Gereja tidak boleh terus-menerus hidup dalam bayang-bayang “defisit” di setiap persidangan, dan selama ini ekonomi gereja sering mati suri — terlalu sibuk dalam laporan, tapi sepi dalam tindakan….
Makassar, gpibwatch.id – Steven Tunas dan Semuel Uruilal kini menjadi dua nama yang hangat diperbincangkan menjelang pemilihan Majelis Sinode GPIB–XXII. Keduanya digadang-gadang akan menakhodai Bidang V — bidang yang menjadi jantung pengelolaan perekonomian GPIB. Dari tangan merekalah jemaat menanti aroma baru: aroma reformasi ekonomi gereja yang mampu membawa kehidupan pelayanan ke arah yang lebih sehat dan produktif.
Bidang V bukan sekadar tempat berhitung dan menyalurkan dana. Ia adalah ruang strategis di mana gereja belajar mengelola aset, daya dan dana serta pengembangan ekonomi warga jemaat dengan visi pelayanan yang berkelanjutan. Sebab, ekonomi gereja yang tertata baik bukanlah soal kemewahan, melainkan soal kesaksian, bahwa beriman pun butuh tata kelola yang cerdas.
Mereka yang duduk di kursi ini harus berpikir jauh ke depan — mencipta ide-ide kreatif, melahirkan inovasi yang menghasilkan profit dan manfaat. Gereja tidak boleh terus-menerus hidup dalam bayang-bayang “defisit” di setiap persidangan. Dari bidang inilah kepercayaan jemaat dapat pulih, ketika pengelolaan dilakukan secara efisien, transparan, dan jujur.
Tak bisa disangkal, selama ini ekonomi gereja sering mati suri — terlalu sibuk dalam laporan, tapi sepi dalam tindakan. Dana kerap terserap tanpa arah, aset belum optimal, dan semangat inovasi terjebak dalam rutinitas birokratis.
Karena itu, pemilihan Ketua IV kali ini bukan sekadar soal siapa yang duduk, tapi siapa yang membangunkan bidang yang lama tertidur dan menjadikannya kembali hidup, produktif, dan berkarakter.
Dalam dua hari ke depan, jemaat akan mengetahui siapa yang akan menjadi “Menteri Koordinator Perekonomian GPIB” — sosok yang diharapkan membawa perubahan nyata dalam pengelolaan daya, dana, dan aset gereja.
Dan seperti halnya kopi, selama aromanya tetap berkualitas, ia akan melahirkan kenikmatan yang syahdu dan menyukma. Cangkir kopi tak akan retak — selama diseduh dan dikelola dengan gentle, bukan dengan ambisi. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
