidak salah, asal sadar bahwa setiap jabatan hanyalah alat, bukan tahta. Karena di hadapan Tuhan, Ketua Umum dan petugas kebersihan gereja berdiri di tanah yang sama — debu yang ditiup waktu.
Jadi, siapa sebenarnya yang lebih hebat? Tidak ada. Yang ada hanyalah mereka yang berani menundukkan kepala di tengah gemuruh tepuk tangan, dan berbisik lirih – Tuhan, jangan biarkan aku mabuk oleh panggung yang bukan milik-Mu.
Kopi memang hitam dan tetap hitam. Ia tidak berganti warna, tidak berkamuflase, tidak berpura-pura. Ia tetap menunjukkan jati diri dan integritas dan dia tidak tipu-tipu untuk merealisasikan bahwa dia hebat. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
