GPIB tidak boleh jadi kandang steril yang hanya memelihara suara-suara jinak, dan mereka yang hanya numpang duduk tanpa kontribusi tidak lain hanyalah parasit, dan parasit layak dibuang…
Jakarta, gpibwatch.id – Tangan boleh retak, boleh patah, tapi pikiran tetap berdaulat. Ia justru makin liar, menyalurkan satire yang pedas, menusuk, dan siap membakar selimut rohani palsu yang dipakai untuk menutupi kerak ambisi.
Tangan patah tetap mengetik. Narasi yang lahir bukan sekadar cerita manis, melainkan gigitan yang menyakitkan, cukup untuk membuat mereka yang malas berpikir migrain berkepanjangan.
Patah itu bukan alasan berhenti. Justru patah adalah alasan untuk menghajar lebih keras, karena perubahan bukan pilihan, perubahan itu keharusan. Siapa yang alergi dengan perubahan, biarlah tenggelam dalam kubangan kenyamanan. Dunia tidak sedang menunggu, dunia sedang menertawakan.
GPIB tidak boleh jadi kandang steril yang hanya memelihara suara-suara jinak. Gereja ini harus jadi arena gagasan, tempat perbedaan diadu, diuji, dan dibuktikan. Mereka yang hanya numpang duduk tanpa kontribusi tidak lain hanyalah parasit, dan parasit memang layak dibuang.
Tangan patah ini akan terus maju, membongkar rekam jejak, menguliti jam terbang, menyeret sopan santun plastik ke tengah panggung. Kursi panas yang mereka incar bukan kursi mulia, itu kursi berkerikil, kursi yang bisa berubah jadi bisul raksasa, big furunkel bagi siapa pun yang duduk tanpa kapasitas.
Walau tulang rapuh, nalar tetap tajam. Ia diberi tonikum satire, vitamin kritik, stimulan logika. Maka tulisan akan terus diproduksi, satire akan terus meluncur, dan kontestasi akan terus dipaksa telanjang di depan publik.
Lalu, di sudut meja, secangkir kopi menunggu. Asapnya menari pelan di antara jari yang tak lagi sempurna, tapi masih sanggup menggenggam pena. Karena meski tangan patah, logika tetap membakar, dan kopi tetap diseduh untuk menulis perlawanan. Ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
