Mereka tahu bahwa kemenangan sejati lahir dari ketaatan, bukan dari kalkulasi politik pelayanan. Di situlah rahasianya, bahwa kejujuran rasa lebih mulia daripada kemenangan yang direkayasa.
Jakarta, gpibwatch.id – Tatkala dua petinggi bertarung di satu arena—entah di lingkup pelayanan sekuler atau di panggilan suci—selalu ada yang menang, dan selalu ada yang merasa kalah.
Pertanyaannya bukan lagi siapa juaranya, melainkan bagaimana kita memaknai setiap duel itu. Setiap insan memiliki persepsinya sendiri, dan perbedaan itu wajar.
Namun, ada juga yang enggan mengakui bahwa rivalitas ternyata juga hidup di ruang pelayanan. Di dunia sekuler, duel dianggap lumrah, namun ketika terjadi di dunia rohani, tiba-tiba semua pura-pura lupa bahwa manusia tetap membawa naluri yang sama ‘ingin diakui, ingin menang.’
Yosua dan Holyfield mungkin tak mengenal panggung sinode, tapi mereka mengerti apa arti taat. Mereka menang bukan karena lobi, tapi karena iman. Mereka bertarung bukan untuk jabatan, tapi untuk kebenaran. Mereka tahu bahwa kemenangan sejati lahir dari ketaatan, bukan dari kalkulasi politik pelayanan.
Kini, di ruang-ruang yang katanya suci, banyak tangan terlipat tapi hati berdebat. Doa diucapkan, tapi arah pandang bukan lagi ke langit, melainkan ke kursi. Dan ketika tepuk tangan terdengar, kita lupa bertanya: Apakah ini kemenangan iman, atau hanya pengesahan ambisi?
Dan kopi hitam itu kembali menyengat sukma—seperti tamparan kecil bagi mereka yang hanya mengandalkan kekuatan fana. Kopi tak butuh gula untuk membuktikan dirinya nikmat, ia jujur dengan pahitnya.
Aroma kopimu, terutama yang berkualitas, selalu membawa kenikmatan yang tak bisa dibeli oleh jabatan, gelar, atau kemenangan palsu. Mungkin di situlah rahasianya, bahwa kejujuran rasa lebih mulia daripada kemenangan yang direkayasa. Disadur dan dikembangkan dari Renungan Malam SBU GPIB, 23 Oktober 2025, ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP
