Kita pun pernah menjadi “sang pengkhianat” dalam bentuk yang berbeda — saat janji, komitmen, dan kasih persaudaraan tak lagi sejalan. Menang di kursi struktural, tapi kalah di ujian moral….
CIKARANG, gpibwatch.id — Lika-liku drama kehidupan kadang tak jauh berbeda dari sinetron: penuh tangis, peran, dan kejutan. Ada yang menampilkan ketulusan, ada pula yang memainkan peran antagonis—yang tak peduli pada luka orang lain. Semua tampak indah di panggung besar, sampai tiba saat pengumuman “bintang terfavorit” di pesta suksesi rohani.
Namun kisah ini bukan tentang sinetron, melainkan tentang nurani — tentang mereka yang tergoda menjadi pengkhianat terhadap janji dan panggilan pelayanan.
Kadang, sebelum sebuah kontestasi, terjalin kesepakatan diam-diam: janji untuk saling memberi ruang dan saling menopang. Tapi ketika kepentingan mulai berdesing dan ambisi berteriak, banyak hal indah berubah arah. Janji yang manis bisa larut, komitmen bisa kabur, bahkan persahabatan bisa goyah.
Ada yang akhirnya “menikung” di jalan yang pernah disepakati bersama, bukan karena benci, tapi karena gagal menaklukkan egonya sendiri. Ia menang di kursi struktural, tapi kalah di ujian moral. Dan di situlah lahir luka — bukan karena kalah, tapi karena dikhianati.
Layakkah seorang pelayan Tuhan berbuat demikian? Apakah pelayanan masih bermakna jika diwarnai ambisi pribadi? Janji kecil yang dikhianati sering kali menyingkap karakter besar yang sesungguhnya.
Kopi pahit tak pernah berbohong — ia memang pahit. Begitu pula persahabatan, akan terasa sepahit mahoni, mahoni sindoma ketika kejujuran digadaikan demi posisi.
Narasi ini bukan untuk mengadili siapa pun, tapi mengajak kita bercermin. Jangan-jangan, tanpa sadar, kita pun pernah menjadi “sang pengkhianat” dalam bentuk yang berbeda — saat janji, komitmen, dan kasih persaudaraan tak lagi sejalan. Refleksi di Balik Pesta Suksesi Majelis Sinode-XXII. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
