“PEREMPUAN PEMIMPIN” siapa takut dan memang sudah waktunya. Jika ini terjadi akan menjadi catatan sejarah pelayanan di GPIB yang tak terlupakan,,,
Jakarta, gpibwatch.id – Konteks seorang perempuan menjadi Ketua Umum Majelis Sinode GPIB tentunya ada pro-kontra, ada tarik-menarik, ada like-dislike, namun renungan pagi SBU – GPIB, 2 September 2025 menceritakan tentang perempuan pemimpin, ini membuka mata kita semua, yang artinya tak ada perbedaan di mata Tuhan, semua punya kesempatan yang sama jika Tuhan berkenan,
Budaya Patriarki yang masih kita pegang sampai saat ini di dalam Pemilihan Majelis Sinode GPIB perlu ditinjau kembali, dimana masih ada anggapan di sebagian jemaat bahwa pemimpin utama lebih cocok dipegang laki-laki.
Paradigma ini sudah tenggelam alias usang dengan perkembangan era disrupsi digital yang maju begitu pesat, era saat ini mau menunjukkan bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki sudah setara tak ada yang lebih unggul diantara yang lain.
Kesetaran ini mau menampakkan bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama di Pesta Suksesi Majelis Sinode GPIB – XXII di Persidangan Sinode Raya, yang akan berlangsung di Makassar, Bulan Oktober – 2025.
GPIB sebagai gereja yang terbuka sangat mendukung kesetaraan tanpa diskriminasi gender, dan memberi legitimasi teologis bagi perempuan untuk memimpin, dan mayoritas penggerak pelayanan di jemaat adalah perempuan.
GPIB bukan hanya berkhotbah tentang kesetaraan, tetapi juga merealisasikan dalam wujud paling nyata, dimana memberikan ruang dan peluang serta kesempatan kepada perempuan sebagai pemimpin tertinggi di kapal besar yang berjumlah 354 jemaat.wow amazing.
Para kontestan khususnya perempuan yang maju sebagai kandidat, punya latar belakang pendidikan yang mumpuni, rata – rata S2, yang kualitanya dapat dipertanggungjawabkan, baik dalam hal intelektual, spritual maupun kepemimpinan.
Tata Gereja GPIB tidak melarang perempuan untuk menjadi Ketua Umum Majelis Sinode sepanjang memenuhi syarat kepemimpinan dan mendapat dukungan dari para utusan jemaat dan sinode via persidangan sinode raya.
Disituasi sosial yang komples dalam kehidupan bergereja-kehidupan berjemaat, GPIB membutuhkan pemimpin yang mampu mengayomi, mendengar dan berdialog, dan karakter perempuan mempunyai value yang lebih empati, komunikatif dan inklusif.
Momentum Oktober-2025 adalah waktu yang tepat bagi perempuan diberikan kesempatan untuk menjadi Ketua Umum MS.GPIB-XXII, karena perempuan juga memiliki martabat, hak dan tanggungjawab yang sama untuk berdiri di garis depan, memimpin bahtera GPIB di dua per tiga provinsi yang ada di Indonesia dan jika ini terjadi akan menjadi catatan sejarah pelayanan di GPIB yang tak terlupakan,.
Seorang perempuan yang memimpin harus membuktikan dirinya lebih dari sekadar simbol perubahan, symbol of change, dan juga memperlihatkan kerampilan, kemahiran dalam menavigasi politik internal sinode yang tidak sederhana. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
