Wibawa sejati tidak lahir dari panggung, tepuk tangan, atau kamera. Ia lahir dari kesadaran diri dan kerendahan hati — dua hal yang kini semakin langka di lembar pencalonan…
Makassar, gpibwatch.id – Sidang para pelayan sering penuh dengan suara, debat, dan orasi panjang. Tapi di tengah semua itu, sepertinya Tuhan sendiri tidak diundang ke meja sidang.
Setiap jemaat di negeri ini adalah potret Indonesia Mini — beragam suku, budaya, dan karakter. Sebuah keragaman yang seharusnya menjadi kekuatan, tetapi kerap berubah menjadi arena pertarungan gaya, gengsi, dan posisi.
Gaya bicara sering dijadikan ukuran kuasa, yang keras dianggap tegas, yang lembut dianggap lemah. Ironisnya, suara yang paling tinggi kadang justru datang dari mereka yang paling dangkal pikirannya.
Penelitian dari University of California menunjukkan, orang yang rendah hati, tenang, dan mampu mendengarkan cenderung lebih dihormati daripada mereka yang sibuk menonjolkan prestasi pribadi. Sayangnya, penelitian itu mungkin belum sempat dibacakan di ruang sidang — terlalu banyak yang antre ingin bicara tentang “pelayanan dan integritas”, tapi sedikit yang benar-benar melakukannya.
Dalam sidang ini, kita melihat dua tipe kehadiran. Yang satu berteriak lantang, memukul meja, menuntut perhatian — seolah Tuhan pun bisa dilobi. Yang satu lagi berbicara pelan, tapi setiap katanya membuat orang lain terdiam dan berpikir. Yang pertama punya volume, yang kedua punya bobot. Namun, dalam politik rohani, volume sering lebih cepat dipilih daripada bobot.
Wibawa sejati tidak lahir dari panggung, tepuk tangan, atau kamera. Ia lahir dari kesadaran diri dan kerendahan hati — dua hal yang kini semakin langka di lembar pencalonan.
Pada akhirnya, wibawa bukan sesuatu yang diumumkan lewat slide atau video profil, tapi sesuatu yang dirasakan orang lain saat menyaksikan cara kita memperlakukan sesama pelayan.
Dan seperti secangkir kopi pahit yang tetap jujur pada rasanya, wibawa hanya hadir pada mereka yang berani melayani tanpa topeng, berkomitmen tanpa kalkulasi, dan konsisten tanpa panggung. Sisanya hanyalah aroma semu — harum sesaat, tapi cepat hilang begitu sidang selesai. Refleksi Kritis tentang Wibawa dan Integritas Pelayanan. Makassar Pung Carita-JP
